Categories
Septihan

PROLOG | Septihan

PROLOG | Septihan

“Hai, boleh ngomong sebentar?”

Murid laki-laki itu memandangnya datar.

“Ngomong aja.”

“Gue suka sama lo Septian. Lo mau gak jadi pacar gue?”

XII IPA 5 heboh dengan pernyataan cinta seorang siswi jurusan Bahasa di depan kelas mereka. Kepalanya merunduk menunggu jawaban seorang lelaki tinggi putih yang masih berdiri di depannya dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana abu-abunya. Laki-laki berwajah dingin, berambut hitam itu memandangnya dengan sorot tajam.

Jihan meneguk ludahnya. Marahkah cowok itu?

Atau malah senang? Jihan tidak tahu. Ekspresinya sulit dibaca.

“Lo nembak gue?” tanya Septian.

“Iya,” Jihan menjawab gugup.

“Kenapa?”

“Karena gue suka sama lo.”

“Tapi gue gak suka lo,” balas Septian.

Hancur. Jihan merasa dunianya runtuh saat itu juga.

“Jadi lo nolak gue?”

“Ya. Gue nolak lo.”

“Untuk kesekian kalinya,” lanjut Septian.

“Septian! Tapi kenapa?” Jihan menarik ujung seragam cowok berjakun itu yang keluar dari celana. Wajahnya memerah padam perpaduan antara rasa malu, sedih dan kecewa.

“Belajar dulu yang bener. Dapet peringkat satu baru bisa jadi pacar gue. Itu syaratnya.” Setelah mengatakannya Septian lalu benar-benar pergi meninggalkan Jihan yang masih terpaku.

Peringkat satu?

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *