Categories
Septihan

3. RAVISPA

3. RAVISPA

“Dia baik bukan berarti suka.”
— Jihan Halana

Area belakang sekolah sudah sangat ramai. Murid-murid dari kelas bawah sampai kelas atas SMA Ganesha memenuhi wilayah yang berada di belakang gedung sekolah. Septian dan teman-temannya hadir di lokasi setelah mendengar kabar dari anak-anak Ravispa bahwa ada seorang murid yang sering mengadu domba kedua belah kubu sudah ditangkap. Saat menyibak kerumunan. Septian tahu wajah itu.

Marcus Akbar Firmansyah.

“Marcus?” celetuk Bams saat tiba di belakang sekolah.

“Jadi lo orangnya?”

“TERKEJUT AKU BWANG!” Nyong yang berdiri di sebelah Bams ikut menyeletuk.

Marcus berdiri di tengah-tengah kerumunan Ravispa. Membuat sosoknya tampak begitu kecil menghadapi murid-murid lelaki dengan seragam SMA sebagai pelindung sekolah itu.

“Nih Bos. Yang sering ngadu ke Avegar!” Bagas menyeru.

“Gue denger tadi pas dia telponan sama Jo!”

“Jo anak buahnya Robert?” tanya Guntur.

“Wahhh, wahhhh, waahhh! Campah ci! (Campah lo!)” ucap Guntur dengan logat Bali pada Marcus yang sedang terkepung massal.

“Kaget? Gue udah anggotanya Avegar sekarang,” ujar Marcus.

“Lo sekolah di SMA Ganesha bukan di SMA Kencana, bodoh!” kata-kata Septian jelas-jelas menusuk.

“Kenapa lo mihak sama mereka?”

“Kenapa?” Marcus bertanya kembali pada Septian.

“Lo tanya sama ketua geng lo itu!”

Septian melirik Galaksi yang berdiri di sebelahnya. Galaksi hanya diam di saat seluruh temannya jadi ikut memandangnya. Bertanya-tanya apa yang dilakukan ketua geng itu sampai-sampai Marcus seperti ini.

Memang Galaksi lah penyebabnya.

Setahun lalu saat mereka duduk di kelas sebelas. Galaksi melarang Marcus ikut Ravispa. Marcus bahkan ditolak mentah-mentah oleh Galaksi dan sekarang terbukti. Galaksi tidak pernah salah menilai watak seseorang. Seharusnya dulu cowok ini tidak hanya ia gertak saja.

“Ternyata gue gak salah nolak lo dari Ravispa setahun yang lalu. Gue gak pernah salah menilai orang,” ucap Galaksi.

Semua teman-teman Galaksi terkejut. Tidak tahu sama sekali bahwa Marcus pernah ingin masuk jadi anak Ravispa. Saat awal pencarian murid-murid untuk gabung ke Ravispa. Nama Marcus tak ada di list calon anggota Ravispa.

“Lo tau pengkhianat? Itu cap buruk gue buat lo Marcus.” Galaksi membuat Marcus mengepalkan tangannya.

“Lo laporin aja sana sama ketua lo si Robert. Gue sama temen-temen gue gak takut!” ucap Guntur mendapat dukungan penuh dari teman-temannya. “Kita ladenin lo semua nanti kalau masih nyari gara-gara!”

“Lo emang OSIS, Marcus. Tapi masa-masa jabatan lo sebagai OSIS udah mau berakhir diganti sama angkatan adik kelas tahun ini. Jadi kita liat aja nanti. Sampe mana lo bakal bertahan sama merek atau sampe mana lo akan tahan sama kita semua di sekolah ini.” Septian menutup pembicaraan dengan tegas.

“WOIIIII AYO KITA BALIK KE KELAASSS!” Jordan berteriak.

“Nggak usah ngurusin kaya ginilah buang-buang waktu.”

Mereka lalu meninggalkan Marcus begitu saja. Dalam jutaan makna yang berpendar dalam matanya.

****

“SEPTIAN!” panggil Nyong.

“Oi Sep!” panggilnya lagi namun Septian tak menyahut.

Lalu suara Nyong berubah kemayu, “Bang Asep sayanggg…”

“Idih sayang-sayang!” Oji yang sedang makan mie di depan Septian pun bersuara.

“Begini nih kurang dibelai lo Nyong!”

“Apa Nyong?” Septian menyahut jutek karena lamunannya diganggu Nyong.

“Kau ni, jutek sangatlahh kau Bwang. Sini makan dulu lah.” Nyong baru saja membawa mie dengan mangkuk putih di tangannya. Duduk di samping Septian. Aroma mie kuah penuh cabai hijau dan sayur sawi menusuk indera penciuman Septian.

“Eh Dan. Jangan joged-joged aja lo di sana sama Bams! Sini mie pesenan lo berdua udah mateng. Kurang baik apa gue jadi temen?” Nyong melihat dua mangkuk mie milik Jordan dan Bams. Sementara keduanya sibuk mendengarkan lagu dengan duduk bersama Galaksi di posko depan.

“Si Jordan kalau lagi ayan begitu tuh,” ujar Guntur. “Kumat dangdutnya.”

“Nyong inget nanti bayar mienya. Jangan ngutang lagi,” kata Bu Gendut padanya.

“Bon kamu itu sudah banyak tau? Nanti harus lunas semua!”

Oji yang hendak makan mie tidak jadi. Cowok itu malah tertawa, “Udah Bu Gendut biar saya aja yang bayarin Nyong nanti,” ucapnya lalu meniup mienya yang panas.

“NAH BEGITU KEK SAMA TEMEN! PE-KA!” ucap Nyong. “Makasih, Ji nanti gue ganti.”

“Ah, lo kaya sama siapa aja Nyong. Sama gue doang elah. Gak usah diganti.” Oji berkata saat Guntur memilih duduk di sampingnya.

Warjok atau Warung Bu Gendut dengan satu pos tempat berkumpulnya anak-anak Ravispa ini menjadi tempat favorite mereka setelah pulang sekolah. Biasanya tiap sore tempat ini ramai. Rata-rata anak sekolahan yang menempati warung ini. Bukan hanya dari SMA Ganesha saja. Banyak dari murid luar juga bisa datang kemari.

Meskipun kecil tapi warung ini kaya dengan rasa kebersamaan. Bahkan bisa sampai malam mereka semua bermain di tempat ini untuk melepas lelah. Entah itu bermain kartu, jadi pengamen dadakan cover-cover lagu, makan, merokok, menghidupkan lagu sampai dengan volume tinggi hingga tidur-tiduran. Hal-hal menyenangkan yang tak boleh dilewatkan oleh mereka semua selama masa sekolah.

“Dan, Bams, Lak! Sini lo bertiga. Woi Lak! Gak usah ikut-ikutan joged gitu lo kaya Jordan, Lak!” ucap Nyong. “Alay!”

“Siapa juga yang ikutan?!” Galaksi balas berteriak, kesal. “Gue cuman duduk! Nih temen lo si Jordan sama Bams lagi mantep nonton video cewek cakep!”

“WOOWWW! INI NIH! INI BARU KESUKAAN GUE! Hot banget anjer! Digoyang mbakkkk digoyanggg,” ujar Jordan hiperbola membuat Bams yang duduk di sebelahnya melotot dengan wajah cengo melihat video yang ditampilkan di layar ponsel Jordan.

Astaghfirullah, Jordan.” Bams geleng-geleng kepala setelah melihat rekaman yang ditampilkan di layar ponsel Jordan.

Lalu cowok itu juga ikut bernyanyi, “Emang lagi manja lagi pengen dimanja. Pengen berduaan dengan dirimu sajaaa….”

“Emang lagi syantik tapi bukan sok syantik!” dendang Jordan.

“NJIR! Nih lagu judulnya apa dAh? Mau gue download dulu dah enak benerrr. Mana tau Lala pacar gue juga demen lagu begini. Kan enak bisa gue dengerin di mobil bareng dia.”

“YEEE MODUS LU BAMBANG!” Bams berkata kesal membuat Jordan tertawa karena cowok itu menyebut nama lengkapnya sendiri untuk mengejek Jordan.

Galaksi yang tidak tahan dengan kedua temannya pun berdiri dan menghampiri warung Bu Gendut. Ikut bergabung dengan teman-temannya yang lain membuat Jordan dan Bams juga ikutan berjalan dan duduk di warung kuris panjang kayu sedikit lapuk di Bu Gendut.

Septian yang sejak tadi terdiam dan tenggelam dalam dunianya sendiri memperhatikan daun-daun hijau serta cokelat berjatuhan ke bawah. Pohon rindang dengan buah berwarna merah dan hijau ini berada di dekat Warjok.

“Gue masih bingung kenapa Jihan berantem sama Marcus. Tapi pasti tentang masalah keluarga. Gue gak suka caranya Marcus ke Jihan. Cowok kok kasar ke cewek,” ucap Oji setelah selesai makan dan menaruh mangkuknya di atas meja dagang Bu Gendut.

“Apa pun masalahnya kita gak perlu ikut campur terlalu jauh. Itu kan masalah pribadi mereka, Ji.” Jordan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana abu-abu.

“Terus kenapa lo nolongin Jihan segitunya Sep?” pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Galaksi untuk Septian. Membuat semua pandangan teman-temannya tertuju pada Septian.

“Apa karena tuh cewek suka sama lo tapi lo tolak terys?” Septian tetap diam. Tidak menjawab apa-apa.

“Bukan. Itu untuk diri gue sendiri.” Septian lalu menatap jam hitam yang melingkar di tangan kirinya lalu mengambil jaket Ravispa miliknya yang berada di kursi.

“Udah jam. Gue mau ke sekolah.”

“Ngapain lo ke sekolah jam segini, Sep?” tanya Nyong.

“Rajin bener. Udah kaya penjaga sekolah aja lu!”

“Mau basket,” jawab Septian singkat lalu mengambil kunci motor Galaksi di atas meja yang tadi sudah ia pinjam lalu berniat meninggalkan Warjok yang masih diisi oleh teman-temannya yang akan menghabiskan waktu sampai sore di tempat ini.

Septian butuh untuk melepas beban pikirannya atau untuk melampiaskan apa yang sedang ia rasakan saat ini dengan basket.

****

LAPANGAN
SMA GANESHA

Tulisan besar itu menggantung megah di depan gedung lapangan sekolah SMA Ganesha. Basket Ganesha adalah salah satu kebanggaan sekolah dengan penyumbang piala terbanyak setiap tahunnya. Juga termasuk icon terbesar sekolah.

Septian sudah mengekuni hobi ini sejak dulu. Dari SMP berlanjut sampai SMA. Seluruh keringat, jatuh-bangun dan juga latihan yang keras telah Septian lewati selama menekuni ekskul ini.

“Semangat Septian!!” cewek-cewek cheers yang sudah selesai berlatih pun menyemangati cowok itu.

Membuat Jihan yang sibuk menurunkan bendera bersama Kejora mendengus melihat cewek Belanda ketua team Cheerleaders bernama Mauren bersama wakilnya Mona itu histeris menyebut nama Septian.

“SEPTIAN SERANG KE RUMAH LAWAN!” teriakan pelatihnya membuat Septian yang tengah membawa bola men-dribble bola besar berwarna oranye itu menuju rumah lawan.

SHOOT, SEPTIAN!” teriak Pak Nurdin padanya.

Nekat, Septian melakukan lay up membuat musuh di depannya bengong memperhatikan teknik yang dilakukan Septian lalu cowok itu berhasil mencetak angka untuk grupnya. Lagi dan lagi. Septian memang ahli mengelabui musuh meski dengan wajah dinginnya. Cowok dengan baju putih bercampur kuning dan merah bernomor punggung 1 itu menenangkan napasnya yang tak beraturan.

“KEREN LO BRO! Lo mainnya keras banget hari ini gue suka, Sep! Makin bagus aja main basketnya!” puji Lemos, tim segrupnya memuji Septian.

Suara panjang peluit dari Pak Nurdin—pelatih sekaligus guru olahraga di Ganesha itu pun menandakan bahwa pertandingan basket telah selesai. Para pemain pun menghela napas lega.

Jauh di ujung lapangan. Marcus mengambil bola basket dengan napas ngos-ngosan. Kedua mata tajamnya memperhatikan Septian. Grupnya kalah. Padahal cowok itu ketua tim basket inti Ganesha.

“Marcus… Marcus. Kenapa kamu mainnya jelek banget hari ini? Liat Septian. Dia mainnya makin bagus. Tapi kamu justru semakin jauh!” Pak Nurdin di tengah lapangan terdengar memarahi Marcus.

“Kalau kamu terus begini bisa-bisa Bapak ganti ketua tim basket tahun ini buat Septian,” ujar Pak Nurdin membuat Macrus terkejut.

Seharusnya Septian lah yang mendapat posisi itu. Ketua tim basket inti Ganesha namun Septian menolak untuk menjadi ketua. Septian hanya pemain inti. Tidak ada yang tahu alasan Septian menolak posisi penting tersebut.

“Jangan, Pak. Saya janji buat hari ini aja. Besok-besok saya gak bakalan begini lagi,” ujar Marcus namun Pak Nurdin sama sekali tak peduli dan malah pergi karena telanjur marah dengan cara main basket Marcus yang kelewat fatal.

“Bapak pulang dulu. Hari ini latihan sudah selesai. Oh ya, Septian. Hari ini saya akui main basket kamu bagus. Tingkatkan lagi,” pesan Pak Nurdin.

“Iya, Pak. Terima kasih.” Setelah itu Pak Nurdin pergi meninggalkan pinggir lapangan.

Marcus yang mendengarnya hanya diam. Teman-temannya pun tahu bahwa Septian yang seharusnya mengambil posisi Marcus.

Selama ini tim basket sekolah banyak dibantu oleh Septian. Kalau saja Septian tidak kokoh. Tim bakset sekolah pasti akan tumbang. Tidak sekuat sekarang. Bahkan Septian juga bisa menjadi pelatih mendadak bagi teman-teman dan adik kelasnya kalau Pak Nurdin tidak bisa hadir.

“Septiannnnnnn!” Septian yang sedang minum sebotol air di dekat kursi lapangan itu menoleh ke samping. Ia melihat Jihan menghampirinya.

“Yah! Udah minum air ya? Padahal gue bawain lo air minum juga.” Jihan tiba di samping Septian.

Septian heran. Mengapa cewek ini selalu ada ketika Septian latihan basket? Septian selalu mendengar suaranya yang melengking di mana-mana dan itu membuatnya tak nyaman. Memang cewek ini latihan Paskibra tapi Jihan selalu menyempatkan diri untuk menemuinya padahal Septian tidak ingin hal seperti ini terjadi.

“Dih sok cantic lo! Jauh-jauh sana!” Mauren mengusirnya.

“Siapa elo emang deket-deket Septian?!”

“Apaan sih lo Mauren? Sirik aja! Sirik tanda tak mampu, tau?!” ucap Jihan. “Lo tuh yang belagu! Ngatain orang aja bisanya!”

“Berani banget lo ya sama gue?!” Mauren mendorong Jihan membuat Septian dengan sigap menangkap Jihan membuat kening Septian berkerut memandang Mauren.

“Dasar genit!” ucap Mauren pada Jihan.

“Udah Ren. Pergi sana. Jangan ganggu gue,” kata Septian lalu cowok itu duduk di kursi.

“Kok lo belain dia sih? Dia kan gangguin lo?”

“Udahlah Ren.”

“Tapi Septian gue bawain lo minum nih!” Mauren menunjuk botol minum yang ia bawa tapi Septian tak mau melihatnya.

Cowok itu duduk bergeming di tempatnya lalu detik berikutnya menarik tangan Jihan agar duduk di sebelahnya dan mengambil botol air minum mineral yang dibawa Jihan membuat Jihan kaget karena perlakuannya.

Septian dengan peluh menetes di seluruh tubuhnya membuka tutup botol itu lalu meminumnya dengan empat kali teguk serta kepala terangkat hingga isi botol air itu habis tandas tak tersisa membuat Jihan melongo.

Wajah Jihan merah merona karenanya.

“Gue udah minum punya Jihan. Sekarang lo bisa pergi kan Ren?”

Mauren cemberut lalu berdecak dan pergi meninggalkan Septian karena Septian secara tidak langsung menolaknya.

“Gak usah senyum-senyum gitu.” Suara berat Septian membuat Jihan menoleh pada. Tidak bisa menyembunyikan senyumnya membuat cewek itu memegang kedua pipinya untuk menahan gugup.

“Memangnya kenapa kalau senyum? Gak boleh ya?” tanya Jihan.

“Makasih yaaaa Septian! Jadi makin suka deh!”

Septian bergumam singkat membalasnya lalu mengambil kedua jaketnya dan tas serta botol milik Jihan tadi.

“Jangan suka sama gue.”

“Besok-besok jangan bawain gue air lagi. Gue udah bawa air sendiri. Mending urus hidup lo jangan urus hidup orang lain.” Septian berkata berat dan dingin lalu ia menuju ke loker untuk menaruh jaket hijau lumut tua basket sekolah dan menutup pintu loker lalu meninggalkan Jihan.

“WOI SEP! LO MAU KE MANA?!” tanya Lemos.

“Warjok!”

Septian Aidan Nugroho. Cowok yang sedang menggunakan jaket hitam bertuliskan Ravispa dengan tanda sepasang sayap burung elang di dada kiri itu melangkah di lorong menjauhi lapangan. Membuat Jihan gigit jari melihatnya.

****

Jihan menghela napas kedinginan di depan sekolah. Cewek berkalung besi bertulis Jihan dengan rambut digerai berisi jepit berbentuk pita itu menoleh ke kanan dan ke kiri namun tak ada satu pun kendaraan melintas. Malam semakin menyelimuti langit namun Jihan sama sekali tak melihat ada tanda-tanda kehadiran seseorang yang ditunggunya sejak tadi.

“Wah, lo masih di sini juga ya, Jihan?” cowok berjaket biru dongker itu baru saja keluar bersama motornya lewat gerbang sekolah.

“Ngapain masih di sini? Jual diri ya kaya Mama lo?”

Jihan melotot mendengarnya. “Maksud lo?”

“Gue yakin lo denger.”

“Berisik banget sih lo Marcus? Cowok tapi mulut kaya banci!”

Marcus tersentak mendengarnya.

“Apa lo bilang?!” Marcus yang tersinggung turun dari motornya. “Tapi gak apalah. Lo mau jadi kaya Mama lo juga? Sama gue aja. Bayarannya mahal,” bisik Marcus membuat Jihan mundur ke belakang karena merasa terancam dengan Marcus.

“APA SIH? PERGI DEH LO! SIAPA JUGA YANG MAU SAMA LO?!”

“Oh kurang mahal? Mau berapa? Tinggal sebut aja, Jihan. Gak usah malu-malu,” seringai Marcus tampak mengerikan di mata Jihan karena hari sudah hampir malam.

Seorang lelaki dengan kaus basket Ganesha Basketball mendorong tubuh Marcus membuat Marcus menjauh lalu tanpa aba-aba langsung memukul rahang Marcus dengan sekali pukulan yang membuat Marcus langsung ambruk ke bawah.

“Lo macem-macem ke Jihan lagi awas lo!” ancam Septian pada Marcus.

Jihan menahan napas lalu tangannya ditarik Septian untuk masuk ke dalam mobil putih yang lampunya menyala. Mengajaknya pergi.

“Sialan! Awas aja lo berdua!”

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *