Categories
Septihan

2. SELAMAT BERJUANG JIHAN

2. SELAMAT BERJUANG JIHAN

“Jangan sampai orang yang berjuang untukmu malah memilih pergi dan tak peduli lagi padamu. Sebab kamu akan merasa kehilangan setelah dia pergi.”

“Septian! Yakin nih gak mau? Ntar nyesel tauuk.”

Jihan mengejar di belakang tubuh Septian. Ia sedikit berlari karena susah mengimbangi langkah kaki Septian yang sudah jauh di depannya.

“Septian! Septian! Kapan ngajak jalan?!”

“Capek tau ngejar-ngejar terus. Sekali-kali lo kek yang ngejar-ngejar gue. Pasti gue terima deh. Gak pake mikir langsung gue terima detik itu juga!”

Itu sih mau lo, batin Septian.

“Septian! Kapan sih gue bisa jadi pacar lo? Masa gue mulu sih yang nyari lo? Lonya kapan?!”

“Oohhhh gue tau nih! Pasti lo nolongin gue dari Marcus karena lo suka sama gue kaannnnnn??!” tanya Jihan dengan nada menyebalkan di telinga Septian namun cowok itu sama sekali tidak ada niat untuk menjawab. Ia tetap berjalan dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana abu-abunya.

Jihan Halana. Hidup Septian yang semula tenang-tenang saja jadi terganggu karena cewek bersuara centil ini. Suaranya mirip seperti suara anak kecil. Di SMA Ganesha, Jihan adalah sosok cewek cantik yang selalu keterbelakang dari segi pelajaran. Cewek ini tidak terlalu pintar namun cukup terkenal di sekolahan.

Kadang-kadang Septian heran mengapa Jihan bersikeras untuk menjadi pacarnya padahal Septian dan Jihan tidak pernah dekat sebelumnya. Mungkin karena Jihan sering memergokinya sendirian di kelas kosong yang ada di lantai atas.

“Septian ngomong dongggg. Kok diem aja sih? Berasa ngomong sama patung tau! Udah gitu patungnya bisa jalan lagi!” keluh Jihan karena sejak tadi bermonolog terus.

“Septian! Kata orang gak boleh cuekin orang yang lagi ngomong sama lo. Gak baik tau! Dosa! Pamali!”

Jihan berhenti mendadak karena cowok yang sedang berjalan tenang di depannya berhenti dan berbalik badan.

“Nah gitu kek daritadi. Senyum dong! Biar makin ganteng,” Jihan nyengir lebar di depan Septian karena cowok itu sudah mau meresponsnya.

“Nih kaya gini!”

“Segitunya lo biar bisa jadi pacar gue?” tanya Septian. Bibirnya menipis, marah.

“Gue udah nolak lo berkali-kali. Di mana rasa malu lo? Urat malu lo putus?” Septian bertanya dengan kedua alis tertekuk. Heran bercampur kesal karena perempuan ini tidak pernah mengerti maksudnya.

“Kenapa sih? Emangnya gue gak boleh ya suka sama lo?”

“Bukannya gitu.”

“Terus?”

“Pokoknya jangan suka sama gue,” jawab Septian singkat, jelas dan padat. Dibumbui dengan nada pedas.

“Lo bukan Tuhan. Lo gak berhak nentuin perasaan orang,” ucap Jihan.

“Gue suka sama lo emangnya salah?”

“Kalau suka sama gue gak usah pake cara kaya gini. Lo pikir gue nolongin lo dari Marcus karena gue suka sama lo? Kalau gitu selamat karena lo salah. Gue nolong lo dari Marcus karena gue kasian sama lo.”

Septian mendekati Jihan. “Kalau lo suka sama gue. Jauhin gue.”

Jihan tercenung mendengarnya.

“Gak mau!” Jihan tetap bersikukuh.

Septian menatap gemas perempuan yang ada di depannya ini. Bagaimana caranya agar Jihan sadar bahwa Septian tidak mau menerimanya?

“Kapan sih lo suka sama gue Septian?”

“Gue gak suka sama lo Jihan. Berapa kali harus gue bilang ke lo?”

“Jangan ngikutin gue lagi,” tambah Septian membuat Jihan melotot, sebal. Ia berbalik badan. Melanjutkan langkah kakinya yang tertunda tadi. Jihan meremas sisi jarit roknya kuat-kuat—gregetan pada Septian.

“AWAS AJA YAAAAA!!! BESOK-BESOK, LO YANG BAKALAN BILANG SUKA SAMA GUE!”

****

XII Bahasa 2 sedang sangat bernyawa karena jam-jam istirahat belum selesai. Jihan sudah tiba di dalam kelas, tidak lagi mengejar Septian. Cowok itu sudah pergi sejak tadi. Jihan juga tidak tahu Septian kemana. Cowok itu menyebalkan namun Jihan tetap menyukainya. Dengan mencak-mencak perempuan itu masuk ke dalam ke kelas.

Di dalam kelasnya ada tipe-tipe anak yang suka pilih-pilih. Cowok-cowok nakal duduk di belakang—berkumpul jadi satu entah itu mengerjai temannya atau bermain PS dengan laptop lalu kaum-kaum borjuis berkumpul membicarakan masalah tas, baju, dan juga barang-barang olshop hingga ke tahap yang branded. Terakhir ada anak-anak pintar yang sengaja belajar untuk ulangan di jam pelajaran ke depan. Mereka rela mengorbankan jam istirahat atau menolak ke kantin demi belajar supaya mendapat nilai bagus nanti.

“Jihan! Lo kemana aja sih?!” Febbi, salah satu teman Jihan memperhatikan Jihan yang sedang duduk di samping Kejora.

“Kejora! Bantuin gue dong biar deket sama Septian. Suruh gebetan lo si Galaksi kek. Atau minta nomor telponnya Septian kek!” Jihan mengadu pada Kejora.

“Sumpah ya! Gue harus dapetin tuh cowok sombong!”

“Duh, Han gue gak mau. Lo aja sana berurusan sama Galaksi,” jawab Kejora, temannya. Sedikit terganggu mendengar nama Galaksi.

“Galaksi tuh bisa mikir macem-macem kalau gue minta nomor telponnya Septian. Lo kan udah ada LINE nya Septian. Lo chat aja lewat situ.”

“Masalahnya setiap gue chat gak pernah dibales!”

“Itu sih nasib lo Han.” Lala yang duduk di samping Febbi menghadap pada Kejora ikut berbicara. “Lo kan udah gue kasih LINE-nya Septian. Emang masih kurang? Gue dikasi sama pacar gue Jordan tuh waktu itu.”

“IYA KURANG! Sampe sekarang aja chat gue gak pernah dibales!”

“Padahal gue spam di chat dia tapi cuman di read!”

“Udah-udah lo jangan marah-marah kaya gitu dong. Lo tau kan Septian juga kerja jagain distronya. Mungkin dia sibuk.”

“Bener tuh kata Lala, Han,” ucap Kejora. “Mending lo belajar nih. Bentar lagi ulangan pelajarannya Pak Maman.” Kejora mendorong buku paket di meja untuk Jihan.

“Tapi gue masih kesel sama tuh cowok. Untung aja gue masih suka sama dia!” Jihan masih berapi-api.

“Han lo kaya nggak kenal Septian aja. Septian kan emang gitu dari dulu Han. Cuek sama cewek. Jangankan sama cewek. Sama temennya sendiri aja gitu. Lo gak inget emangnya? Thalita temen sekelasnya yang sering sama Fifi itu dulu juga pernah nembak dia tapi Septian nolak dia kan? Gue rasa Septian emang belum pengin nyari cewek kali,” ungkap Lala.

“Lo gak bakalan mati kalau jomblo jadi tenang aja.”

“Apa jangan-jangan Septian tuh gay kali ya makanya gak suka sama cewek?” celetuk Febbi.

Semuanya terdiam dan menoleh cepat pada Febbi.

“IH FEBBI! SEPTIAN GUE GAK MUNGKIN GAY!” teriakan Jihan membuat seisi kelas menoleh padanya. Jihan langsung terdiam dan meminta maaf karena suaranya membuat yang lainnya penasaran.

“Lo tuh kalau teriak dikontrol dong Han. Kasian kan Septian kalau ada gosip gak bener di sekolah gara-gara lo?” Lala mengambil bukunya.

“Mana mungkinlah Septian gay! Ganteng gitu.”

“Tapi banyak loh cowok-cowok ganteng tapi aslinya gay!” ucap Febbi.

“Ngomong-ngomong tentang Septian. Gue pernah tuh liat dia di rumah sakit seminggu yang lalu gak tau ngapain sama Nenek-Nenek. Neneknya kali ya? Gue gak tau. Gak sempet nyapa juga karena gak berani. Tapi mereka cuman berdua,” ujar Febbi.

“Gue yakin banget itu Septian soalnya Septian kalau keluar kan selalu rapi, barang-barang yang dia pake kaya sepatu putih sama jam pokoknya semua sama. Nggak mungkin gue salah liat.”

“Loh? Lo semua gak tau? Septian itu kan emang tinggal sama Kakek Neneknya. Dia udah gak punya orangtua sejak kecil. Makanya anak-anak Ravispa gak ada yang suka nyinggung-nyinggung masalah orangtua. Takut Septian keinget sama orangtuanya,” ujar Lala.

“Ah sumpah lo La? Tau dari mana si?” Jihan yang semula masih kesal jadi penasaran.

“Gue tau sendiri. Waktu itu diajakin lancong ke rumahnya Septian sama Thalita mau ngambil baju distro. Lo kan tau Thalita itu temen SMP gue. Rumahnya Septian ya ampun besar banget! Tapi keliatannya sepi sih. Gue liat Neneknya naik kursi roda. Jadi Thalita cerita ke gue kalau Septian emang dari kecil gak pernah tau orangtuanya.”

“Kenapa?” tanya Jihan. Mendadak tenggorokannya serat.

“Orangtuanya Septian udah meninggal. Ayahnya dibunuh. Lo tau siapa yang bunuh?” tanya Lala membuat Jihan menggeleng pucat.

“Adik kandung Ayahnya Septian sendiri.”

****

“Ibu kan sudah sering bilang sama kamu Septian. Jangan ikut Ravispa! Mau jadi apa kamu nanti kalau ikut geng-geng gak jelas kaya mereka?!”

Di ruang BK hanya ada dua orang. Guru Konseling yang duduk di depan Septian memperhatikan muridnya dengan tatapan kecewa. Di SMA Ganesha ada dua guru BK. Yang satu Pak Dandang dan yang satu lagi Bu Dayu.

Septian yang dimarahi oleh gurunya hanya menutup mulut. Guru bersangul lengkap dengan konde dan bertubuh besar mirip istri orang penting Keraton itu geleng-geleng kepala melihat sikap Septian. Septian pintar. Sangat pintar bahkan banyak menyabet kejuaraan Basket maupun piala-piala olimpiade untuk sekolah. Tetapi kenapa murid lelaki ini malah memilih pergaulan yang salah?

“Pokoknya Ibu nggak mau dengar kamu berantem lagi. Apalagi di sekolah. Pintar-pintar bergaul Septian. Carilah pergaulan yang benar. Bukan pergaulan yang bebas seperti teman-teman kamu itu! Ibu udah capek ngasih tau mereka tapi mereka gak pernah berubah.”

Septian yang sejak tadi diam angkat suara. “Teman-teman saya gak seperti yang Ibu pikir,” ucap Septian membela.

“Mereka gak sebebas yang Ibu kira.”

Bu Dayu menghela napas.

“Ya sudah hari ini cukup sekali kamu masuk BK. Ibu gak akan perpanjang. Kamu boleh kembali ke kelas kamu. Intinya Ibu mau kamu jangan terlalu sering bergaul sama anak-anak Ravispa.”

Septian berdiri membuat suara kursi memenuhi ruangan putih penuh dengan tata tertib sekolah itu. “Maaf saya nggak bisa ngejauhin Ravispa Bu karena temen-temen saya di sekolah ini cuman mereka. Kalau gitu saya permisi ke kelas Bu.”

Bu Dayu lagi-lagi menghela napas lelah. “Iya inget jangan berantem sama Marcus lagi.”

Septian tidak menjawab tapi Bu Dayu tahu Septian mendengarnya. Bu Dayu menyuruhnya ke ruang BK menggunakan toa sekolah tadi saat jam istirahat. Jelas semua murid yang menonton perkelahian antara Marcus dan Septian menebak-nebak apa yang akan terjadi. Marcus sudah lebih dulu pergi dari ruang BK karena Septian harus lebih lama berdiam di sini untuk mendengarkan wejangan dari guru itu.

Ketika membuka pintu kaca buram ruang BK, Septian melihat keenam temannya sedang nguping di depan. Galaksi, Jordan, Oji, Bams, Guntur dan Nyong yang sedang merunduk dengan wajah yang berada di pundak-pundak temannya nyengir melihat wajah tak bersahabat Septian.

“Eh apa tuh ya? Ada jerapah terbang tuh!” ujar Nyong pura-pura tidak melihat Septian.

“Mana Nyong? Mana? Wahhh ada jerapah terbang!” ujar Jordan dengan bloonnya.

“Wah… jerapah bisa terbang ya?” ujar Guntur dengan tampang bloon.

“Eh Asep,” ujar Bams cengengesan.

“Ngapain lo di sini?” tanya Septian.

“Eh enggak ngapain kok. Anu kita lagi main nih. Iya gak Tur?” ujar Bams.

“Iya nih ikutan gak lo?” ujar Guntur ketika Septian meliriknya.

“Boong aja terus.” Septian membuat teman-temannya cengengesan.

“Mana ada boong orang kita lagi liat jerapah terbang.” Jordan menatap langit.

“Gak lucu lo,” balas Septian jutek.

“NGAPAIN KALIAN DIEM DI SITUUU??!”

“NGUPING YA KALIAN?!” Bu Dayu yang sudah berdiri di belakang tubuh Septian melotot garang pada keenamnya. Sebelah tangannya ada di pinggang. Siap memarahi mereka. Septian lalu memilih berjalan dan memilih diam di sebelah Galaksi yang meliriknya.

“Eh Bu Dayu nan cantik jelita. Pa kabar Bu?”

“Aduhhhhhh Ibu makin cantik aja Bu kalau lagi marah. Itu bedak atau tepung Bu? Tebel amat,” Nyong cengengesan lalu tertawa.

“Nyong!”

Nyong yang dimarahi langsung mingkem.

“Enggak kok Bu. Kita nggak nguping. Kita ini anak baik-baik Bu. Ini kita mau ke kelas Bu. Ya gak Dan?!” Oji meminta bantuan pada Jordan dengan cara melotot namun Jordan malah lama mencerna maksud Oji.

Jordan yang baru sadar pun menjawab heboh, “WOOOO IYA DONG JI! KITA ITU MAU KE KELAS BU! IBU MAU IKUT GAK?!” tanya Jordan.

“Daripada Ibu di ruang BK sendirian kan? Ditemenin sapa coba?”

“Mending ngawasin kelas kita. Ya kan?”

“Kalian itu ya!” ketujuhnya tersentak saat Bu Dayu berbicara dengan nada sedikit tinggi.

“Udah bel dari tadi kenapa masih di luar?! Masuk kelas sana!” Bu Dayu kembali marah dengan kening terlipat membuat ketujuh cowok itu terkesiap dan bersiap-siap meninggalkan ruang BK.

“DIBILANG MASUK KELAS!” omel Bu Dayu.

“Jangan marah-marah gitu dong Bu. Santai aja kali kaya di pantai. Ntar Ibu cepet tua kalau marah-marah mulu ke kita Bu,” celetuk Galaksi dengan nada serius membuat Bu Dayu tambah melotot padanya. Di sekolah ini Bu Dayu dan Galaksi memang sering terlihat seperti bermusuhan.

“SIAPA YANG KAMU BILANG TUA?! SAYA HAH?!”

“Nah itu nyadar,” ucap Galaksi kalem.

“Kurang ajar ya kamu Galaksi!”

Ketika ingin menghampiri Galaksi di tempatnya. Galaksi justru menjauh.

“Udah sana masuk kelas kalian jangan bikin Ibu kesel.” Bu Dayu tambah murka.

“TUNGGU APA LAGI?! AYO MASUK KELAS KALIAN SEBELUM IBU JEMUR KALIAN DI LAPANGAN! MAU?!”

Ketujuh cowok-cowok itu lantas tertawa cekikikan sambil berlari beramai-ramai menjauhi ruang BK. Bu Dayu kembali menghela napas berat. Guru itu lantas masuk ke ruang BK dan menutupi pintu sambil memijat pelipisnya.

****

Di lorong depan kelas XII IPA 5 sedang sangat rusuh. Rusuhnya mengalahkan pasar di pagi-pagi buta. Banyak yang sengaja lewat karena cowok-cowok sedang berkumpul di depan kelas itu. Bagaimana tidak kumpul? Ketuanya ada di sana. Jelas mereka nongkrong di sana. Galaksi nama ketuanya atau yang biasa dipanggil Galak oleh teman-temannya. Sementara Septian berdiri di sebelahnya menatap ke sekeliling. Ada banyak adik kelas perempuan yang mulai lewat. Ada yang caper ada juga yang memang murni lewat. Bahkan ada yang sampai teriak-teriak demi mendapatkan sebuah perhatian.

Di SMA Ganesha ada geng atau kumpulan murid-murid yang bernama Ravispa yang dominan diisi oleh murid laki-laki. Di sekolah ini hanya ada satu perkumpulan. Tidak berani membuat yang lain karena mereka.

Tujuannya agar apa yang telah diwariskan oleh senior-senior yang terdahulu tidak punah. Ravispa juga sering berselisih paham dengan Avegar—perkumpulan SMA Kencana yang merupakan tetangga sekolahnya. Dua geng besar yang sudah menjadi musuh bebuyutan sejak bertahun-tahun lalu.

Septian memilih bersender di pintu besi koridor yang berwarna hitam. Kedua tangannya berada di depan dada—memperhatikan Nyong yang sedang asyik menggoda cewek-cewek bersama Jordan. Benar-benar partner yang klop.

Toko batik
Jualan kayu
Hai cantik
Pacaran yuuuuuu!”

“Apaan sih Nyong? Gak jelas banget lo,” Fifi yang baru saja lewat langsung saja menyemprot.

“Kurang kerjaan lo? Sini nyapu ke kelas. Lo belum piket tadi pagi kan?”

Thalita yang berdiri di sebelah Fifi mendelik pada Nyong. “Mana pernah orang kaya lo piket Nyong?”

“Giliran ada jadwal piket aja sok-sok lupa hari!” Nyong tertawa geli mendengar perkataan Thalita, teman sekelasnya.

“Woi! Gue bogem lo Nyong goda-godain Fifi!” Bams memasang wajah galak dan masam pada Nyong.

“Waduuhhh-waduhhh bapaknya marah cuy! Mending gue dong Bams. Godain Neng Fifi dapet. Gak kaya lo. Diterima aja sampe sekarang kaga! 3 tahun coyyyyyy! 3 taun! Gak sakit tuh hati?” goda Nyong pada Bams.

Bams tidak menghiraukannya.

“Diem deh lo Nyong gak usah banyak omong. Awas aja nanti lo gak piket gue aduin lo ke Pak Dandang!” ucap Thalita.

“Iya-iyaaa ntar gue piket. Khawatir banget sih Nweng Thalita kalau Abwang gak piket?”

“Jadi makin cinta!”

“Dih jijik!” balas Thalita.

“Yuk Fi kita masuk kelas aja. Ngapain juga ngeladenin nih anak-anak,” ajaknya pada Fifi kemudian kedua perempuan itu masuk ke dalam kelas.

“Kamu cantik. Sayang kamu sangat sombong untuk didapatkan,” celetuk Jordan yang berdiri di samping Bams membuat cowok itu tahu bahwa Jordan sedang menyindir Fifi.

“Sabar Bams. Move on ajalah daripada lo dicuekin kaya gitu. Di SMA Ganesha banyak cewek yang mau jadi pacar lo Bams! Nih-nih banyak cewek cantik. Waooooow hayyy Jihan cantik,” sapa Jordan pada salah satu siswi yang hadir di tengah-tengah lorong. Bams tahu Jordan sedang mencoba menghiburnya.

“Eeeee ada yang marah nih,” Jordan melirik Septian yang sedang memperhatikannya.

“Gak jadi deh godainnya. Peace, Bro!”

“Ehhh Nweng Jihan,” Nyong ikut menyapa.

“Cantik gini disia-siain Asep? Auto nyesel!”

“Ngapain ke sini Han? Nyari Septian ya?” Guntur ikut ambil bagian menggoda Jihan. “Waaaahh! Lo sama Septian udah jadian apa gimana nih?” Guntur ingin mengorek sedikit informasi dari keduanya.

“Bentar lagi kok! Ya kan Septian?” Jihan bertanya pada Septian yang sejak tadi hanya menatap ke arah depan.

“Gila Sep,” Oji menyeru.

“Kalau lo gak mau sama Jihan mending buat gue aja! Cewek kaya Jihan nih langka tau!”

“Ambil aja,” ucap Septian gampang membuat keenam temannya termasuk Jihan sama-sama diam.

“Sep? Jangan gitu,” Galaksi berbisik.

“Sapalah si Jihan,” Galaksi memberi saran. Tidak tega dengan raut wajah Jihan.

“Apa?” Septian berkata judes pada Jihan yang sudah berdiri di depannya.

“Mau bilang makasi aja kok…,” Jihan berucap takut-takut lalu merogoh saku rok abu-abunya. “Yang tadi pagi… ini gantungan kunci buat lo. Terima ya?”

Jihan menyerahkan gantungan kunci berbentuk mawar merah pada Septian membuat teman-temannya berseru heboh melihat wajah keduanya.

“Hm.”

“Udah gue terima. Trus sekarang ngapain masih di sini?” Septian menatapnya setelah mengambil gantungan kunci yang diberi Jihan.

“Ada perlu apa lagi?”

“Kasar banget lo, Sep,” tegur Oji. Cowok itu merangkul Jihan memindahkannya dari tempat Septian berdiri.

“Udah mending lo ke kelas aja deh sekarang Han. Kayanya temen gue gak mau diganggu dulu. Lo sabar ya. Jangan dimasukin hati kata-kata dia,” ujar Oji.

“Septian sebenernya orang baik.”

Jihan mengangguk. “Iya gue balik ke kelas deh. Thanks ya, Ji.”

“Yo sama-sama.” Oji melepas Jihan membiarkannya pergi dari kawasan murid-murid IPA.

Septian memperhatikan gantungan kunci mawar yang berwarna merah yang diberikan Jihan. Setelah membalikannya ada sebuah tulisan yang membuat Septian mendekatkan gantungan itu pada pandangannya.

Jangan sampai orang yang berjuang untukmu malah memilih pergi dan tak peduli lagi padamu. Sebab kamu akan merasa kehilangan setelah dia pergi.

****

“Inget ya habis Jordan harus giliran gue!” Galaksi berseru di tempat duduknya.

Jordan sedang menyalin dengan kilat jawaban dari buku. Kadang Septian juga pelit jawaban namun kali ini lelaki itu berbaik hati memberikan teman-temannya contekan.

“Gue abis Galak pokoknya!” ucap Nyong.

“Enak ya jadi lo Sep. LKS dah isi semua. Tinggal nyalin aja kalau ada tugas.”

“Makanya belajar di rumah. Jangan taunya main ke Warjok aja,” ucap Septian menutup bukunya. “Nih LKS gue. Lo salin aja jawabannya sama kaya yang di buku gue biar cepet. Untung Bu Ita gak masuk ke kelas.”

“Baik banget lo Sep. Makasi dah. Jadi makin lope-lope di udara Abwang,” ucap Nyong membuat Septian mendengus.

“DIH JIJIK BANGET LO BERDUA KAYA MAHO!” Bams berujar padahal matanya masih sibuk pada buku Guntur yang sudah lebih dulu menyalin jawaban Septian tadi.

Nyontek massal. Begitulah keadaan kelas XII IPA 5 sekarang. Di bangku depan ada kunci jawaban berupa Fifi dan di bangku belakang ada Septian yang meng-handle. Dua bintang kelas yang selalu jadi incaran teman-temannya kalau ada tugas ataupun ulangan. Bahkan pas ulangan Galaksi temannya tidak akan segan-segan menggeser Guntur untuk duduk di samping Septian agar dapet contekan.

Kalau ada tugas berkelompok pun Septian akan jadi rebuatan teman-temannya. Karena selain pintar Septian juga rajin. Dipastikan kalau sekelompok dengannya bisa langsung mendapat nilai bagus. Dijamin!

Posisi duduk mereka pun sangat menguntungkan untuk ribut. Mereka berada di pojok belakang kiri. Posisi yang sangat nyaman untuk menyontek, tidur dan juga ribut. Septian dan Guntur duduk di samping bangku Galaksi dan Jordan sementara Bams duduk dengan Nyong dan Oji duduk sendirian tepat di deret bangku Galaksi dan Jordan. Kadang-kadang tempat duduk mereka sengaja dirolling oleh mereka sendiri. Tidak tentu. Apalagi kalau kelas lagi sepi dan guru piket tiba-tiba masuk kelas. Mereka akan sembarangan duduk di mana pun itu.

“Lo gak suka sama dia?” tanya Galaksi.

“Siapa?”

“Jihan lah masa Kejora,” ujar Galaksi.

“Enggak.” Septian meletakkan pulpennya.

“Gue gak pernah suka sama Jihan.”

“Awas lo ngomong gitu sekarang nanti lo yang ngejar-ngejar Jihan baru tau rasa.” Galaksi duduk di pinggir kursinya lalu menghadap ke Septian dengan satu kaki naik ke atas paha. Sangat tipikal Galaksi.

“Hidup itu berputar, Bro. Sekarang emang Jihan yang ngejar-ngejar lo nanti bisa kebalik lo yang ngejar Jihan.”

“Mending lo jangan terlalu keras sama tuh cewek.”

“Gue gak suka sama dia.” Septian menghela napas.

“Ngapain juga gue ngejar-ngejar Jihan? Kaya nggak ada kerjaan lain aja.”

“Gue sebagai temen lo cuman ngingetin aja Sep.” Galaksi lalu merubah gaya duduknya jadi semula dan memperhatikan Jordan yang sibuk tidur di sampingnya. “WOI DAN BANGUN LO! Itu iler di tas lo ke mana-mana!”

“Susah Lak! Lo nggak bakalan bisa bangunin Jordan! Tidur udah kaya orang mati gitu!” Bams geleng-geleng kepala membuat Galaksi tertawa dan mengguncang-guncang badan temannya itu. Jordan masih asyik tidur.

“Gini nih. Kebanyakan nonton bokep Jepang sampe pagi!” Nyong tertawa geli dan mengguncang-guncang badan gede Jordan. “Teler dia sekarang!”

“Mana ada nonton gituan! Nonton bola tuh Madrid kemarin sama gue.” Guntur tertawa.

“Siram aer aja Nyong!”

“Ide bagus tuh!” Nyong meminta botol air pada Bams sisa minumnya saat di kantin tadi.

“Dan sorry ya Dan. Ini demi keselamatan dan kesejahteraan tas lo. Kasian tas lo kena iler gitu.” Bukannya membangunkan Jordan. Nyong malah berpidato. Malah lebih kasian sama tasnya ketimbang Jordan.

“Buruan Nyonggggg!! Ntar tiba-tiba Bu Dayu bisa dateng ke kelas!” desak Oji yang sudah berdiri di bangku depan lalu mendekat.

“Tapi kalau gue kena amuk Jordan. Lo semua yang tanggung jawab ya?” Nyong bersiap dengan membuka tutup botol minuman mineral itu.

“Iya-iya gue yang tanggung jawab!” Galaksi menjawab tak sabar.

“Buruan Nyong!”

“Kok gue jadi deg-degan ya kaya mau nembak cewek,” ujar Nyong membuat Bams yang duduk di sampingnya berdecak dan merebut botol minum itu dari Nyong.

Lebay amat lo Nyong!” Bams lalu menyiram kepala Jordan dengan botol air minumnya membuat Jordan tiba-tiba membuka mata.

Keenam cowok itu lalu memukul meja Jordan dan Galaksi dengan suara yang membuat kelas tambah gaduh, “BANGUUUNNN WOEEEE!! BANGUNNN!!” seru keenamnya.

“KEBAKARAN! KEBAKARAN!” tambah Bams membuat tampang Jordan yang semula lesu dengan cepat-cepat membuka mata dan menegakkan badannya.

“HAH? DI MANA KEBAKARAAAAANNN???!!”

“DI MANA??”

“Noh! Di jidat lo!” ucap Nyong.

“Lo tidur udah kaya orang mati. Asli dah,” kata Guntur.

“Sialan lo semua! Lagi enak-enak juga,” ucap Jordan mengusap wajahnya yang basah. Bahkan rambutnya juga ikut basah.

“Gue baru tidur nih!”

“Lu pasti mimpi jorok ya Dan?!” tebak Oji.

“Udah sana lo ke kamar mandi cuci muka. Kasian tas lo Dan.”

“Jadi lo lebih kasian sama tas gue daripada sama gue?!” marah Jordan pada Oji membuat cowok itu tertawa geli karena wajah Jordan yang jadi tertekuk. Keadaannya mengenaskan. Sedikit kerasnya basah karena siraman Bams.

“WOE WOE WOE!! Yang suka ngadu ke Avegar udah ketemu nih orangnya!” tiba-tiba Bagas—teman sekelas Baret sekaligus anggota Ravispa memberitahu dan masuk ke dalam kelas yang tengah ribut itu.

“Sumpah lo, Gas?” Oji berbalik badan dan berbicara pada Bagas.

“Iya sumpah! Lagi ditawan di belakang sekolah!” Bagas menjawab dengan napas ngos-ngosan.

“Tunggu apa lagi?” tanya Galaksi mengomando. “Buruan ke belakang sekolah!”

Semua temannya sangat berminat kecuali Septian.

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *