Categories
Septihan

PROLOG | 180 DERAJAT

PROLOG

“Udah berapa kali Papa sama Mama bilang sama kamu Raskal. Jangan berkelahi di sekolah! Kamu bikin ulah terus tapi nggak bisa bertanggung jawab! Papa sama Mama malu dipanggil terus sama guru BK kamu! Apa kamu gak malu Raskal?!”

Pemuda dengan seragam sekolah putih abu-abu sedikit terkena noda merah darah yang sedang duduk tegap di sofa dengan pandangan sedikit merunduk ke karpet itu sedang disidang kedua orangtuanya.

Ia memegang lalu menggerak-gerakkan rahangnya yang terasa sakit. Keadaannya saat ini babak belur, namun tidak terlalu parah. Cowok itu masih ingat kemenangannya saat ia berhasil mengalahkan lawannya. Tentu saja kalau ia tidak menang, harga dirinya akan jatuh.

Bara, ayahnya menghela napas. Begitu juga dengan Vina, ibunya. Ia hanya bisa diam melihat kemarahan suaminya.

“Udah kelas 12 tapi kelakuan kamu masih kaya anak kecil,” ucap ayahnya kontan membuat Raskal menatapnya. Pria itu sedang memunggunginya. Ia masih lengkap dengan pakaian kantornya. Berjas hitam eksekutif. Sebelah tangannya berada di dinding untuk menyangga tubuhnya dan yang satunya lagi dipinggang.

“Kamu juga Vina. Terlalu memanjakan dia.” Kini Bara menyalahkan Vina yang ada didekatnya.

“Aku? Kamu juga Bara! Kamu terlalu sibuk sama kerjaan kamu. Seharusnya kamu juga bisa mengawasi Raskal,” kata Vina balik menyalahkan dan kini Raskal muak setengah mati mendengarnya.

“Udah selesai kan? Raskal capek. Mau tidur,” kata Raskal ketus dengan bangkit sambil menepuk kedua celananya yang membuat Bara berbalik badan dan melihat putra sulungnya itu.

“Liat. Dia jadi gak tau namanya sopan santun begitu,” ucap Bara pada ibunya yang membuat Raskal mengeraskan rahangnya.

Nakal, pemberontak, dan keras kepala. 3 sifat yang dimiliki Raskal. 3 sifat paling dominan yang juga ia miliki dulu sewaktu remaja seperti Raskal. Mungkin ini yang disebut karma. Karma untuknya.

Kerjaan Raskal kalau tidak menghambur-hamburkan uang dan pergi ke tempat malam untuk dugem pasti main billiard dan berkelahi. Tabiat itu benar-benar tidak bisa dirubah dari Raskal.

“Dompet kamu mana?”

“Dompet? Tapi Pa….

“Dompet kamu, Raskal.”

Raskal akhirnya merogoh kantung celananya dan memberikan dompetnya.

“Kunci mobil. Kartu kredit. Handphone.

“Jangan handphone Raskal Pa.”

“Mau Papa sita motor kamu juga?”

Raskal mendengus lalu memberikan semua yang di mau ayahnya.

“Udah?” tanya Raskal.

Bara hanya mengangguk. Namun jelas sorot marah di matanya belum padam. Raskal bisa saja dipukul layaknya hukuman yang diberikan ayahnya sejak dulu karena ia anak laki-laki tertua namun kali ini tidak begitu. Hanya fasilitasnya yang disita. Raskal akhirnya memalingkan wajah, berdecak dan akhirnya berjalan untuk menuju kamarnya dengan berat hati.

****

Pada hari, jam, menit dan detik yang sama. Seorang cewek berambut cokelat buatan dan berwajah oval itu sedang tidur terlentang di atas kasurnya. Matanya yang beriris hitam menatap pada langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Kepalanya kini menoleh ke sebelah kanan dan melihat vape ada di dekat bantalnya. Kini tangannya terulur untuk mengambil vape itu dan langsung menghisapnya. Ia mengembuskannya sehingga mendadak kamarnya dipenuhi asap.

DOR DOR DOR!

“Teresa buka pintunya!” Suara teriakan dibarengi dengan gedoran pintu itu terdengar kesal dan semakin menjadi-jadi.

“Teresa buka pintunya!” Suara gedoran itu semakin kuat dan keras. Siapa pun yang mendengarnya pasti tau kalau gedoran itu berasal dari orang yang sedang marah.

“Pasti kamu kan yang mecahin kaca di kamar Papa sama nyuri kartu kredit di laci kamar?”

Teresa melirik pintu kamarnya. Pintu itu sudah sering kali diganti karena sering dirusak Theo, ayahnya. Tentu saja akibat gedoran-gedoran dan dobrakan pintu dari ayahnya.

“Teresa Papa tau kamu di dalem!”

“BLABLABLABLA TERESA GAK DENGER!” balas Teresa lebih kencang dengan menutup kedua telinganya namun ia jelas mendengarnya. Ia hanya mengucapkan itu. Sejatinya ia memang ingin membuat ayahnya marah.

“Teresa! Buka pintunya!”

“Males!”

“Teresa!”

Gedoran pintu itu masih saja berlanjut. Teresa mengambil sebuah bantal jantung berwarna merah di sampingnya dan mengambil gunting di meja dekat kasurnya lalu mengguntingnya. Suara gedoran kini berubah menjadi suara tinjuan yang membuat Teresa menghaburkan seluruh isi dari bantal yang ia pegang. Kini seluruh kamarnya penuh dengan bulu-bulu berwarna putih.

Sekarang suara gemerincing kunci mulai terdengar yang membuat Teresa menoleh pada pintu dan Theo sudah berdiri di sana bersama Thea, ibunya. Keduanya menatap dirinya dengan pandangan yang tidak bisa Teresa artikan.

“Mama,” kata Teresa.

“Sini kamu!”

Teresa terkejut dengan suara bentakkan Theo itu dan dengan gerak enggan ia mendekati Theo. Ia tidak peduli kalau kena pukul, yang penting ia bisa melihat orang yang ia sayang.

Theo geleng-geleng kepala dengan sikap anaknya dan penampilannya yang berantakan. Baju sekolahnya pun masih melekat di badannya. Kamarnya berubah menjadi berantakan padahal tadi pagi Theo sempat melihat kamar ini masih rapi. Dirapikan oleh pembantu rumah tangganya.

“Kamu itu Teresa!”

Teresa meniup poninya yang panjang itu ke atas dan mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja lalu merangsak keluar dari dalam kamar dan berlari turun melewati tangga melingkar rumahnya.

“Teresa! Teresa!! teriakan Theo terdengar sangat marah sambil mengejarnya namun Teresa sudah keburu dibawah. Cewek itu masuk ke dalam mobilnya. Menghidupkan mesin. Suara gedoran kaca mobil oleh Theo kini membuat Teresa langsung menoleh dan menancap gas lalu pergi dari rumahnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *