Categories
Septihan

Novel Septihan By Poppi Pertiwi

Poppi Pertiwi. Lebih akrab dipanggil Poppi atau Kapi. Lahir tanggal 15 April di Indonesia. Suka baca buku, banyak novel, mendengarkan musik dan menonton film. Biasanya kalian bisa membaca cerita-cerita buatannya di website, blogspot dan aplikasi Wattpad. Saat ini tengah mengerjakan cerita Harmony, Liberty dan Galaksikejora

Poppi Pertiwi

Di tahun 2018 Poppi baru saja rilis Novel Galaksi disusul Novel Mozachiko setelahnya. Di tahun 2020 Poppi baru saja mengeluarkan Novel dengan judul Septihan yang bercerita tentang Septian Aidan Nugroho dan Jihan Halana dari SMA Ganesha

Novel Septihan https://www.wattpad.com/story/147590918-septihan
Septihan

Novel Septihan adalah salah satu cerita atau spin off dari Novel Galaksi

Septihan berkisah tentang seorang murid laki-laki yang sangat pintar, rajin, penuh prestasi, dan genius bernama Septian Aidan Nugroho. Serta perempuan paling aktif dan super responsif bernama Jihan Halana. Di SMA Ganesha Septian adalah murid kebanggaan sekaligus kesayangan guru-gurunya karena lebih sering membawa piala, menang lomba dan banyak penghargaan. Sementara Jihan adalah kebalikannya.

Selain berprestasi Septian juga masuk dalam jajaran anggota Ravispa sebagai bendahara. Di perkumpulan itu Septian termasuk anggota inti yang aktif, selalu datang tepat waktu dan seperti tabiatnya dia adalah tipikal cowok yang rajin. Bahkan selalu mengingatkan teman-temannya.

Pada tahun ketiga di sekolahnya Jihan Halana menunjukan dirinya di depan Septian. Tahun ketiga yang merubah segalanya. Termasuk hidup Septian. Jihan Halana yang tidak pernah Septian tahu atau kenal akhirnya sedikit demi sedikit menarik perhatian cowok itu. Meskipun di dalam hidupnya nama Jihan Halana tidak akan dibiarkan masuk.

Selain itu Septian juga memiliki enam teman yang selalu menemaninya dalam susah dan senang. Suka dan duka. Mereka semua bernama: Galaksi Aldebaran, Jordan Ghaksan Aditama, Bams Adnyana, Guntur Gutama, Oji Anuraga Raspati & Nyong Bakarbessy.

Ketika Septian benar-benar merasa Jihan sangat tulus padanya. Apa cowok itu akan mulai membuka hidupnya untuk Jihan?

Novel ini bercerita tentang masa putih abu-abu dan persahabatan. Tentang perjuangan dan doa yang mampu meluluhkan hati.

https://www.instagram.com/p/CDT2fmCBZGn/
Dalam PO Pertama Tanggal 31 Juli 2020 Novel Septihan sudah terjual 10.218 Ribu Eksemplar / Novel dan di tanggal 1 Agustus 2020 sudah mencapai 11.000 Ribu Novel Septihan

Kalian bisa dapatkan Novel Septihan segera di Toko Buku Online dan Seluruh Gramedia Indonesia

Categories
Septihan

2. Kesepakatan

“Hati-hati membenci orang lain. Bisa-bisa dibuat jatuh hati olehnya.”
Teresa Rajata

2. Kesepakatan Terpaksa

BRAK!

Suara gebrakan meja itu membuat keduanya tersentak kaget.

“Jadi katakan kenapa kalian terlambat dan manjat tembok belakang sekolah? Kalian tau itu melanggar peraturan sekolah!”

Keduanya yang diomeli oleh kepala sekolah wanita mereka hanya diam. Baik Raskal dan Teresa sama-sama tidak mengeluarkan suara. Mereka seperti dijebak. Di depan mereka ada tiga orang yang lebih tua dari mereka. Dua guru BK dan kepala sekolah. Bu Is dan Pak Ahmad berdiri di samping kepala sekolah mereka yang sedang duduk di kursi.

“Bu kita cuman terlambat. Lagian lebih baik terlambat ke sekolah daripada bolos,” kata Raskal yang sedang duduk santai seperti ia duduk di warpeng. Warung pengkol sekolah yang merupakan tempat tongkrongan bagi murid-murid tipe seperti Raskal.

“Diem kamu! Saya belum nyuruh kalian ngomong!”

Raskal akhirnya diam. Ia melirik Teresa yang sedang sibuk meniup-niup poni panjangnya ke atas. Kebiasaan yang sudah Raskal hafal. Oh bukan Raskal saja tapi kebanyakan murid Nusantara suka melihatnya.

“Bisa gak kalian sehariiii aja gak bikin saya pusing?” tanya kepala sekolahnya itu heran. “Kamu juga Teresa. Cewek tapi kelakuannya kaya cowok,” tudingnya pada Teresa.

“Bu sekarang saya ada ulangan Kimia. Kalau nilai saya tu—”

“Nyusul!”

Teresa yang dibentak mengalihkan pandang. Ia lebih memilih menatap kalender yang ada di sampingnya. Coba saja Bu Is tidak melihat mereka, mereka pasti tidak akan ada di sini dan ia juga tidak akan terjebak dengan Raskal.

“Atau kalian mau di DO?”

Teresa dan Raskal refleks langsung menatap kepala sekolahnya dengan pandangan kaget.

“Bu apa pun asal jangan DO. Saya janji bakalan berubah,” kata Teresa.

“Kamu itu. Janji-janji aja. Sampe sekarang gak berubah-berubah. Kelakuan kamu tetep sama.”

“Bu. Ibu boleh ngehukum kita apa aja tapi jangan DO Bu. Kita udah kelas 12,” ujar Raskal.

“Tapi sifat kalian bukan sifat anak kelas 12. Seharusnya kalau kalian merasa sudah kelas 12, kalian bisa mikir. Mana yang baik dan mana yang gak baik.”

Raskal menatap Bu Is yang berdiri di sebelah Pak Ahmad. Guru BK itu menghela napasnya.

“Bu tolong dipertimbangin. DO gak menyelesaikan masalah,” kata Bu Is. “Lagian kita bisa hukum mereka.”

“Bener Bu. Mereka sebentar lagi akan ujian. DO bukan solusi yang bijak,” kata Pak Ahmad.

“Kalau dihukum saja mereka nggak bakalan jera,” kata kepala sekolahnya. “Lagian mereka sudah banyak melanggar peraturan sekolah. Sudah banyak catatan tentang kenakalan mereka berdua.”

Peraturan dibuat memang untuk dilanggar. Bagi Raskal memang seperti itu. Lagian bukan hanya mereka berdua saja yang sering melanggar. Banyak murid yang sering melanggar. Banyak murid yang sering terlambat datang ke sekolah. Hanya saja mungkin mereka beruntung lolos dari guru BK.

Kepala sekolah mereka mengetuk meja dengan jari telunjuknya, menimbulkan suara ketukan yang mengisi ruangan hening itu. Raskal dan Teresa tau wanita itu sedang merencanakan sesuatu.

“Nilai kamu sering jeblok kan Raskal?” tanya guru itu membuat Teresa mengerutkan kening sementara Raskal mengangguk pelan. “Pelajaran apa yang gak kamu suka?”

“Fisika Bu,” jawabnya jujur.

“Kalau gitu kalian pilih. DO atau belajar kelompok bersama,” katanya membuat Teresa dan Raskal sama-sama mengerutkan alis mereka.

“IBU!” seru keduanya.

“Tinggal pilih,” ucapnya. “DO atau kerja kelompok. Selama tiga bulan kalian harus belajar kelompok bersama. Terserah tempatnya di mana. Terserah berapa kali dalam seminggu. Dan minggu ini Ibu harus dengar nilai kalian membaik di mata pelajaran Fisika.”

“Bu, jangan kerja kelompok. Saya gak mungkin kerja kelompok sama dia,” kata Teresa melirik Raskal.

“Saya juga gak mau Bu. Mending saya les privat,” ujar Raskal.

“Ya udah les privat aja lo sana. Gue juga gak mau capek-capek kali.”

“Sekarang kalian pilih. DO atau belajar berdua. Kalau kalian pilih DO. Hari ini juga kalian akan dipulangkan ke rumah masing-masing.”

Keduanya mendengus.

3 bulan? Yang benar saja! Bisa-bisa kepala Teresa pecah.

“Saya gak mau di DO Bu,” kata Raskal tegas. Cowok itu sudah duduk tegak dengan benar. “Saya pilih kerja kelompok 3 bulan.”

***

“LO TUH!!”

“Aduh-aduh!”

Raskal menjauhkan dirinya ketika Teresa memukul-mukul lengannya. Mereka baru saja keluar dari ruang kepala sekolah.

“Lo tuh kenapa sih?”

“Gue gak mau kerja kelompok sama lo!”

“Terus lo pikir gue mau?”

“Tapi kan—”

“Emang lo mau di DO?”

Teresa diam namun raut wajahnya tertekuk. Benar-benar kesal sekaligus tak bisa berbuat apa.

“Lagian gue gak mau kena masalah lagi sama orangtua gue.”

“Trus seminggu ini nilai Fisika kita harus bagus? Yang bener aja!” Teresa melipat tangannya di dada. Matanya memandang ke arah depan sementara Raskal menatap perempuan di sampingnya dengan pandangan datar. “Mana hari Rabu gue ulangan Fisika.”

“Lo pikir lo aja yang ulangan? Hari Sabtu juga gue ulangan Fisika,” kata Raskal. “Gak ada cara lain. Cuman itu satu-satunya.”

“Kenapa lo gak les privat kaya yang tadi lo bilang di dalem?”

“Gue lagi dihukum. Semua fasilitas kecuali motor gue disita,” kata Raskal. “Kenapa gak lo aja?”

Teresa mengusap wajahnya. “ATM gue diblokir,” ujarnya.

Keduanya saling pandang. Teresa mengerang kesal.

“Terus gimana?”

“Gak ada cara lain.”

“Kerja kelompok gitu? Lo sama gue?” ucap Teresa sambil menunjuk dirinya membuat Raskal mengangguk.

“Besok. Gimana?”

“Besok?!”

“Sialan jangan kenceng-kenceng,” protes Raskal.

“Lo yakin besok?”

“Menurut lo?”

Teresa memutar kedua matanya. “Oke besok. Di mana?”

“Tempatnya lo yang atur.”

“Oke gampang,” kata Teresa namun masih wajah kesalnya terlihat. “Kalau gak gara-gara diancem DO. Gue gak bakalan mau!”

“Ya terserah. Inget besok dan lo jangan kabur.”

“Hm.”

Teresa meninggalkan Raskal, melewati sebuah lorong lalu melihat sebuah kaca panjang yang bertuliskan ‘Sudah rapikah saya?’ di atas kaca itu. Sejenak Teresa diam. Pandangannya tertuju pada pantulan dirinya.

Gue gak rapi dan gak akan pernah rapi.

***

“Eh muka lo kenapa kusut gitu Kal?” tanya Douglas ketika Raskal berjalan menuju ke arah pertigaan koridor kelas X dan XI.

Ada 3 alasan mengapa teman-temannya berdiam di sini. YANG PERTAMA, mereka di sini mau MALAK uang jajan adik kelas dengan embel-embel senior. YANG KEDUA, mau CAPER ke adik kelas. YANG KETIGA, males ke kantin karena sedang ramai.

Lagi pula, siapa yang tidak takut dengan badan besar Douglas? Baru saja mereka, alias adik kelas yang keluar dari kelas itu hendak menuju ke kantin, mereka langsung mengambil jalur pintas agar tidak melewati Douglas, Verrel, dan Gathenk. Sebagian dari mereka pun memilih masuk kembali ke dalam kelas. Benar-benar payah, pikir Raskal.

“Lo kaya habis kena kurang point dari Pak Ahmad,” kata Gathenk. “50 apa 100 Kal?” tanyanya.

“Berisik lo Babi,” kata Raskal spontan.

“Buset galak. Gue bukan Babi,” gerutu Gathenk.

“Jawab lagi lo!” seru Raskal tambah galak.

“Berantem-berantem aja lo berdua,” Verrel melerai Raskal dan Gathenk. Gathenk lantas memasang wajah tak berdosanya.

Najis muka lo gak usah sok imut Thenk,” kata Douglas.

“Adek salah apa Bang Raskal?” kata Gathenk bersembunyi di belakang badan Douglas. Dengan alaynya dia mengerjapkan mata secara lambat-lambat pada Raskal yang suasana hatinya sedang panas. “Aku tuh gak bisa diginiiiiinnnnnn,” katanya lagi dengan nada di lebay-lebay-kan yang justru terdengar sangat aneh untuk seorang cowok.

“Lo kaya meme-meme di Instagram,” ujar Verrel jijik. “Lo cowok. Jangan melambai gitu ah.”

“Gue cuman pengin merubah suasana. Kayanya tuh cowok taksiran gue lagi panas hati.”

“Jadi lo naksir Raskal?” kata Douglas menoleh ke belakang, raut wajahnya tampak jelas benar-benar jijik.

“Kalau gue cewek sih iya,” jawab Gathenk. “Mungkin kalau gue lahir kembali ke kehidupan nanti jadi cewek, gue bakalan naksir Raskal. Cowok aja panes dingin ngeliat Raskal.”

“Sabar Douglas, untung Gathenk temen lo,” kata Douglas pada dirinya sendiri. Gathenk yang mendengar itu meringis pelan.

“Gue bercanda kali. Tapi serius. Yang, ‘cowok juga panes dingin kali ngeliat Raskal’ nah itu bener.”

“Wei-wei ada yang mau lewat. Waspada-waspada. Gue udah laper,” kata Douglas.

“Lo sih makan aja Glas. Apa-apa makan. Apa-apa makan,” cibir Verrel. “Pantes lo gak kurus-kurus.”

“Ya iyalah. Makan itu nggak ada duanya. Makan itu juga ibadah tau. Lagian lo mau mati gara-gara gak makan?”

“Sejak kapan makan itu ibadah?” bisik Gathenk pada Verrel membuat cowok itu mengendikkan bahunya, tak peduli.

“Eh gue denger.” Toleh Douglas ketika ia mulai menghadang koridor sendirian. Raskal terlihat berdiri di sebelah Verrel dengan menatap lurus pada Douglas yang sebentar lagi akan menangkap mangsanya.

“Gak ikutan lo Thenk? Lumayan buat beli kartu WIFI.ID,” kata Verrel menggoda Gathenk.

Mendengar itu Gathenk langsung semangat. “Ikut-ikut gue. Kalau itu sih gak nolak!” ujarnya semangat.

Padahal kalau Gathenk mau, Gathenk bisa ke rumah Raskal karena di rumah Raskal ada fasilitas WIFI yang selalu cowok itu gunakan untuk bermain sosial media atau game online. Contohnya DOTA seperti permainan kesukaan Gathenk atau Get Rich seperti permainan yang Verrel suka. Selama dihukum, Raskal hanya bisa menghilangkan jenuhnya dengan PS kesayangannya.

“Eh bagi duit dong. Lima ribu,” kata Gathenk pada seorang cowok yang baru saja akan melewati mereka. “Cepetan bagi. Buset dah lo lama bener koneknya,” paksanya. Cowok itu akhirnya memberi Gathenk uang lima ribu.

“Nah gini dong. Jadi kan lo boleh lewat,” katanya menepuk-nepuk punggung cowok itu selama tiga kali, sok akrab. Cowok itu akhirnya berlalu dari mereka setelah memberi uang.

“Cari mati tuh orang,” kata Raskal ketika melihat Teguh berjalan mendekati mereka. Teguh merupakan satu spesies dengan Erwin cuman bedanya cowok itu beda kelas dengan Raskal sehingga kesempatan untuk ‘memperbudak’ cowok itu hanya sedikit.

“Eh Teguh sini lo!” kata Douglas dengan suara yang sengaja diseram-seramkan. Teguh yang baru sadar di depannya ada Douglas, langsung berputar balik dan ingin lari darinya namun Douglas sudah menarik cowok itu dan membawanya mendekat.

“Main kabur-kabur aja. Mau ke kantin kan lo?” tanyanya. “Woi gue ngomong sama lo! Jangan dikacangin! Tuli lo?”

Teguh meneguk ludahnya, “Iya gue mau ke kantin,” cicit Teguh.

“Nah berhubung lo mau ke kantin. Beliin gue makanan gih sono. Apa aja terserah yang penting gue makan. Bakso juga boleh. Dibungkus tanpa kuah.”

“Tapi gue cuman bekel 10 ribu.”

“Ya itu masalah elo. Pokoknya gue gak mau tau. Lo harus beliin gue itu. Lima menit lo gak balik-balik, gue robohin itu warung Nyak lo.”

“E-eh jangan,” kata Teguh panik lalu menghela napas. Alamat ia tidak makan hari ini. Douglas itu kalau ngacem emang suka gak main-main. “Iya-iya gue beliin,” katanya lagi.

“Ya udah sana lo,” kata Douglas mendorong badan Teguh. “Sana!” bentak Douglas membuat Teguh merasa mengecil seperti kurcaci lalu ia mengangguk dan cepat-cepat menuju ke kantin.

“Nama doang Teguh, digertak segitu aja takut!” ucap Douglas.

Gathenk tertawa, “Lo tuh Glas. Emangnya Nyak dia punya warung?”

“Punya. Deket rumah dia. Itu tuh yang ada di kiri jalan. Namanya warung Bu Ani.”

“Untung gak warung Bu Sabar,” kekeh Verrel.

“Waktu gue jemput adik gue yang lagi main layangan di lapangan, gue liat dia bantuin Nyaknya di warung. Lagi nyuci piring,” kata Douglas dengan kedua tangan di pinggang.

“Lo bertiga gak kantin?”

“Gue sih gimana si Raskal. Gue gak laper-laper banget,” kata Gathenk melirik Raskal yang ternyata tengah melamun.

“EH TERESA!” teriak Douglas membuat Raskal menoleh dengan secepat kilat. Namun detik berikutnya wajah laki-laki itu kembali datar karena sadar telah dibohongi oleh temannya.

Douglas, Gathenk dan Verrel lantas tertawa bersama. “Ketauan ni yeee lagi mikirin Teresa,” Douglas memberi senyum paling menyebalkan yang pernah Raskal lihat. “Tuh adik kelas gue emang paling montok banget dari dulu,” katanya lagi dengan suara tok berlebihan di kata montok.

“Eh inget lo masih kelas XII,” kata Ghatenk.

“Yang penting gue pernah jadi senior lo-lo pada.”

Gathenk melipat tangannya di dada. “Kalau diinget-inget geli banget gue dulu manggil Douglas pake Kakak. Kak Douglas. Kak Douglas.”

“Lo kan dulu takut sama gue,” kata Douglas dengan alis naik turunnya. “Cuman ni curut aja yang berani sama gue,” katanya menunjuk Raskal.

“Jangan lupain dia juga,” kata Raskal. Mata cowok itu sudah tertuju pada seorang lelaki yang sedang berjalan di tengah-tengah dua temannya. Namanya Beling. Rumor yang beredar selama ini adalah bahwa cowok itu tengah menanam tanaman Ganja di rumahnya. Pernah ketauan membawa sekotak tembakau ke sekolah. Dan yang terakhir, nama cowok itu akan dicatat buku kelulusan sekolah sebagai berandalan kelas berat di SMA Nusantara. Berdampingan dengan nama Raskal.

“Beling,” sebut Raskal.

“Eh ada Yogi sama Saka juga tuh,” kata Gathenk. Sekarang ketiga orang itu menatap Raskal, Douglas, Verrel dan Gathenk. Para cowok biasanya akan tersinggung ditatap seperti itu oleh orang yang jenis gendernya sama dengan mereka.

Sejak kelas X. Kelompok Raskal dan Beling tidak pernah bisa akur. Rasa selalu ingin ‘di atas’ selalu menjadi perkara mereka. Saat-saat di mana ego sedang tinggi-tingginya memang menguasai masa-masa remaja. Apalagi SMA.

“Kenapa lo berempat ngeliat gue kaya gitu?” tanya Beling ketika ia sudah berada di dekat keempatnya. Laki-laki itu dengan angkuh menatap Raskal yang menaikan sebelah alisnya. “Merasa sok jagoan?” tanya Beling.

“Jangan di sini anjing,” desis Raskal pelan, menahan dirinya untuk tidak menerjang Beling sekarang juga.

“Jaga tuh mata,” kata Beling. Beling akhirnya berjalan meninggalkan tempat itu. Keempatnya berdiam menatap cowok itu dengan pandangan geram. Raskal yang sudah tidak bisa menahan dirinya langsung saja berjalan menuju Beling dan mendorong Beling dengan sebelah tangannya ke depan.

“Kal,” kata Verrel kaget dengan apa yang dilakukan Raskal. Kejadian itu begitu cepat.

“Maju lo!”

Douglas menggertakkan giginya. Ia tau Beling memang sengaja memancing kemarahan Raskal. Terlebih lagi Raskal memang mudah terpancing.

“Ling dia nantang!” kata Saka.

“Habisin aja Ling,” kata Yogi, menimpali perkataan Saka.

“Lo pikir gue takut?” kata Raskal.

“Apa maksud lo?” tanya Beling. Badan cowok itu sudah berada di depan Raskal.

“Seharusnya gue yang nanya. Apa maksud lo ngomong itu?” tanya Raskal. “Lo pikir gue sama temen-temen gue takut?”

Akhirnya Douglas memilih maju, bertindak. Kalau ia tidak segera bertindak untuk melerai sudah pasti mereka akan dikerumuni banyak murid. Dan terus terang Douglas malas. Terlebih lagi hanya karena masalah sepele.

“Buruan lo cabut,” kata Douglas pada Beling. “Eh, cabut!” suruhnya lagi.

“Douglas!” seru Raskal marah.

“Lo diem,” tunjuk Douglas pada Raskal yang terlihat geram. “Buruan cabut sana. Jangan lewat-lewat sini lagi lo bertiga,” katanya membuat Beling akhirnya mengalah. Kalau bukan saja karena Douglas memiliki banyak teman alias seniornya yang lebih ganas dari mereka, sudah pasti Beling akan meladeni Raskal. Akhirnya Beling memilih pergi bersama dengan Yogi dan Saka.

Setelah itu Raskal tanpa aba-aba langsung menarik kerah seragam Douglas. Satu tangannya hendak menonjok wajah Douglas namun kepalan tangan itu jadi melayang di udara. Wajah Douglas tampak datar sedatar-datarnya.

“Gak jadi mukul gue?” tanyanya membuat Raskal mengembuskan napas keras lalu menghempaskan kerah baju itu. Dia tidak bisa melakukan itu. “Jujur lo kenapa Kal?” tanyanya. Kini Douglas, Verrel, dan Gathenk menatap Raskal penuh tanda tanya.

Raskal masih tetap diam. Ketika melihat Teresa, Rivka, dan Varra yang sedang berjalan jauh di depan membuat Raskal berdecak pelan.

“Gue disuruh belajar Fisika selama 3 bulan sama Teresa.”

*****

Categories
Septihan

1. Dipanggil Berdua

Hidup cuman sekali jadi nikmati masa muda sebaik mungkin sebelum terlambat.”
— Teresa Rajata

1. Dipanggil Berdua

Upacara bendera!

Dua kata yang merupakan salah satu kewajiban seorang siswa untuk mentaatinya. Suka tidak suka. Mau tidak mau. Rela tidak rela mereka harus bangun pagi untuk mengikuti upacara bendera. Makanya sebagian murid membenci hari Senin karenanya. Selain kembali beraktivitas seperti biasa setelah libur sehari kemarin. Hari Senin adalah hari yang jauh dari hari weekend.

“Mati gue! Kena omel Bu Is lagi pasti!”

Cewek itu berdiri di seberang jalan sambil melihat gerbang sekolahnya yang sudah tertutup. Ada juga para siswa yang sedang duduk-duduk di bawah palang sekolahnya dengan wajah pasrah padahal mereka sudah lengkap dengan seragam sekolah dan topi abu-abu yang berlambang Tut Wuri Handayani itu. Sudah pasti mereka juga sama terlambat datang ke sekolah sepertinya.

Cewek berseragam ketat dan juga berambut cokelat pekat itu akhirnya menyebrangi jalanan yang padat oleh kendaraan-kendaraan dan berlari menuju ke belakang sekolahnya. Ketika ia hampir sampai, seorang cowok berjalan di sampingnya dengan tergesa-gesa sambil memasang kancing seragamnya.

“Terlambat lagi?” tanyanya membuat Teresa membuang wajah ke tembok sekolah. “Udah gak usah sok gak dengar. Gue cuman tanya,” katanya membuat Teresa menoleh pada laki-laki itu.

“Udah tau nanya.”

“Tadi kan gue bilang gue cuman tanya. Makanya kalau punya telinga tuh dipasang jangan dipajang.”

“Berisik banget lo. Cowok juga.”

“Emang siapa yang bilang gue cewek?”

“Lo kan tadi.”

“Terus emangnya lo cewek? Kelakuan aja udah kaya cowok.”

“Bisa diem nggak lo?”

Keduanya akhirnya diam, sama-sama sibuk dengan diri sendiri. Suara petugas upacara pun terdengar dari pengeras suara yang mengatakan bahwa pemimpin upacara dapat meninggalkan lapangan upacara.

“Lo mau manjat lagi?” tanya laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya ketika mereka sampai pada tembok sekolah yang tidak berisi pecahan botol kaca di bagian atasnya. Tentu saja pecahan botol kaca itu untuk menghindari anak-anak seperti mereka agar tidak bisa bebas manjat keluar masuk sekolah.

“Kalau lo udah tau jawabannya jangan nanya lagi!”

“Galak banget sih.”

“Berisik tau gak?” Teresa mengambil ancang-ancang untuk manjat. Laki-laki itu mengamati Teresa yang membuat Teresa menoleh padanya.

“Ngapain lo liat-liat?” tanya Teresa galak. Tentu saja cewek itu takut laki-laki mengintip rok yang sedang ia pakai. Meski menggunakan celana pendek di dalamnya, tetap saja rasanya hal itu tidak pantas. Teresa sadar roknya terlalu pendek bahkan sudah sering kena gunting guru-guru. Makanya ia membeli rok baru dan mengecilkannya hingga pendek kembali.

“Gue kan punya mata. Emangnya gak boleh liat?” tanyanya dengan santai. Ia sudah berpakaian sekolah yang lengkap, meski tidak rapi.

“Gak bolehlah! Gila lo.”

“Siapa elo bilang gak boleh?”

“Ya gak boleh! Jauh-jauh sana.”

“Lo aja yang jauh-jauh,” jawab laki-laki itu santai dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya. Agaknya Teresa perlu melepas sepatunya dan melemparnya sekarang juga ke kepala laki-laki itu. Tapi dengan posisinya saat ini, itu sangat mustahil.

“Cepetan lo! Jauh-jauh sana.”

“Kenapa gue harus jauh-jauh? Lama banget lo. Buruan sebelum Bu Is liat. Tuh guru bisa kumat lagi cerewetnya. Males gue dengernya.”

“Ya makanya lo jauh-jauh dulu!”

“Kelamaan lo,” katanya sambil mendekati Teresa. “Udah buruan. Lo mau kita dihukum? Gue sih ogah dihukum. Apalagi bareng lo.”

“Menurut lo gue juga mau dihukum sama lo? Gue juga ogah.”

“Cepetan woi,” kata laki-laki itu tidak sabar membuat Teresa mendengus.

“Minggir dulu sana!”

“Astaga,” katanya lalu mundur beberapa langkah. “Kalau lo mikir gue bakalan ngintip lo, gue gak bakalan ngintip. Lo aja gak sepadan sama mantan-mantan gue.”

“Terus gue harus peduli?” Teresa melempar tasnya hingga jatuh ke dalam sekolah. Cewek itu manjat tembok sekolahnya dibantu sebuah kursi. Teresa lalu melompat hingga ia sudah berada di dalam sekolahnya.

Tak lama laki-laki itu menyusul. Tidak perlu waktu lama untuk ia manjat tembok sekolahnya. Mungkin sudah biasa dan terlatih melakukan aksi seperti itu. Ingat dia cowok. Beda dengan Teresa.

Sekarang para murid yang baru saja pergi dari lapangan dan berjalan di dekat koridor Lab Bahasa memperhatikan mereka sambil mengipas-ngipasi wajah mereka dengan topi. Guru-guru yang semulanya saling bercanda menoleh pada mereka berdua.

“RASKAL!”

“TERESA!”

“Mampus Bu Is sama Pak Ahmad,” kata Teresa lalu dengan cepat-cepat menggendong tasnya.

Raskal yang ada di belakang Teresa langsung bergerak untuk mendekati perempuan itu. Sedetik kemudian Ia berdiri di depannya lalu detik berikutnya ia menarik sebelah tangan cewek itu dan mengajaknya untuk berlari bersama.

“TERLAMBAT LAGI KALIAN?!”

Keduanya hanya diam. Tidak menjawab. “Berhenti kalian! Berhentiiiiiii!!”

“Duh Bu gak bisa berhenti nih! Udah terlanjur!” teriak Raskal membalas teriakan Bu Is. Sementara Teresa terkejut karena laki-laki itu mengajaknya lari dan berteriak demikian.

“Raskal Dananjaya!”

“Gak bisa berhenti Bu!”

“Raskaaaallllllll!!”

Teriakan itu menggema namun Raskal tetap menarik tangan Teresa, mengajaknya lari bersama-sama membelah lautan manusia berseragam abu-abu yang ada di koridor sekolah.

***

“WOI RASKAL!”

Raskal yang baru saja masuk ke dalam kelas langsung disambut heboh oleh ketiga temannya. Mereka sedang duduk santai di belakang dan bersender di dinding. Ketiga lelaki itu sedang mengipasi wajah mereka dengan buku tulis masing-masing. Guratan-guratan merah tampak jelas di dahi mereka. Keringat juga mengalir di lehernya.

“Gila lu Gan,” kata Douglas.

“Jam berapa nih?” tanyanya sambil melihat jam dinding bulat hijau yang ada di atas papan tulis. “Udah jam sembilan habis upacara lo baru dateng. Memang-memang.”

Time is money, Bro!”

“Ter-ba-ik,” timpal Gathenk mengikuti logat salah satu tokoh film kartun negara sebelah. “Pasti lo manjat lagi ya Kal?” tanyanya yang duduk di sebelah Douglas.

“Itu lo tau Thenk,” kata Raskal lalu duduk di depan ketiganya. Cowok itu menyisir rambutnya dengan asal.

“Emang Bu Is gak marah Kal?” tanya Verrel. “Tuh guru tau lo telat?”

“Tau,” kata Raskal biasa. “Ya dia marahlah. Sampe teriak-teriak tadi. Orang gue sama Teresa ketangkep basah manjat lagi,” katanya.

“Teresa?” beo Douglas langsung menegakkan badannya. “Serius sama Teresa Kal?” tanyanya lagi membuat Raskal mengangguk.

“Lo kalau udah cewek aja cepet,” kata Raskal. “Mata lo udah ijo noh kaya liat duit,” katanya lagi membuat Douglas terkekeh.

“Tau tuh Douglas. Gue kesel banget. Dari tadi ribut banget pas baris di belakang godain adik kelas 11. Mana gue yang dimarahin Pak Ahmad lagi. Kan sialan ya,” kata Verrel.

“Ya elah Rel. Gue kan udah minta maaf. Lagian tadi bukan gue aja. Gathenk juga tuh,” katanya lagi sambil melirik Gathenk.

“Kok gue?”

“Ya lo juga.”

“Gue aja terus. Gue aja. Gue selalu salah.”

“Cepet amat lo baper.”

“Ribut lo bertiga,” kata Raskal.

“Gila nih kelas udah kaya sauna aja!” kata Douglas sambil melirik dua AC yang ada di dalam kelasnya. Tangannya masih bergerak untuk mengipasi wajahnya sementara Gathenk membuka seragam sekolahnya dan mulai mengipasi dirinya.

“Bayar SPP aja mahal tapi AC gak pernah hidup!”

“Eeeh, mantan senior. Awas lo didenger sama guru-guru. Bahaya Glas,” kata Gathenk.

“Bodo amat gue,” ujarnya cuek. “Emangnya di sekolah ini yang berani sama gue siapa? Gue hajar nanti.”

“Gue,” kata Raskal polos.

“Ya nggak lo juga kali Kal! Yang lain gitu selain kalian. Lo kan atasan gue. Ah gimana sih,” katanya.

Raskal hanya bergumam mendengarnya.

Douglas, cowok badan gede tukang bantai adik kelas yang lemah. Sebenarnya Douglas adalah senior mereka karena cowok itu tidak naik selama 1 kali saat kelas 11. Kalau sudah melihat ia berada di lorong kelas 10 dan 11 maka sudah pasti ia sedang melancarkan aksinya untuk memalak uang jajan para adik kelas. Kesan pertama bertemu Douglas mungkin cowok itu terlihat menyeramkan, tidak mau berbaur dengan teman-temannya, sombong dan juga penentang segala peraturan sekolah yang terlalu ketat. Namun sebenarnya laki-laki itu adalah orang yang ramah-pada orang-orang tertentu.

Gathenk, cowok warnet alias pencinta game online akut. Sering bolos karena tidak bisa lepas dari game online yang sudah merupakan separuh jiwanya. Ia terbiasa tidur di warnet dan juga mojok di kelas dengan laptopnya. Biasanya mungkin anak lelaki nonton yang aneh-aneh apalagi saat mojok namun Gathenk akan lebih memilih bermain game-nya.

Verrel, cowok yang terlihat mungkin lebih berwibawa dari keduanya. Hal itu mungkin karena ia anak seorang pejabat. Meski begitu, Verrel sama nakalnya dengan Duoglas, Gathenk dan Raskal. Berteman dengan mereka bertiga membuat Verrel merasa beruntung karena ketiga kawannya itu merupakan pentolan sekolah yang sangat disegani di SMA Nusantara.

Terutama Raskal yang namanya sangat tersohor. Itu semua karena laki-laki itu sangat aktif pada tawuran dan berbagai petarungan dengan murid-murid sekolah lain. Semua sekolah yang ada di kawasan dekat sekolahnya sudah pernah ia jajah. Maka tidak heran Douglas pun takluk padanya padahal dulu mereka saling bermusuhan karena beda angkatan.

“Eh di luar yok, panas banget gue gak tahan,” kata Gathenk.

“Nah ide bagus tuh Thenk mumpung belum ada guru,” timpal Verrel.

Keempatnya mulai berjalan keluar kelas namun ketika seorang murid lelaki melewati mereka, keempatnya berhenti dan memandangnya yang langsung duduk di bangku yang letaknya tepat berada di meja guru.

Raskal mendekatinya dan berdiri di depan meja cowok itu dengan kedua tangan memegang ujung meja. “Eh, Erwin,” panggilnya membuat Erwin mendongak dan menatap Raskal. Sekarang Raskal terlihat sedang menatapnya dengan tatapan itu. Tatapan yang kerap kali membuat Erwin merasa dirinya menciut dan takut.

Erwin berdehem. “Kenapa Kal?” tanyanya meski sekarang ia sudah takut setengah mati melihat wajah Raskal.

Tiga minggu yang lalu Raskal marah besar padanya dan melempar kursi kelas pada Erwin karena tidak mau menuruti perkataannya. Meski tidak kena, namun tetap saja bayangan tentang itu berbekas di kepalanya yang membuat Erwin masih takut bukan main pada Raskal. Selama satu kelas dengan Raskal, Erwin tau cowok itu memang memiliki sifat yang pemaksa. Apa yang ia inginkan harus ia dapatkan. Ia selalu berkuasa penuh pada orang-orang yang tunduk padanya.

“Gue belum piket. Bisa lo piket sekarang?”

“Gue?” tanya Erwin.

“Enggak tapi Bapak lo,” kata Raskal. “Yaiyalah lo! Emang siapa lagi?” bentakan Raskal membuat Erwin makin menciut di tempatnya.

“Buruan sebelum gue marah lagi,” katanya membuat Erwin langsung berdiri. Tanpa menatap Raskal, cowok itu berjalan cepat menuju ke pojok belakang untuk mengambil sapu.

“Nyapu yang bersih,” ujar Raskal. “Eh Ilo gue udah piket ya,” katanya pada Ilo yang hanya diam di tempat duduknya. Cowok yang mejabat sebagai ketua kelas itu hanya mengehela napasnya ketika melihat Raskal dan ketiga temannya keluar kelas diiringin gelak tawa bahagia.

Bahagia di atas penderitaan orang lain.

****

“Teresa lo kok baru dateng? Kirain gue lo bolos,” suara cewek imut itu terdengar. Ia berlari menuju ke Teresa yang baru saja masuk ke dalam kelas. Teresa melihat Varra dan Rivka berjalan menuju padanya.

“Lo telat lagi Sa?” tanya Rivka.

“Lo tuh gimana sih Riv. Ya iyalah gue telat. Gak liat apa?” Teresa membalas sebal.

Rivka cengengesan. “Ya gue kan bertanya, Sa. Apa salahnya?”

“Udah ah gue mau masuk kelas.”

“Eh lo kok bisa telat?” tanya Varra. “Pasti lo kemarin clubbing ya makanya telat?”

“Hm. Kaya yang lo bilang Ra.”

“Gue selalu tau lo kan?”

“Hm.”

“Dah ah gue mau ke kelas. Bahaya kalau Bu Is sampe liat gue. Gue lagi jadi buronan tuh guru BK sekarang.”

“Emang tuh guru tau lo telat?”

“Tau banget,” katanya. “Sialnya lagi gue sama Raskal ketauan telat bareng.”

“Raskal?” tanya Varra dan Rivka spontan bersamaan.

Teresa mengangguk. “Bikin mood gue turun banget. Tadi gak sengaja bareng lewat belakang sekolah dan kita manjat.”

“Lo berdua emang gila,” ungkap Rivka geleng-geleng kepala. Meski Rivka dan Varra memiliki perilaku yang hampir sama dengan Teresa namun sampai sekarang keduanya tidak pernah sampai sebegitunya. Mereka hanya berani ketika bersama Teresa.

“Gue tau itu.”

“Ya udah sih jangan dipikirin,” ucap Varra sambil membenarkan anak rambutnya yang terbang karena angin. “Mending kita masuk kelas aja.”

 “Sa! Sa! Lo dipanggil Bu Is ke ruang kepsek!” kata Rivka saat perempuan itu baru saja selesai berbicara dengan salah satu adik kelas yang memberitahunya bahwa Teresa dipanggil. “Kalau lo nggak ke ruang Kepsek. Orangtua lo bakalan dipanggil ke sekolah.”

Teresa menghela napas dan berdecak kesal. “Bisanya ngancem aja!”

*****

Categories
Septihan

PROLOG | 180 DERAJAT

PROLOG

“Udah berapa kali Papa sama Mama bilang sama kamu Raskal. Jangan berkelahi di sekolah! Kamu bikin ulah terus tapi nggak bisa bertanggung jawab! Papa sama Mama malu dipanggil terus sama guru BK kamu! Apa kamu gak malu Raskal?!”

Pemuda dengan seragam sekolah putih abu-abu sedikit terkena noda merah darah yang sedang duduk tegap di sofa dengan pandangan sedikit merunduk ke karpet itu sedang disidang kedua orangtuanya.

Ia memegang lalu menggerak-gerakkan rahangnya yang terasa sakit. Keadaannya saat ini babak belur, namun tidak terlalu parah. Cowok itu masih ingat kemenangannya saat ia berhasil mengalahkan lawannya. Tentu saja kalau ia tidak menang, harga dirinya akan jatuh.

Bara, ayahnya menghela napas. Begitu juga dengan Vina, ibunya. Ia hanya bisa diam melihat kemarahan suaminya.

“Udah kelas 12 tapi kelakuan kamu masih kaya anak kecil,” ucap ayahnya kontan membuat Raskal menatapnya. Pria itu sedang memunggunginya. Ia masih lengkap dengan pakaian kantornya. Berjas hitam eksekutif. Sebelah tangannya berada di dinding untuk menyangga tubuhnya dan yang satunya lagi dipinggang.

“Kamu juga Vina. Terlalu memanjakan dia.” Kini Bara menyalahkan Vina yang ada didekatnya.

“Aku? Kamu juga Bara! Kamu terlalu sibuk sama kerjaan kamu. Seharusnya kamu juga bisa mengawasi Raskal,” kata Vina balik menyalahkan dan kini Raskal muak setengah mati mendengarnya.

“Udah selesai kan? Raskal capek. Mau tidur,” kata Raskal ketus dengan bangkit sambil menepuk kedua celananya yang membuat Bara berbalik badan dan melihat putra sulungnya itu.

“Liat. Dia jadi gak tau namanya sopan santun begitu,” ucap Bara pada ibunya yang membuat Raskal mengeraskan rahangnya.

Nakal, pemberontak, dan keras kepala. 3 sifat yang dimiliki Raskal. 3 sifat paling dominan yang juga ia miliki dulu sewaktu remaja seperti Raskal. Mungkin ini yang disebut karma. Karma untuknya.

Kerjaan Raskal kalau tidak menghambur-hamburkan uang dan pergi ke tempat malam untuk dugem pasti main billiard dan berkelahi. Tabiat itu benar-benar tidak bisa dirubah dari Raskal.

“Dompet kamu mana?”

“Dompet? Tapi Pa….

“Dompet kamu, Raskal.”

Raskal akhirnya merogoh kantung celananya dan memberikan dompetnya.

“Kunci mobil. Kartu kredit. Handphone.

“Jangan handphone Raskal Pa.”

“Mau Papa sita motor kamu juga?”

Raskal mendengus lalu memberikan semua yang di mau ayahnya.

“Udah?” tanya Raskal.

Bara hanya mengangguk. Namun jelas sorot marah di matanya belum padam. Raskal bisa saja dipukul layaknya hukuman yang diberikan ayahnya sejak dulu karena ia anak laki-laki tertua namun kali ini tidak begitu. Hanya fasilitasnya yang disita. Raskal akhirnya memalingkan wajah, berdecak dan akhirnya berjalan untuk menuju kamarnya dengan berat hati.

****

Pada hari, jam, menit dan detik yang sama. Seorang cewek berambut cokelat buatan dan berwajah oval itu sedang tidur terlentang di atas kasurnya. Matanya yang beriris hitam menatap pada langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Kepalanya kini menoleh ke sebelah kanan dan melihat vape ada di dekat bantalnya. Kini tangannya terulur untuk mengambil vape itu dan langsung menghisapnya. Ia mengembuskannya sehingga mendadak kamarnya dipenuhi asap.

DOR DOR DOR!

“Teresa buka pintunya!” Suara teriakan dibarengi dengan gedoran pintu itu terdengar kesal dan semakin menjadi-jadi.

“Teresa buka pintunya!” Suara gedoran itu semakin kuat dan keras. Siapa pun yang mendengarnya pasti tau kalau gedoran itu berasal dari orang yang sedang marah.

“Pasti kamu kan yang mecahin kaca di kamar Papa sama nyuri kartu kredit di laci kamar?”

Teresa melirik pintu kamarnya. Pintu itu sudah sering kali diganti karena sering dirusak Theo, ayahnya. Tentu saja akibat gedoran-gedoran dan dobrakan pintu dari ayahnya.

“Teresa Papa tau kamu di dalem!”

“BLABLABLABLA TERESA GAK DENGER!” balas Teresa lebih kencang dengan menutup kedua telinganya namun ia jelas mendengarnya. Ia hanya mengucapkan itu. Sejatinya ia memang ingin membuat ayahnya marah.

“Teresa! Buka pintunya!”

“Males!”

“Teresa!”

Gedoran pintu itu masih saja berlanjut. Teresa mengambil sebuah bantal jantung berwarna merah di sampingnya dan mengambil gunting di meja dekat kasurnya lalu mengguntingnya. Suara gedoran kini berubah menjadi suara tinjuan yang membuat Teresa menghaburkan seluruh isi dari bantal yang ia pegang. Kini seluruh kamarnya penuh dengan bulu-bulu berwarna putih.

Sekarang suara gemerincing kunci mulai terdengar yang membuat Teresa menoleh pada pintu dan Theo sudah berdiri di sana bersama Thea, ibunya. Keduanya menatap dirinya dengan pandangan yang tidak bisa Teresa artikan.

“Mama,” kata Teresa.

“Sini kamu!”

Teresa terkejut dengan suara bentakkan Theo itu dan dengan gerak enggan ia mendekati Theo. Ia tidak peduli kalau kena pukul, yang penting ia bisa melihat orang yang ia sayang.

Theo geleng-geleng kepala dengan sikap anaknya dan penampilannya yang berantakan. Baju sekolahnya pun masih melekat di badannya. Kamarnya berubah menjadi berantakan padahal tadi pagi Theo sempat melihat kamar ini masih rapi. Dirapikan oleh pembantu rumah tangganya.

“Kamu itu Teresa!”

Teresa meniup poninya yang panjang itu ke atas dan mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja lalu merangsak keluar dari dalam kamar dan berlari turun melewati tangga melingkar rumahnya.

“Teresa! Teresa!! teriakan Theo terdengar sangat marah sambil mengejarnya namun Teresa sudah keburu dibawah. Cewek itu masuk ke dalam mobilnya. Menghidupkan mesin. Suara gedoran kaca mobil oleh Theo kini membuat Teresa langsung menoleh dan menancap gas lalu pergi dari rumahnya.

****

Categories
Septihan

6. KEJUTAN PAGI

6. KEJUTAN PAGI

Memberi perhatian sering. Mengatakan suka tidak pernah. — Jihan Halana

“Pagi Septian!”

Septian yang baru habis mandi dan keluar kamarnya langsung berjengit begitu menemukan seorang perempuan nyasar. Di depan kamarnya pula!

Ngapain Jihan pagi-pagi di rumahnya?

“Kaget banget. Eh, lo baru habis pake baju sekolah ya? Untung gue gak jadi masuk ke kamar lo tadi.” Jihan cengengesan membuat Septian merubah raut mukanya.

“Udah mau telat nih. Kenapa lo gak ke sekolah?”

“Lo ngapain bisa di rumah gue?” hanya itu yang keluar dari mulut Septian. Terkejut. Tentu saja.

Ini cukup berbahaya. Rumah Septian yang ini kosong belum ada satpam. Hanya ada pembantu yang biasanya datang ketika rumah sedang sepi. Pembantu itu tinggal di dekat rumah Septian. Berduaan seperti ini akan membuat tetangga berpikir curiga tentangnya.

“Bisa dong, apa yang gak bisa sama gue?” Jihan ini. Benar-benar membuat Septian ingin mencekiknya namun cowok itu lebih memilih turun tangga. Mengabaikan Jihan.

“Di rumah lo gak ada makanan?” Jihan menyambar tempat duduk di kursi meja makan.

“Septian kok diem aja sih?”

“Duduk ruang tamu aja.”

Septian akhirnya gerah sendiri melihat kelakuan Jihan.

“Ih galak, sebentar doang kok. Gue buatin makanan aja deh gimana? Tenang aja gak pake jampi-jampi kalau masakan gue.”

Lagi-lagi Septian mengabaikan Jihan. Sebelah tangan Septian masuk ke dalam saku celana.

“Kayaknya gue bakal manggil lo Tian deh. Lebih seru. Tian. Cuman gue doang yang manggil lo begitu kan?” Jihan masih betah duduk di kursi meja makan.

“Itung-itung panggilan spesial.” Jihan terkekeh tapi Septian justru minum air dengan tenang.

Rambut Septian sedang basah. Mungkin sebentar lagi kering. Tapi cowok itu tetap saja mengabaikannya. Kedua matanya pun enggan memperhatikan Jihan padahal Jihan sudah dandan sejak jam 3 pagi tadi. Berlebihan? Tidak, Jihan hanya ingin Septian memuji penampilannya meski Jihan tahu Septian tidak akan melakukan itu.

“Lo tinggal di sini sendiri? Katanya lo tinggal sama Nenek Kakek lo. Mana mereka?”

Septian lagi-lagi mengacanginya.

“Gue tau rumah lo dari Jordan,” cetus Jihan setelah lama Septian bersikap tak acuh dengannya.

“Gue tau,” jawab Septian simpul membuat Jihan melotot.

“Kok lo tau?!” Jihan menatapnya penasaran. “Harusnya kan lo gak tau kalau gue ke sini karena Jordan minta tolong gue buat ngehibur Lala. Gak seru banget sih lo jadi cowok. Bener-bener ngebosenin.” Jihan berdiri.

Septian menaikan sebelah alisnya. “Bukannya lo tadi yang bilang kalau lo tau rumah gue dari Jordan? Gue cuman bilang gue tau. Lo sendiri yang memperjelas alasan dibalik lo bisa dateng ke sini. Itu karena Lala.”

Yang tadi adalah jawaban paling jenius yang pernah Jihan terima. Rasanya mau mati saja mendengar suara Septian yang super ketus. Cowok ini. Tidak bisakah berpura-pura untuk menyenangkan hati Jihan sedikit saja?

Jihan yakin Septian pasti tidak pernah pacaran semasa hidupnya. Benar-benar membosankan.

Septian beralih menggunakan sepatunya. Cowok itu memilih menggunakan sepatu berwarna putih polos. Seperti kebanyakan temannya. Septian menggambil tas dan kunci motornya yang tadi ia taruh di atas meja makan.

“Mau sampe kapan lo di situ?” Septian bertanya mengaburkan pandangan Jihan yang sedang menatapnya dengan pandangan terpesona. Tahu-tahu Septian sudah berdiri di depannya saat Jihan berdiri di pinggir meja makan. Kedua tangannya memegang erat sisi meja itu saat Septian merunduk agar bisa mensejajarkan kedua mata mereka.

“Lo tau dateng ke rumah cowok yang tinggal sendirian itu bahaya. Lo gak lupa kan kalau gue ini cowok dan lo itu cewek?” Septian seperti sedang memperingati lalu mengerjap datar dan mundur. Meninggalkan Jihan yang masih menahan napas. Tubuh perempuan itu masih seperti patung.

Septian yang sudah berbalik badan. Tersenyum kecil. Ada hiburan lucu pagi ini.

Lalu detik-detik berikutnya. Teriakan Jihan mengisi rumah besar itu. Membuat Septian yakin, kalau sekali lagi Jihan berteriak. Rumahnya bisa roboh.

“SEPTIAN NEBENGGG!”

Memang cewek itu selalu bikin repot kan?

****

Seperti biasa. Mauren ingin menyapa Septian di parkiran namun begitu melihat siapa yang dibonceng Septian membuat Mauren terkejut. Orang itu adalah Jihan. Saingannya untuk mendapatkan hati Septian. Malah kini Septian dengan berbaik hati memegang sebelah tangan Jihan agar cewek itu bisa turun dari motornya.

“Mauren,” tarikan itu membuat Mauren menoleh dan menemukan Mona serta Wenda.

“Apa sih? Gak usah gangguin gue deh! Tuh cewek genit banget sama Septian. Gue mau ke sana!” Mona menghalangi langkahnya. Berdiri di depan Mauren.

“Lo gak boleh nyerang dia di depan Septian,” usul Mona. “Pake cara cantik dong.” Mona ini memang jelita rupanya tapi semua orang tahu kalau cewek ini licik. Satu-satunya anggota Ravispa yang memanfaatkan kecantikannya untuk memikat semua cowok yang ia mau. Sayang si ketua Ravispa itu tidak tertarik padanya. Kalau saja ketuanya itu tertarik pada Mona—sudah pasti Mona di Ravispa akan jadi ratu. Itu adalah posisi yang paling Mona incar selama ini lewat Galaksi. Sayang, harapan itu terdengar mustahil. Kenyataan menyebut bahwa takdir Galaksi adalah menyukai perempuan biasa yang bukan datang dari kalangan anak-anak Ravispa.

Tapi baguslah. Mauren juga tidak akan rela bila orang sebaik Galaksi jatuh dalam pelukan Mona.

“Bener tuh. Lo harus denger kata-kata Mona,” tawa Wenda terdengar. “Mona kan lebih pengalaman dari lo, Ren. Dia pasti tau apa yang harus dilakuin.”

“Pengalaman gimana? Dapetin Galaksi aja gak bisa!”

“Tapi seengaknya dia lebih pengalaman sama cowok dibanding elu.”

“Gak perlu. Gue bisa sendiri!” Mauren kembali ingin menghampiri Septian namun Mona dan Wenda sontak menahannya saat gerombolan Galaksi datang dari arah gerbang sekolah.

“Gue tau lo bisa sendiri Ren tapi jangan serang tuh cewek di sekolah. Kalau mau di luar sekolah. Lo cewek cantik. Ketua cheers. Mainnya juga harus cantik.” Mona melepaskan tangannya. Mauren juga mengurungkan niatnya ketika melihat semua teman-teman Septian ada di sana sambil menggoda Jihan yang berusaha dilindungi Oji. Namun Jihan justru berlindung di balik punggung Septian.

“Jadi gue harus gimana?”

“Pulang sekolah. Di gedung tua deket SMA Kencana,” jawab Mona membuat Mauren memandang Jihan yang baru saja senyum-senyum sambil masuk ke lorong depan.

“Markasnya Avegar?” Mauren bertanya kaget bercampur cemas.

“Kenapa? Lo takut, Ren? Bukannya lo yang bilang bisa ngatasin sendiri?”

“Tapi enggak di sana juga.”

“Di sana atau enggak sama sekali, Ren.” Mona mengendik.

“Itu tempat yang gak bakal dilewatin mereka apalagi sama orang yang modelnya kaya Septian.” Mona benar. Itu adalah tempat yang mungkin terlarang didatangi oleh anak-anak seperti mereka kecuali dalam keadaan tedesak.

Tapi, haruskah Mauren melakukan itu?

****

“Gue gak tau kalau lo udah berani ngajak Jihan bareng ke sekolah, Sep. Lo berdua pacaran?” tanya Guntur, sedikit ingin mengorek informasi.

“Emang cowok kaya lo bisa pacaran, Sep?”

“Kurang ajar lo Tur!” tawa Jordan terdengar di belakang tubuh Septian.

“Teman macam apa lo hah?”

“Iya kan siapa tau,” Guntur terkekeh.

“Habisnya gue kan takut Asep abnormal. Sukanya sama laki bukan sama cewek.”

“Itu mulut lo dibenerin dulu sana ke bengkel. Nuduh orang homo terus. Jangan-jangan lo lagi yang homo. Gak kasian lo sama Asep? Tekanan batin ntar anak orang lo gituin.” Galaksi masih menulis di buku tulisnya.

“Nanti dia pindah ke kelas unggulan baru tau rasa lo semua!” ujar Jordan.

Satu kelas pun tahu kalau Septian bisa saja minta dipindahkan ke kelas unggulan kapan saja dia mau. Malah guru-guru akan semangat dan tambah memujinya kalau Septian sampai mau dipindahkan ke kelas unggulan. Dulu, saat kelas sepuluh. Septian berhasil meraih juara olimpiade Matematika. Juara satu plus tawaran untuk menjadi anggota OSIS agar bisa menjadi ketua. Membuat namanya tambah tenar lalu langsung ditaruh di absen kelas unggulan dan dinyatakan bisa belajar di kelas itu.

Tapi entah bagaimana, Septian menolak semuanya. Katanya dia tidak mau. Tak ada alasan Septian menolak. Ia hanya bilang begini; “Kalau saya pindah kelas emang apa untungnya buat saya?

Wali kelasnya tak bisa melarang. Septian berhak menolak. Maka menetaplah Septian di kelas ini. XII IPA 5. Di kelas para murid nakal yang sekarang merupakan teman-temannya.

Septian memang orang yang pendiam, rajin belajar dan membosankan. Tapi, berada di dekat teman-temannya membuat cowok itu merasa hidup. Seperti ada yang membuatnya semangat untuk hidup dan datang ke sekolah.

Selama ini hidup Septian sepi. Tinggal di rumah besar dengan semua yang sudah ia miliki sejak lahir. Apa pun yang ia inginkan akan datang dalam sekejap mata. Apa pun itu. Tapi Septian tidak punya teman. Bahkan untuk mengobrol. Terbiasa diam, menjadikannya orang yang lebih sering mengamati.

Akhir-akhir ini yang sering Septian amati adalah gadis itu. Jihan Halana.

“Sep, gue mau ngajak lo makan di warung deket SMA Kencana nanti. Lo bisa?” tanya Bams.

Septian mengerutkan kening karena Bams tiba-tiba sekali.

“Bisa. Kapan?”

“Pulang sekolah.” Bams menarik bibirnya membentuk senyum kecil.

****

“Boleh gue duduk di sebelah lo?” Oji datang. Sementara itu tugas Jihan adalah menyambut Oji. Jadi Jihan membiarkan cowok ini duduk di sebelahnya.

“Kenapa lo mau duduk di sini?”

Oji tersenyum tipis.

“Memangnya kenapa kalau gue duduk di sini?”

“Berharapnya Septian ya?”

Jihan meringis lalu menggeleng. “Enggak kok, kalau lo mau duduk ya duduk aja kan. Kenapa mesti izin?”

“Karena lo lebih dulu duduk di sini kan?”

Jihan pikir itu alasan yang logis maka ia mendiamkan Oji. Berharap agar cowok itu segera pergi darinya. Bukannya Jihan tidak senang dengan kehadiran Oji. Namun Jihan, kalau bukan dengan Septian. Cewek itu susah apalagi beradaptasi dengan cowok. Gerakannya pun jadi terbatas. Boro-boro melihat wajah Oji. Melihat matanya saja Jihan tak berani.

“Jadi gimana Septian? Lo masih suka sama temen gue?” Oji bertanya.

“Muka lo jangan tegang gitu, Han, gue kan cuman ngobrol sama lo. Bukan mau nodong lo.”

Oji benar. Seharusnya Jihan tidak perlu setegang ini saat berhadapan dengannya tapi situasi ini sulit sekali dijelaskan.

“Han? Kenapa lo diem aja?”

“Lo bisa tolong ikut gue gak?” suara berat di samping kepala Jihan membuatnya menoleh shock pada Septian yang sudah ada di sana. Sejak kapan Septian ada di sini? Tadi padahal Jihan melihat Septian sedang bersama Mauren di dekat lapangan.

Jihan mengerjap lalu mengangguk begitu kedua mata Septian tampak serius. Ingin membantah pun Jihan ragu.

“Gue ikut Septian dulu ya, Ji.”

Oji mengangguk maklum, “Hati-hati, cantik.” hanya itu pesan dari Oji.

Septian sedang menggunakan topi. Cowok itu melirik Jihan lalu mendengus. “Jangan senyum-senyum kaya gitu sama Oji.”

“Hah? Kenapa emangnya?” Jihan bertanya linglung.

“Udah ikutin aja apa kata gue.” Septian melepas topi hitamnya lalu memasangkannya pada Jihan membuat wajah Jihan ikut tertutup berserta rambutnya yang berhasil menusuk mata.

Septian berdecak, tidak pernah merasa begini. Sebelumnya Septian baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang dia berubah?

Memangnya karena apa?

*****

Categories
Septihan

5. TUKANG PAKSA

5. TUKANG PAKSA

Mencintaimu itu luka dengan segala konsekuensinya. — Jihan Halana

“Septian kapan dong nerima cinta gue?” Jihan sedang mengikuti Septian.

Gadis itu berjalan di samping Septian yang sengaja mempercepat langkah kakinya di lorong sekolah yang sedang sepi.

“Septian! Ihhhh! Jadi kapan dong?!” tanya Jihan, tidak mau menyerah juga dengan sikap Septian.

“Septiaannnn! Jaket Ravispa lo masih di gue nih! Kalau lo ngasih ini ke gue itu artinya lo peduli sama gue kannnn??!” tanya Jihan namun Septian tetap defensif dengan sikapnya.

“Apa jangan-jangan selama ini lo juga suka sama gue ya tapi pura-pura gak suka?!” tebak Jihan, hiperbola.

“Ih serem dong kalau lo kaya gitu! Gak kebayang deh gue bisa diamuk ratusan cewek di SMA Ganesha kalau bener kejadian!”

“SEPTIAANN!! IHHH DIEM AJA TERUS!”

“DASAR JUTEK! SAYANG GANTENG TAPI BISU! DASAR PENDIEM!”

“SEPT—” Septian memotong ucapan Jihan membuat Jihan mundur karena Septian merangkum kedua tangannya di pipi Jihan. Membuat bibir Jihan jadi mencebik karenanya. Septian sangat dekat dengannya. Wajah cowok itu ada di depannya yang membuat kedua mata Jihan membulat merasakan deru napas hangat Septian.

“Lo bisa diem gak? Gue pusing denger lo teriak-teriak terus,” Septian berkata tajam membuat Jihan tercekat. “Lebih baik lo pulang dan jangan ganggu gue lagi. Lo ngerti gue terganggu sama lo?”

“Bagus dong! Makanya cepet dijadiin pacar biar gak ngeganggu terus!” Jihan terus mendesak.

Septian menghela napas malas. “Gue gak suka sama lo,” kata Septian, masam. Lalu cowok itu melepaskan tangannya dari wajah Jihan.

“Kenapa sih gak suka sama gue? Emangnya gue kurang apa? Gue tinggi, putih. Muka? gak cakep-cakep amat sih. Tapi lumayan buat dijadiin pacar. Buat orang yang mukanya kaya gue yang pas-pasan emang susah dapetin lo yang udah ganteng sejak lahir.”

“Apa jangan-jangan lo homo ya? Lo gay ya Septian?” tanya Jihan membuat Septian melotot padanya.

“Jangan sembarangan.”

Jihan mengembuskan napas sebal. “Iya terus kenapa gak mau jadi pacar gue?”

Septian berhenti. Cowok itu mengambil jaket Ravispa yang dipegang Jihan. “Lo cewek. Jangan rendahin harga diri lo terus di depan gue.”

Jihan tercengang mendengarnya. Perempuan itu menatap Septian dengan pandangan tak bisa dibaca. “Maksud lo apa?”

“Lo itu perempuan. Bukan tugas perempuan ngejar-ngejar cowok. Kalau emang gue gak suka sama lo harusnya lo mikir. Ngapain juga lo ngejar-ngejar orang yang gak suka sama lo? Kurang kerjaan. Mending lo belajar di rumah biar pinter.” dibalik sikap Septian yang ketus. Jihan tahu Septian hanya ingin Jihan menggunakan waktunya dengan baik.

“Hidup lo belajar muluuu! Ah, gak asik banget!” dengus Jihan.

“Sekali-kali pacaran kek!”

“Iya nanti tapi gak sama lo,” jawab Septian.

“Ih kenapa? Boong kan? Boong? Boong dong Sep?” tanya Jihan melotot pada Septian. Perempuan ini benar-benar menuntutnya ini dan itu yang membuat Septian muak.

“Udah sana balik lo belajar jangan gangguin gue. Belajar biar lulus yang bener.”

“Makanya ajarin dong,” ucap Jihan manja membuat Septian menghela napas, mundur lalu geleng-geleng kepala heran.

“Terserah lo mau ngapain. Gue udah males ngurusin lo.”

“Masa sih lo males ngurusin gue? Itu apa tadi berantem sama Marcus?”

“Tau dari mana lo?” Septian bertanya membuat Jihan menampilkan senyum lebar.

“Taulah! Jihan gituloh!” Jihan malah bercanda membuat Septian tidak mau meladeninya. Tapi sebelum Septian pergi meninggalkan Jihan. Cowok itu berkata menyakitkan yang membuat Jihan terpaku.

“Gue peduli sama lo bukan berarti suka. Jangan suka baper duluan.” Septian lalu benar-benar pergi meninggalkan Jihan yang tercenung menatap lantai lorong sekolah dengan pandangan kosong.

“Septian jelekkkkkkkkkkk!!”

Tapi Septian dengan santai menjawab, “Ya, cuman lo yang berani bilang gitu.”

****

“Lo ngapain?” tanya Bams melongok di samping Nyong.

“Mesen mie. Lah lo sendiri ngapain?” tanya Nyong pada Bams.

“Pesen mie juga,” jawab Bams sambil cengengesan.

“Ya udah berarti kita sama!” Bams dan Nyong lalu tertawa geli bersama. “Ada ye orang gaje kaya kita. Dikit-dikit ketawa. Dikit-dikit ketawa.”

“Kan lo yang gak jelas! Pake ngajak-ngajak gue segala,” kata Nyong pada Bams lalu memalingkan wajah pada Septian.

“Oi bwang Asep! Makan dulu sini jangan menyendiri di posko sana. Udahlah, anak-anak Avegar kaya Marcus tuh omdo! Omong doang. Gak bakalan dateng kalau ditantang duel. Kau kaya gak tau tabiat mereka saja.”

“Mie-mie mulu! Ntar cepet sakit lo berdua baru tau rasa!” Jordan menyela sambil mengambil segelas plastik hijau yang berisi es teh dingin lengkap dengan es batunya. Cowok itu duduk di sebuah kursi panjang—berdampingan dengan Oji.

“Dan, lo gak boleh kaya gitu,” tegur Oji, merasa ucapan temannya kelewatan. “Tapi apa yang diomongin Jordan ada benernya juga. Lo berdua bisa sakit makan begituan mulu. Lo juga Nyong! Tuh rambut lo nanti bentukannya kaya mie yang lo makan. Kan kemarin udah lo catok pake catokannya si Mona!”

Nyong tertawa. “Dicatok dikit doang gak bakal ngebuat rambut gue lurus kaya Galak. Ini rambut super kebal dari jaman Majapahit!”

Oji tertawa hingga mukanya merah mendengar penuturan Nyong. “Kuat ye. Ampe jaman Majapahit.”

“Berarti buyut lo hidup selama itu Nyong?” Guntur yang baru saja menghabiskan satu bungkus nasi lalu meremas bungkusnya dan membuangnya ke tempat sampah sambil bergerak ke belakang warung bu Gendut untuk mencuci sendiri sendok yang ia gunakan untuk makan tadi.

“Iya begitulah. Dari jaman baheula nyampe sekarang. Kau tau bangunan di Ambon yang paling besar itu? Itu milik buyut gue! Nanti kalau kita-kita ke Ambon. Gue ajak lo jalan-jalan ke sana deh! Gratissss!” cerita Nyong sendiri dengan pandangan bangga.

“Nanti gue mau nyari cewek cakep bule ah! Biar mengubah keturuan!” cowok itu lalu terkekeh.

“Ohh, yang kaya Febbi, Nyong?” tanya Bams.

“Bisa jadi. Boleh juga tuh.”

“Oi Septian! Sini lo ngapain menyendiri di sana?” Galaksi bersuara. Ia memperhatikan Septian lalu menghampirinya. Duduk di samping Septian yang masih tetap terjaga sambil mengambil dan merapikan sisa baju kaus Ravispa yang belum diambil anak-anak kelas sepuluh.

“Lo mau?” Galaksi menawarkan rokok pada Septian tapi Septian menolak dengan halus.

“Gak lo aja, Lak. Gue lagi males ngerokok.”

“Kenapa? Gara-gara Jihan?” Galaksi bertanya sambil menghidupkan rokoknya.

“Apa gara-gara Marcus?”

Gara-gara Jihan, batin Septian.

“Dua-duanya,” jawab Septian pada Galaksi.

“Lo sama dia sebenernya ada hubungan apa, Sep?”

“Gak ada hubungan apa-apa.”

“Halah. Boong tuh,” Nyong yang sedang membawa pesanan Galaksi memberikannya pada cowok itu.

“Inget Sep. Seperti yang sering lo bilang ke gue. Boong itu dosa. Lo juga gak boleh bohongin perasaan lo sendiri kalau lo udah kepincut sama Jihan.”

“Tumben,” cetus Galaksi pada Nyong.

“Tumben apanya Bos?”

“Tumben otak lo jalan Nyong.”

“Sialan lo Lak!” Nyong melepar tisu yang digunakan Nyong tadi untuk membawa mangkuk panas Galaksi. “Gini-gini juga gue pinter! Lebih pinter dari Oji!”

“Apa bawa-bawa nama gue?” Oji datang dengan gelas es di tangannya.

“Mau di sleding sampe Amrik?”

“Iyain aja deh si Nyong, Ji. iyain biar fast,” ucap Galaksi malas.

“Mereka gak bakalan dateng, Sep. Lo ubek-ubek juga ke markasnya gak bakalan ada. Paling-paling mereka gak berani ke sini karena di sini kita udah rame banget,” ucap Nyong.

Septian tetap diam dengan sikap cool lalu menoleh ke kiri. Garis bibirnya menipis.

“Mereka baru saja sampe, Nyong.”

****

Jihan berlari sekencang mungkin. Perempuan itu melihat Marcus menuju ke BS atau belakang sekolah. Saat Jihan tiba di belakang. Ia melihat Septian yang sudah berdiri di depan.

Jihan dengan susah payah mencapainya dengan degup jantung menggila. Septian dan Marcus tidak akan berhenti kalau saja Jihan tidak melerai. Para murid lelaki yang mengerumuni mereka bukannya melerai tapi malah merekam dan menyemangati Septian serta Marcus. Benar-benar keterlaluan!

“Oh, jadi lo demen sama Jihan? Pantes lo belain dia terus!” kata Marcus.

“Apa yang lo suka dari cewek kaya Jihan? Ibunya aja minta-minta sama Papa gue! Dasar cewek gatel! Kena pelet kali lo Sep makanya lo ngebelain dia terus.”

Septian menyeret kerah seragam Marcus. “Anjing,” desis Septian lalu menghajar laki-laki itu.

Lagi dengan satu tarikan napas, Septian memukul rahangnya. Membuat Marcus jadi tak berdaya di bawah sana. Marcus berdiri. Meski dengan kepala yang sempoyongan. Cowok itu tetap tidak mau kalah. Ia membalas Septian.

“STOP! STOPPPPPPPPP!!!” teriak Jihan namun Septian dan Marcus tak menyudahi aksi baku-hantam mereka.

“SEPTIAN! MARCUS! STOPPP!!”

Jihan berdiri di tengah-tengah Septian dan Marcus. Kedua tangannya melerai. Dengan rambut berantakan, Jihan mengatur napasnya yang menjadi satu-satu.

“Lo berdua kenapa sih?! Kalau dipanggil guru lagi gimana?!” Jihan berteriak tertahan karena kesal.

“Gue gak mau kalian berantem karena gara-gara gue! Tolong berhenti. Septian!!” Jihan menjerit saat Septian tak menghiraukannya dan hampir menyerang Marcus sekali lagi.

“Pulang lo. Jangan dateng ke BS lagi,” Septian mengusir Marcus membuat Marcus dipapah oleh teman-temannya yang sudah berdiri di belakang dan kini merangkulnya.

“Kalau sampe gue liat lo di BS sini lagi. Bukan cuman wajah lo yang rusak tapi wajah temen-temen lo juga,” ucap Septian dengan nada mengancam.

“Seharusnya lo terima kasih sama Jihan. Kalau bukan karena dia. Lo gak bakalan bisa pulang sekarang.”

****

Jihan meremas kedua tangannya saat Septian baru saja duduk di sampingnya. Cowok itu tadi sedang berada di warung Bu Gendut lalu kini sudah duduk di sebelahnya. Tepat di posko yang sepi. Hanya ada Jihan di sana. Jihan meliriknya tapi Septian sama sekali tak mau menoleh yang membuat Jihan menghela napas pelan.

“Lo ngapain masih di sini?” akhirnya Septian bersuara juga. Suaranya tenang membuat hati Jihan juga adem mendengarnya namun tak urung juga deg-degan melanda saat Septian berada di dekatnya.

“Mau ngomong sebentar aja.”

Septian masih dengan tampang jutek menanggapi Jihan. Sebelah alis Septian terangkat seperti menunggu Jihan berbicara. Kebiasaan yang Jihan suka dari Septian adalah cowok ini selalu mendengarkan sampai habis tanpa pernah memotong. Membuat Jihan merasa dihargai meski cowok itu cukup sebagai pendengar saja.

“Kalau Marcus ngomong tentang gue yang macem-macem jangan didengerin ya? Gue gak seperti apa yang dia atau temen-temennya bilang.”

“Gue tau lo benci yang namanya berantem. Maaf karena gue lo jadi repot.”

“Ngomong itu doang lo masih di sini?” bukannya balasan hangat yang didapat Jihan melainkan sikap datar Septian yang terdengar sedang menyindirnya.

Sorry gue akan pulang secepatnya. Oh ya, Septian,” Jihan memanggil membuat Septian bergumam padanya.

“Makasih, meskipun gue tau lo gak suka sama gue. Gue tau lo orang baik. Gue tau lo gak mungkin ngebiarin teman lo dihina-hina kaya tadi.”

Teman? Mereka memang tak lebih dari teman.

Jihan berdiri, hendak pergi. “Gue pamit. Sampein pamit gue sama temen-temen lo.”

“Lo baik-baik aja?” tanya Septian.

Perempuan itu mengangguk. “Gue baik-baik aja. Makasi udah bertanya.”

****

“Mama habis dari mana?” Jihan bertanya saat melihat Ibunya pulang. Malam ini Jihan sudah duduk di rumahnya dengan tenang.

Arum, ibunya melirik Jihan lalu membuang muka. “Bukan urusan kamu.”

“Ma?”

“BUKAN URUSAN KAMU!” tiba-tiba Arum membentak membuat Jihan terkejut. Berikut dengan suaranya yang menggema di rumah membuat Jihan berdiri, mengikutinya.

“Mama kenapa sih? Pulang-pulang selalu marah.” Perempuan dengan baju rumah biasa itu menatap Ibunya yang tampak terhuyung dengan tatapan lemas dan baju serta wajahnya berbau alkohol.

“Habis ngapain Mama sama Om Aryo?”

“Pergi ke hotel, kamarnya, kost-kostan, vila atau apartemen?”

Arum menampar Jihan di ruang tengah rumah membuat Jihan menatap Arum tanpa kedip dengan kedua mata nyalang.

“Kurang ajar kamu!” Arum semakin marah. Bau alkohol di baju Arum semakin menyengat saat dekat dengan Jihan.

“Pergi aja kamu dari sini! Saya gak mau liat kamu!”

“Kenapa Ma? Itu apa sih Ma? Mama belanja-belanja dibayarin siapa sih? Om Aryo? Ma, Mama tau gak sih? Aku tuh gak suka sama Om Aryo! Kenapa Mama masih aja berhubungan sama dia? Jihan jadi sering kena ejek di sekolah sama temen-temen Jihan karena Mama.”

“Mama sama Om Aryo cuman teman. Tau dari mana teman-teman kamu? Pasti kamu yang cerita kan supaya dibela-bela?”

“Kenapa Mama nuduh aku? Harusnya Mama malu. Udah punya suami tapi jalannya sama orang lain. Mama kenapa sih gak pernah kasian sama aku? Aku itu capek dengerin mereka ngomongin kita, Ma!”

Arum hanya diam menatap Jihan.

Sementara Jihan menatap ibunya nanar. Percuma berbicara dengan orang mabuk.

“Kapan Mama sadar kalau Mama tau itu salah? Kenapa masih Mama lakukan ini? Apa sih yang ada di kepala Mama sampe berhubungan sejauh itu sama Om Aryo? Papa bahkan gak mau ngomong sama Mama lagi. Kenapa Ma?”

“Mama sama Papa kamu gak saling cinta,” jawab Arum dengan wajah tak bersahabat. “Lagipula kalau bukan karena kamu. Mama gak akan mau tinggal di sini sama dia.”

Jihan menatap tak percaya pada Ibunya lalu menggeleng pelan.

“Jihan nggak percaya Mama ngomong kaya gitu.”

“Terserah kamu karena memang begitu kenyataannya.”

“Aku cuman kangen sama Mama. Kita hidup satu rumah tapi kenapa ya kok kayanya Mama itu jauh banget? Bahkan buat nanya keadaan Jihan pun Mama gak pernah. Aku cuman pengin Mama ada buat aku. Bukan buat orang lain yang bahkan bukan keluarga kita! Kapan sih Mama bakal ngerti perasaan Jihan?”

“Sayangnya saya udah gak begitu peduli sama kamu,” ucap Arum membuat Jihan terpaku di tempat. Menatap Ibunya yang mulai menjauh ke kamarnya.

*****