Categories
Septihan

6. KEJUTAN PAGI

6. KEJUTAN PAGI

Memberi perhatian sering. Mengatakan suka tidak pernah. — Jihan Halana

“Pagi Septian!”

Septian yang baru habis mandi dan keluar kamarnya langsung berjengit begitu menemukan seorang perempuan nyasar. Di depan kamarnya pula!

Ngapain Jihan pagi-pagi di rumahnya?

“Kaget banget. Eh, lo baru habis pake baju sekolah ya? Untung gue gak jadi masuk ke kamar lo tadi.” Jihan cengengesan membuat Septian merubah raut mukanya.

“Udah mau telat nih. Kenapa lo gak ke sekolah?”

“Lo ngapain bisa di rumah gue?” hanya itu yang keluar dari mulut Septian. Terkejut. Tentu saja.

Ini cukup berbahaya. Rumah Septian yang ini kosong belum ada satpam. Hanya ada pembantu yang biasanya datang ketika rumah sedang sepi. Pembantu itu tinggal di dekat rumah Septian. Berduaan seperti ini akan membuat tetangga berpikir curiga tentangnya.

“Bisa dong, apa yang gak bisa sama gue?” Jihan ini. Benar-benar membuat Septian ingin mencekiknya namun cowok itu lebih memilih turun tangga. Mengabaikan Jihan.

“Di rumah lo gak ada makanan?” Jihan menyambar tempat duduk di kursi meja makan.

“Septian kok diem aja sih?”

“Duduk ruang tamu aja.”

Septian akhirnya gerah sendiri melihat kelakuan Jihan.

“Ih galak, sebentar doang kok. Gue buatin makanan aja deh gimana? Tenang aja gak pake jampi-jampi kalau masakan gue.”

Lagi-lagi Septian mengabaikan Jihan. Sebelah tangan Septian masuk ke dalam saku celana.

“Kayaknya gue bakal manggil lo Tian deh. Lebih seru. Tian. Cuman gue doang yang manggil lo begitu kan?” Jihan masih betah duduk di kursi meja makan.

“Itung-itung panggilan spesial.” Jihan terkekeh tapi Septian justru minum air dengan tenang.

Rambut Septian sedang basah. Mungkin sebentar lagi kering. Tapi cowok itu tetap saja mengabaikannya. Kedua matanya pun enggan memperhatikan Jihan padahal Jihan sudah dandan sejak jam 3 pagi tadi. Berlebihan? Tidak, Jihan hanya ingin Septian memuji penampilannya meski Jihan tahu Septian tidak akan melakukan itu.

“Lo tinggal di sini sendiri? Katanya lo tinggal sama Nenek Kakek lo. Mana mereka?”

Septian lagi-lagi mengacanginya.

“Gue tau rumah lo dari Jordan,” cetus Jihan setelah lama Septian bersikap tak acuh dengannya.

“Gue tau,” jawab Septian simpul membuat Jihan melotot.

“Kok lo tau?!” Jihan menatapnya penasaran. “Harusnya kan lo gak tau kalau gue ke sini karena Jordan minta tolong gue buat ngehibur Lala. Gak seru banget sih lo jadi cowok. Bener-bener ngebosenin.” Jihan berdiri.

Septian menaikan sebelah alisnya. “Bukannya lo tadi yang bilang kalau lo tau rumah gue dari Jordan? Gue cuman bilang gue tau. Lo sendiri yang memperjelas alasan dibalik lo bisa dateng ke sini. Itu karena Lala.”

Yang tadi adalah jawaban paling jenius yang pernah Jihan terima. Rasanya mau mati saja mendengar suara Septian yang super ketus. Cowok ini. Tidak bisakah berpura-pura untuk menyenangkan hati Jihan sedikit saja?

Jihan yakin Septian pasti tidak pernah pacaran semasa hidupnya. Benar-benar membosankan.

Septian beralih menggunakan sepatunya. Cowok itu memilih menggunakan sepatu berwarna putih polos. Seperti kebanyakan temannya. Septian menggambil tas dan kunci motornya yang tadi ia taruh di atas meja makan.

“Mau sampe kapan lo di situ?” Septian bertanya mengaburkan pandangan Jihan yang sedang menatapnya dengan pandangan terpesona. Tahu-tahu Septian sudah berdiri di depannya saat Jihan berdiri di pinggir meja makan. Kedua tangannya memegang erat sisi meja itu saat Septian merunduk agar bisa mensejajarkan kedua mata mereka.

“Lo tau dateng ke rumah cowok yang tinggal sendirian itu bahaya. Lo gak lupa kan kalau gue ini cowok dan lo itu cewek?” Septian seperti sedang memperingati lalu mengerjap datar dan mundur. Meninggalkan Jihan yang masih menahan napas. Tubuh perempuan itu masih seperti patung.

Septian yang sudah berbalik badan. Tersenyum kecil. Ada hiburan lucu pagi ini.

Lalu detik-detik berikutnya. Teriakan Jihan mengisi rumah besar itu. Membuat Septian yakin, kalau sekali lagi Jihan berteriak. Rumahnya bisa roboh.

“SEPTIAN NEBENGGG!”

Memang cewek itu selalu bikin repot kan?

****

Seperti biasa. Mauren ingin menyapa Septian di parkiran namun begitu melihat siapa yang dibonceng Septian membuat Mauren terkejut. Orang itu adalah Jihan. Saingannya untuk mendapatkan hati Septian. Malah kini Septian dengan berbaik hati memegang sebelah tangan Jihan agar cewek itu bisa turun dari motornya.

“Mauren,” tarikan itu membuat Mauren menoleh dan menemukan Mona serta Wenda.

“Apa sih? Gak usah gangguin gue deh! Tuh cewek genit banget sama Septian. Gue mau ke sana!” Mona menghalangi langkahnya. Berdiri di depan Mauren.

“Lo gak boleh nyerang dia di depan Septian,” usul Mona. “Pake cara cantik dong.” Mona ini memang jelita rupanya tapi semua orang tahu kalau cewek ini licik. Satu-satunya anggota Ravispa yang memanfaatkan kecantikannya untuk memikat semua cowok yang ia mau. Sayang si ketua Ravispa itu tidak tertarik padanya. Kalau saja ketuanya itu tertarik pada Mona—sudah pasti Mona di Ravispa akan jadi ratu. Itu adalah posisi yang paling Mona incar selama ini lewat Galaksi. Sayang, harapan itu terdengar mustahil. Kenyataan menyebut bahwa takdir Galaksi adalah menyukai perempuan biasa yang bukan datang dari kalangan anak-anak Ravispa.

Tapi baguslah. Mauren juga tidak akan rela bila orang sebaik Galaksi jatuh dalam pelukan Mona.

“Bener tuh. Lo harus denger kata-kata Mona,” tawa Wenda terdengar. “Mona kan lebih pengalaman dari lo, Ren. Dia pasti tau apa yang harus dilakuin.”

“Pengalaman gimana? Dapetin Galaksi aja gak bisa!”

“Tapi seengaknya dia lebih pengalaman sama cowok dibanding elu.”

“Gak perlu. Gue bisa sendiri!” Mauren kembali ingin menghampiri Septian namun Mona dan Wenda sontak menahannya saat gerombolan Galaksi datang dari arah gerbang sekolah.

“Gue tau lo bisa sendiri Ren tapi jangan serang tuh cewek di sekolah. Kalau mau di luar sekolah. Lo cewek cantik. Ketua cheers. Mainnya juga harus cantik.” Mona melepaskan tangannya. Mauren juga mengurungkan niatnya ketika melihat semua teman-teman Septian ada di sana sambil menggoda Jihan yang berusaha dilindungi Oji. Namun Jihan justru berlindung di balik punggung Septian.

“Jadi gue harus gimana?”

“Pulang sekolah. Di gedung tua deket SMA Kencana,” jawab Mona membuat Mauren memandang Jihan yang baru saja senyum-senyum sambil masuk ke lorong depan.

“Markasnya Avegar?” Mauren bertanya kaget bercampur cemas.

“Kenapa? Lo takut, Ren? Bukannya lo yang bilang bisa ngatasin sendiri?”

“Tapi enggak di sana juga.”

“Di sana atau enggak sama sekali, Ren.” Mona mengendik.

“Itu tempat yang gak bakal dilewatin mereka apalagi sama orang yang modelnya kaya Septian.” Mona benar. Itu adalah tempat yang mungkin terlarang didatangi oleh anak-anak seperti mereka kecuali dalam keadaan tedesak.

Tapi, haruskah Mauren melakukan itu?

****

“Gue gak tau kalau lo udah berani ngajak Jihan bareng ke sekolah, Sep. Lo berdua pacaran?” tanya Guntur, sedikit ingin mengorek informasi.

“Emang cowok kaya lo bisa pacaran, Sep?”

“Kurang ajar lo Tur!” tawa Jordan terdengar di belakang tubuh Septian.

“Teman macam apa lo hah?”

“Iya kan siapa tau,” Guntur terkekeh.

“Habisnya gue kan takut Asep abnormal. Sukanya sama laki bukan sama cewek.”

“Itu mulut lo dibenerin dulu sana ke bengkel. Nuduh orang homo terus. Jangan-jangan lo lagi yang homo. Gak kasian lo sama Asep? Tekanan batin ntar anak orang lo gituin.” Galaksi masih menulis di buku tulisnya.

“Nanti dia pindah ke kelas unggulan baru tau rasa lo semua!” ujar Jordan.

Satu kelas pun tahu kalau Septian bisa saja minta dipindahkan ke kelas unggulan kapan saja dia mau. Malah guru-guru akan semangat dan tambah memujinya kalau Septian sampai mau dipindahkan ke kelas unggulan. Dulu, saat kelas sepuluh. Septian berhasil meraih juara olimpiade Matematika. Juara satu plus tawaran untuk menjadi anggota OSIS agar bisa menjadi ketua. Membuat namanya tambah tenar lalu langsung ditaruh di absen kelas unggulan dan dinyatakan bisa belajar di kelas itu.

Tapi entah bagaimana, Septian menolak semuanya. Katanya dia tidak mau. Tak ada alasan Septian menolak. Ia hanya bilang begini; “Kalau saya pindah kelas emang apa untungnya buat saya?

Wali kelasnya tak bisa melarang. Septian berhak menolak. Maka menetaplah Septian di kelas ini. XII IPA 5. Di kelas para murid nakal yang sekarang merupakan teman-temannya.

Septian memang orang yang pendiam, rajin belajar dan membosankan. Tapi, berada di dekat teman-temannya membuat cowok itu merasa hidup. Seperti ada yang membuatnya semangat untuk hidup dan datang ke sekolah.

Selama ini hidup Septian sepi. Tinggal di rumah besar dengan semua yang sudah ia miliki sejak lahir. Apa pun yang ia inginkan akan datang dalam sekejap mata. Apa pun itu. Tapi Septian tidak punya teman. Bahkan untuk mengobrol. Terbiasa diam, menjadikannya orang yang lebih sering mengamati.

Akhir-akhir ini yang sering Septian amati adalah gadis itu. Jihan Halana.

“Sep, gue mau ngajak lo makan di warung deket SMA Kencana nanti. Lo bisa?” tanya Bams.

Septian mengerutkan kening karena Bams tiba-tiba sekali.

“Bisa. Kapan?”

“Pulang sekolah.” Bams menarik bibirnya membentuk senyum kecil.

****

“Boleh gue duduk di sebelah lo?” Oji datang. Sementara itu tugas Jihan adalah menyambut Oji. Jadi Jihan membiarkan cowok ini duduk di sebelahnya.

“Kenapa lo mau duduk di sini?”

Oji tersenyum tipis.

“Memangnya kenapa kalau gue duduk di sini?”

“Berharapnya Septian ya?”

Jihan meringis lalu menggeleng. “Enggak kok, kalau lo mau duduk ya duduk aja kan. Kenapa mesti izin?”

“Karena lo lebih dulu duduk di sini kan?”

Jihan pikir itu alasan yang logis maka ia mendiamkan Oji. Berharap agar cowok itu segera pergi darinya. Bukannya Jihan tidak senang dengan kehadiran Oji. Namun Jihan, kalau bukan dengan Septian. Cewek itu susah apalagi beradaptasi dengan cowok. Gerakannya pun jadi terbatas. Boro-boro melihat wajah Oji. Melihat matanya saja Jihan tak berani.

“Jadi gimana Septian? Lo masih suka sama temen gue?” Oji bertanya.

“Muka lo jangan tegang gitu, Han, gue kan cuman ngobrol sama lo. Bukan mau nodong lo.”

Oji benar. Seharusnya Jihan tidak perlu setegang ini saat berhadapan dengannya tapi situasi ini sulit sekali dijelaskan.

“Han? Kenapa lo diem aja?”

“Lo bisa tolong ikut gue gak?” suara berat di samping kepala Jihan membuatnya menoleh shock pada Septian yang sudah ada di sana. Sejak kapan Septian ada di sini? Tadi padahal Jihan melihat Septian sedang bersama Mauren di dekat lapangan.

Jihan mengerjap lalu mengangguk begitu kedua mata Septian tampak serius. Ingin membantah pun Jihan ragu.

“Gue ikut Septian dulu ya, Ji.”

Oji mengangguk maklum, “Hati-hati, cantik.” hanya itu pesan dari Oji.

Septian sedang menggunakan topi. Cowok itu melirik Jihan lalu mendengus. “Jangan senyum-senyum kaya gitu sama Oji.”

“Hah? Kenapa emangnya?” Jihan bertanya linglung.

“Udah ikutin aja apa kata gue.” Septian melepas topi hitamnya lalu memasangkannya pada Jihan membuat wajah Jihan ikut tertutup berserta rambutnya yang berhasil menusuk mata.

Septian berdecak, tidak pernah merasa begini. Sebelumnya Septian baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang dia berubah?

Memangnya karena apa?

*****

Categories
Septihan

5. TUKANG PAKSA

5. TUKANG PAKSA

Mencintaimu itu luka dengan segala konsekuensinya. — Jihan Halana

“Septian kapan dong nerima cinta gue?” Jihan sedang mengikuti Septian.

Gadis itu berjalan di samping Septian yang sengaja mempercepat langkah kakinya di lorong sekolah yang sedang sepi.

“Septian! Ihhhh! Jadi kapan dong?!” tanya Jihan, tidak mau menyerah juga dengan sikap Septian.

“Septiaannnn! Jaket Ravispa lo masih di gue nih! Kalau lo ngasih ini ke gue itu artinya lo peduli sama gue kannnn??!” tanya Jihan namun Septian tetap defensif dengan sikapnya.

“Apa jangan-jangan selama ini lo juga suka sama gue ya tapi pura-pura gak suka?!” tebak Jihan, hiperbola.

“Ih serem dong kalau lo kaya gitu! Gak kebayang deh gue bisa diamuk ratusan cewek di SMA Ganesha kalau bener kejadian!”

“SEPTIAANN!! IHHH DIEM AJA TERUS!”

“DASAR JUTEK! SAYANG GANTENG TAPI BISU! DASAR PENDIEM!”

“SEPT—” Septian memotong ucapan Jihan membuat Jihan mundur karena Septian merangkum kedua tangannya di pipi Jihan. Membuat bibir Jihan jadi mencebik karenanya. Septian sangat dekat dengannya. Wajah cowok itu ada di depannya yang membuat kedua mata Jihan membulat merasakan deru napas hangat Septian.

“Lo bisa diem gak? Gue pusing denger lo teriak-teriak terus,” Septian berkata tajam membuat Jihan tercekat. “Lebih baik lo pulang dan jangan ganggu gue lagi. Lo ngerti gue terganggu sama lo?”

“Bagus dong! Makanya cepet dijadiin pacar biar gak ngeganggu terus!” Jihan terus mendesak.

Septian menghela napas malas. “Gue gak suka sama lo,” kata Septian, masam. Lalu cowok itu melepaskan tangannya dari wajah Jihan.

“Kenapa sih gak suka sama gue? Emangnya gue kurang apa? Gue tinggi, putih. Muka? gak cakep-cakep amat sih. Tapi lumayan buat dijadiin pacar. Buat orang yang mukanya kaya gue yang pas-pasan emang susah dapetin lo yang udah ganteng sejak lahir.”

“Apa jangan-jangan lo homo ya? Lo gay ya Septian?” tanya Jihan membuat Septian melotot padanya.

“Jangan sembarangan.”

Jihan mengembuskan napas sebal. “Iya terus kenapa gak mau jadi pacar gue?”

Septian berhenti. Cowok itu mengambil jaket Ravispa yang dipegang Jihan. “Lo cewek. Jangan rendahin harga diri lo terus di depan gue.”

Jihan tercengang mendengarnya. Perempuan itu menatap Septian dengan pandangan tak bisa dibaca. “Maksud lo apa?”

“Lo itu perempuan. Bukan tugas perempuan ngejar-ngejar cowok. Kalau emang gue gak suka sama lo harusnya lo mikir. Ngapain juga lo ngejar-ngejar orang yang gak suka sama lo? Kurang kerjaan. Mending lo belajar di rumah biar pinter.” dibalik sikap Septian yang ketus. Jihan tahu Septian hanya ingin Jihan menggunakan waktunya dengan baik.

“Hidup lo belajar muluuu! Ah, gak asik banget!” dengus Jihan.

“Sekali-kali pacaran kek!”

“Iya nanti tapi gak sama lo,” jawab Septian.

“Ih kenapa? Boong kan? Boong? Boong dong Sep?” tanya Jihan melotot pada Septian. Perempuan ini benar-benar menuntutnya ini dan itu yang membuat Septian muak.

“Udah sana balik lo belajar jangan gangguin gue. Belajar biar lulus yang bener.”

“Makanya ajarin dong,” ucap Jihan manja membuat Septian menghela napas, mundur lalu geleng-geleng kepala heran.

“Terserah lo mau ngapain. Gue udah males ngurusin lo.”

“Masa sih lo males ngurusin gue? Itu apa tadi berantem sama Marcus?”

“Tau dari mana lo?” Septian bertanya membuat Jihan menampilkan senyum lebar.

“Taulah! Jihan gituloh!” Jihan malah bercanda membuat Septian tidak mau meladeninya. Tapi sebelum Septian pergi meninggalkan Jihan. Cowok itu berkata menyakitkan yang membuat Jihan terpaku.

“Gue peduli sama lo bukan berarti suka. Jangan suka baper duluan.” Septian lalu benar-benar pergi meninggalkan Jihan yang tercenung menatap lantai lorong sekolah dengan pandangan kosong.

“Septian jelekkkkkkkkkkk!!”

Tapi Septian dengan santai menjawab, “Ya, cuman lo yang berani bilang gitu.”

****

“Lo ngapain?” tanya Bams melongok di samping Nyong.

“Mesen mie. Lah lo sendiri ngapain?” tanya Nyong pada Bams.

“Pesen mie juga,” jawab Bams sambil cengengesan.

“Ya udah berarti kita sama!” Bams dan Nyong lalu tertawa geli bersama. “Ada ye orang gaje kaya kita. Dikit-dikit ketawa. Dikit-dikit ketawa.”

“Kan lo yang gak jelas! Pake ngajak-ngajak gue segala,” kata Nyong pada Bams lalu memalingkan wajah pada Septian.

“Oi bwang Asep! Makan dulu sini jangan menyendiri di posko sana. Udahlah, anak-anak Avegar kaya Marcus tuh omdo! Omong doang. Gak bakalan dateng kalau ditantang duel. Kau kaya gak tau tabiat mereka saja.”

“Mie-mie mulu! Ntar cepet sakit lo berdua baru tau rasa!” Jordan menyela sambil mengambil segelas plastik hijau yang berisi es teh dingin lengkap dengan es batunya. Cowok itu duduk di sebuah kursi panjang—berdampingan dengan Oji.

“Dan, lo gak boleh kaya gitu,” tegur Oji, merasa ucapan temannya kelewatan. “Tapi apa yang diomongin Jordan ada benernya juga. Lo berdua bisa sakit makan begituan mulu. Lo juga Nyong! Tuh rambut lo nanti bentukannya kaya mie yang lo makan. Kan kemarin udah lo catok pake catokannya si Mona!”

Nyong tertawa. “Dicatok dikit doang gak bakal ngebuat rambut gue lurus kaya Galak. Ini rambut super kebal dari jaman Majapahit!”

Oji tertawa hingga mukanya merah mendengar penuturan Nyong. “Kuat ye. Ampe jaman Majapahit.”

“Berarti buyut lo hidup selama itu Nyong?” Guntur yang baru saja menghabiskan satu bungkus nasi lalu meremas bungkusnya dan membuangnya ke tempat sampah sambil bergerak ke belakang warung bu Gendut untuk mencuci sendiri sendok yang ia gunakan untuk makan tadi.

“Iya begitulah. Dari jaman baheula nyampe sekarang. Kau tau bangunan di Ambon yang paling besar itu? Itu milik buyut gue! Nanti kalau kita-kita ke Ambon. Gue ajak lo jalan-jalan ke sana deh! Gratissss!” cerita Nyong sendiri dengan pandangan bangga.

“Nanti gue mau nyari cewek cakep bule ah! Biar mengubah keturuan!” cowok itu lalu terkekeh.

“Ohh, yang kaya Febbi, Nyong?” tanya Bams.

“Bisa jadi. Boleh juga tuh.”

“Oi Septian! Sini lo ngapain menyendiri di sana?” Galaksi bersuara. Ia memperhatikan Septian lalu menghampirinya. Duduk di samping Septian yang masih tetap terjaga sambil mengambil dan merapikan sisa baju kaus Ravispa yang belum diambil anak-anak kelas sepuluh.

“Lo mau?” Galaksi menawarkan rokok pada Septian tapi Septian menolak dengan halus.

“Gak lo aja, Lak. Gue lagi males ngerokok.”

“Kenapa? Gara-gara Jihan?” Galaksi bertanya sambil menghidupkan rokoknya.

“Apa gara-gara Marcus?”

Gara-gara Jihan, batin Septian.

“Dua-duanya,” jawab Septian pada Galaksi.

“Lo sama dia sebenernya ada hubungan apa, Sep?”

“Gak ada hubungan apa-apa.”

“Halah. Boong tuh,” Nyong yang sedang membawa pesanan Galaksi memberikannya pada cowok itu.

“Inget Sep. Seperti yang sering lo bilang ke gue. Boong itu dosa. Lo juga gak boleh bohongin perasaan lo sendiri kalau lo udah kepincut sama Jihan.”

“Tumben,” cetus Galaksi pada Nyong.

“Tumben apanya Bos?”

“Tumben otak lo jalan Nyong.”

“Sialan lo Lak!” Nyong melepar tisu yang digunakan Nyong tadi untuk membawa mangkuk panas Galaksi. “Gini-gini juga gue pinter! Lebih pinter dari Oji!”

“Apa bawa-bawa nama gue?” Oji datang dengan gelas es di tangannya.

“Mau di sleding sampe Amrik?”

“Iyain aja deh si Nyong, Ji. iyain biar fast,” ucap Galaksi malas.

“Mereka gak bakalan dateng, Sep. Lo ubek-ubek juga ke markasnya gak bakalan ada. Paling-paling mereka gak berani ke sini karena di sini kita udah rame banget,” ucap Nyong.

Septian tetap diam dengan sikap cool lalu menoleh ke kiri. Garis bibirnya menipis.

“Mereka baru saja sampe, Nyong.”

****

Jihan berlari sekencang mungkin. Perempuan itu melihat Marcus menuju ke BS atau belakang sekolah. Saat Jihan tiba di belakang. Ia melihat Septian yang sudah berdiri di depan.

Jihan dengan susah payah mencapainya dengan degup jantung menggila. Septian dan Marcus tidak akan berhenti kalau saja Jihan tidak melerai. Para murid lelaki yang mengerumuni mereka bukannya melerai tapi malah merekam dan menyemangati Septian serta Marcus. Benar-benar keterlaluan!

“Oh, jadi lo demen sama Jihan? Pantes lo belain dia terus!” kata Marcus.

“Apa yang lo suka dari cewek kaya Jihan? Ibunya aja minta-minta sama Papa gue! Dasar cewek gatel! Kena pelet kali lo Sep makanya lo ngebelain dia terus.”

Septian menyeret kerah seragam Marcus. “Anjing,” desis Septian lalu menghajar laki-laki itu.

Lagi dengan satu tarikan napas, Septian memukul rahangnya. Membuat Marcus jadi tak berdaya di bawah sana. Marcus berdiri. Meski dengan kepala yang sempoyongan. Cowok itu tetap tidak mau kalah. Ia membalas Septian.

“STOP! STOPPPPPPPPP!!!” teriak Jihan namun Septian dan Marcus tak menyudahi aksi baku-hantam mereka.

“SEPTIAN! MARCUS! STOPPP!!”

Jihan berdiri di tengah-tengah Septian dan Marcus. Kedua tangannya melerai. Dengan rambut berantakan, Jihan mengatur napasnya yang menjadi satu-satu.

“Lo berdua kenapa sih?! Kalau dipanggil guru lagi gimana?!” Jihan berteriak tertahan karena kesal.

“Gue gak mau kalian berantem karena gara-gara gue! Tolong berhenti. Septian!!” Jihan menjerit saat Septian tak menghiraukannya dan hampir menyerang Marcus sekali lagi.

“Pulang lo. Jangan dateng ke BS lagi,” Septian mengusir Marcus membuat Marcus dipapah oleh teman-temannya yang sudah berdiri di belakang dan kini merangkulnya.

“Kalau sampe gue liat lo di BS sini lagi. Bukan cuman wajah lo yang rusak tapi wajah temen-temen lo juga,” ucap Septian dengan nada mengancam.

“Seharusnya lo terima kasih sama Jihan. Kalau bukan karena dia. Lo gak bakalan bisa pulang sekarang.”

****

Jihan meremas kedua tangannya saat Septian baru saja duduk di sampingnya. Cowok itu tadi sedang berada di warung Bu Gendut lalu kini sudah duduk di sebelahnya. Tepat di posko yang sepi. Hanya ada Jihan di sana. Jihan meliriknya tapi Septian sama sekali tak mau menoleh yang membuat Jihan menghela napas pelan.

“Lo ngapain masih di sini?” akhirnya Septian bersuara juga. Suaranya tenang membuat hati Jihan juga adem mendengarnya namun tak urung juga deg-degan melanda saat Septian berada di dekatnya.

“Mau ngomong sebentar aja.”

Septian masih dengan tampang jutek menanggapi Jihan. Sebelah alis Septian terangkat seperti menunggu Jihan berbicara. Kebiasaan yang Jihan suka dari Septian adalah cowok ini selalu mendengarkan sampai habis tanpa pernah memotong. Membuat Jihan merasa dihargai meski cowok itu cukup sebagai pendengar saja.

“Kalau Marcus ngomong tentang gue yang macem-macem jangan didengerin ya? Gue gak seperti apa yang dia atau temen-temennya bilang.”

“Gue tau lo benci yang namanya berantem. Maaf karena gue lo jadi repot.”

“Ngomong itu doang lo masih di sini?” bukannya balasan hangat yang didapat Jihan melainkan sikap datar Septian yang terdengar sedang menyindirnya.

Sorry gue akan pulang secepatnya. Oh ya, Septian,” Jihan memanggil membuat Septian bergumam padanya.

“Makasih, meskipun gue tau lo gak suka sama gue. Gue tau lo orang baik. Gue tau lo gak mungkin ngebiarin teman lo dihina-hina kaya tadi.”

Teman? Mereka memang tak lebih dari teman.

Jihan berdiri, hendak pergi. “Gue pamit. Sampein pamit gue sama temen-temen lo.”

“Lo baik-baik aja?” tanya Septian.

Perempuan itu mengangguk. “Gue baik-baik aja. Makasi udah bertanya.”

****

“Mama habis dari mana?” Jihan bertanya saat melihat Ibunya pulang. Malam ini Jihan sudah duduk di rumahnya dengan tenang.

Arum, ibunya melirik Jihan lalu membuang muka. “Bukan urusan kamu.”

“Ma?”

“BUKAN URUSAN KAMU!” tiba-tiba Arum membentak membuat Jihan terkejut. Berikut dengan suaranya yang menggema di rumah membuat Jihan berdiri, mengikutinya.

“Mama kenapa sih? Pulang-pulang selalu marah.” Perempuan dengan baju rumah biasa itu menatap Ibunya yang tampak terhuyung dengan tatapan lemas dan baju serta wajahnya berbau alkohol.

“Habis ngapain Mama sama Om Aryo?”

“Pergi ke hotel, kamarnya, kost-kostan, vila atau apartemen?”

Arum menampar Jihan di ruang tengah rumah membuat Jihan menatap Arum tanpa kedip dengan kedua mata nyalang.

“Kurang ajar kamu!” Arum semakin marah. Bau alkohol di baju Arum semakin menyengat saat dekat dengan Jihan.

“Pergi aja kamu dari sini! Saya gak mau liat kamu!”

“Kenapa Ma? Itu apa sih Ma? Mama belanja-belanja dibayarin siapa sih? Om Aryo? Ma, Mama tau gak sih? Aku tuh gak suka sama Om Aryo! Kenapa Mama masih aja berhubungan sama dia? Jihan jadi sering kena ejek di sekolah sama temen-temen Jihan karena Mama.”

“Mama sama Om Aryo cuman teman. Tau dari mana teman-teman kamu? Pasti kamu yang cerita kan supaya dibela-bela?”

“Kenapa Mama nuduh aku? Harusnya Mama malu. Udah punya suami tapi jalannya sama orang lain. Mama kenapa sih gak pernah kasian sama aku? Aku itu capek dengerin mereka ngomongin kita, Ma!”

Arum hanya diam menatap Jihan.

Sementara Jihan menatap ibunya nanar. Percuma berbicara dengan orang mabuk.

“Kapan Mama sadar kalau Mama tau itu salah? Kenapa masih Mama lakukan ini? Apa sih yang ada di kepala Mama sampe berhubungan sejauh itu sama Om Aryo? Papa bahkan gak mau ngomong sama Mama lagi. Kenapa Ma?”

“Mama sama Papa kamu gak saling cinta,” jawab Arum dengan wajah tak bersahabat. “Lagipula kalau bukan karena kamu. Mama gak akan mau tinggal di sini sama dia.”

Jihan menatap tak percaya pada Ibunya lalu menggeleng pelan.

“Jihan nggak percaya Mama ngomong kaya gitu.”

“Terserah kamu karena memang begitu kenyataannya.”

“Aku cuman kangen sama Mama. Kita hidup satu rumah tapi kenapa ya kok kayanya Mama itu jauh banget? Bahkan buat nanya keadaan Jihan pun Mama gak pernah. Aku cuman pengin Mama ada buat aku. Bukan buat orang lain yang bahkan bukan keluarga kita! Kapan sih Mama bakal ngerti perasaan Jihan?”

“Sayangnya saya udah gak begitu peduli sama kamu,” ucap Arum membuat Jihan terpaku di tempat. Menatap Ibunya yang mulai menjauh ke kamarnya.

*****

Categories
Septihan

4. DIA TELAH BEBAS

4. DIA TELAH BEBAS

IRWAN NUGROHO
18 TAHUN MASA PENJARA
DINYATAKAN TELAH BEBAS HARI INI

Septian lalu meremas kertas putih yang sedang ia pegang setelah membacanya tadi hingga rusak.

“Berengsek!” umpat cowok itu. Pemuda dengan baju basket itu keluar kamar dan turun lewat tangga melingkar rumahnya yang megah.

“Septian! Kenapa kamu enggak ketuk pintu dulu?” tanya Kakeknya bingung saat Septian masuk ke dalam ruang kerjanya sambil membanting pintu hingga suaranya berdebam ke mana-mana. Ini kali pertama Septian berlaku tidak sopan padanya.

“Kakek yang apa-apaan! Jadi ini balasan Kakek sama Septian?!” Septian yang sudah kepalang emosi tidak bisa mengendalikan dirinya. Urat-urat di leher cucunya itu menegang tatkala langkah tegapnya semakin mendekat.

“Kenapa Kakek bebasin dia?!”

“Septian!” Arwan, Kakeknya membentak, marah. “Jaga omongan kamu! Dia itu paman kamu!”

“Paman?! Kakek masih bisa nyebut dia Pamannya Septian? Di mana hati Kakek? Dia yang bunuh Papa, Kek! Mama juga meninggal karena kasus pembunuhan Papa!”

“Septian gak punya keluarga karena dia! Septian bahkan gak pernah liat wajah orangtua Septian secara langsung gara-gara dia! Kenapa Kakek tega ngebebasin dia dari penjara?!”

“Kakek bisa jelaskan Septian.”

“Selama ini Septian udah ikutin semua kemauan Kakek. Septian belajar mati-matian, buka distro, usaha sendiri sampe ngikutin segala peraturan yang Kakek buat tapi apa? Gini balesan Kakek sama Septian?!” tanya Septian seperti bom waktu yang baru saja meledak.

“Irwan anak saya, Septian. Sudah saatnya dia bebas,” kata Arwan, tak mau mendengarkan keluhan Septian.

“Kenapa Kakek tega?”

“Septian percaya sama Kakek. Selalu percaya. Semua yang Kakek mau selalu Septian turuti. Septian tau Septian banyak hutang budi sama Kakek karena Kakek sama Nenek yang udah ngasuh Septian dari bayi sampe sekarang. Tapi Septian gak bisa hidup sama dia Kek. Itu sebabnya Septian gak pernah mau liat dia dipenjara.”

“Septian Kakek akan jelaskan. Paman kamu juga ingin keluar.”

“Apa Kakek lupa? Septian gak punya keluarga kaya temen-temen Septian yang lain. Septian cuman mau sama kaya mereka, Kek. Punya keluarga yang lengkap. Punya keluarga yang selalu ada buat Septian. Bisa liat muka Papa sama Mama secara langsung bukan cuman dari foto.”

“Begitu Kakek mengajarimu berbicara?”

“Kakek gak tau apa-apa!”

“Malem ini juga saya bakal pergi dari rumah ini.” Septian memantapkan pilihannya. “Terima kasih Arwan. Saya gak akan bisa tinggal sama pembunuh kaya anak Anda!” tamparan keras langsung mengenai pipi Septian hingga suaranya terdengar menggema di ruangan kerja Arwan.

“Bagus kalau kamu mau pergi! Jadi gak ada yang harus saya urus lagi! Bertahun-tahun saya ngurus kamu tapi begini balasan kamu sama saya?!” Arwan terdengar sangat murka.

“Kalau bukan karena saya sama Istri saya. Kamu pasti gak hidup sampai sekarang!”

Septian menatapnya tak percaya namun raut wajahnya berubah dingin. Sarat akan tanda permusuhan.

“Gak ada satu pun saudara kamu yang mau ngeadopsi kamu! Asal kamu tau itu! Kamu gak pernah diinginkan di keluarga kami, Septian! Ibu kamu itu penggoda! Kamu itu darah penggoda! Kenapa bisa anak saya cinta sama pelacur seperti Jani?!” tanya Arwan tak habis pikir.

“Damar sama Irwan memang berbeda. Keputusan saya membebaskan Irwan memang tepat.”

“Kamu tau Septian? Kalau bukan karena permintaan istri saya dan warisan Damar. Saya gak bakalan mau ngurusin kamu!” lagi-lagi suara itu membuat Septian mengepalkan kedua tangannya.

“Oh begitu?” Septian bertanya dengan nada sumbang.

“Sekarang saya mengerti. Orang yang selama ini saya banggakan ternyata sama saja dengan saudara-saudara saya. Baik, saya akan pergi dari rumah ini.”

Septian melempar kertas yang tadi ia pegang ke meja hitam milik Kakeknya lalu keluar ruang kerja.

Saat keluar cowok itu melihat Neneknya yang sedang duduk di kursi roda menatapnya dengan pandangan tak mau Septian pergi. Neneknya pasti dengar. Septian memilih mengabaikannya dan naik ke atas mengambil pakaian, tas serta kunci mobilnya lalu turun. Sebelum Septian melangkah pergi.

Cowok itu mendekati Neneknya yang hanya bisa diam. Septian merunduk mencium pipinya lalu salim tangan padanya.

“Septian sayang banget sama Nenek. Jaga diri Nenek baik-baik.”

Neneknya yang sejak tadi membisu pun mulai mencoba bersuara lirih, “Sep.. tian ma… mau kemana?” tanya wanita rentan itu terbata. Rambutnya yang hitam pekat sudah memutih akibat perubahan warna pigmen.

“Septian mau ninggalin Nenek?”

“Kapan-kapan Septian bakal dateng ke sini lagi. Liat Nenek,” Septian mengusap punggung tangan Neneknya dengan pandangan khawatir.

“Nenek harus banyak makan. Nanti Septian kabarin Bibi biar bikin makanan yang banyak buat Nenek.”

“Nenek jangan sampe sakit. Septian gak mau Nenek sakit. Cuman Nenek yang sayang sama Septian. Septian udah gak punya siapa-siapa lagi. Jangan lupa minum obat juga ya, Nek. Septian sayang Nenek. Septian pergi dulu, Nek.”

Septian membalikan badan lalu melanjutkan langkah kakinya yang tertunda. Ia tidak memedulikan panggilan Neneknya yang terdengar susah payah menjerit dari kursi rodanya memanggil nama Septian.

Pedih. Kalau Septian bisa. Dia pasti akan mengajak Neneknya juga.

Cowok itu dengan ekspresi yang sulit dibaca tetap berjalan dengan menarik resleting jaket hitam Ravispa di tubuhnya. Malam ini kenyataan pahit itu menghancurkan hati Septian. Kesepian itu berada di ambang matanya. Septian mengeratkan gigi gerahamnya kuat-kuat. Malam ini luka lama yang belum sembuh itu berhasil terbuka kembali. Membuat hati Septian remuk-redam karenanya.

Septian adalah anak yang tak pernah diharapkan kehadirannya.

****

“Septiaannnn!”

Teriakan itu terdengar nyaring di telinga Septian. Ia tetap berjalan tidak mau berhenti.

“Septiannnnnn!! Berhenti dulu dong! Awas aja ya gak berhenti-berhenti juga nanti jodohnya kaya Mimi Peri loh! Septian ihh!”

“Septian bebi berhenti dulu dong! Septian—EH YA AMPUNN!”

DUG

Septian berhenti ketika mendengar sesuatu di belakangnya disusul suara robekan. Cowok itu melihat Jihan terduduk di bawah lorong dengan menatap roknya yang robek.

Malu! Malu! Malu!

Septian menghampirinya lalu berjongkok di depan Jihan yang dengan sigap menutupi roknya yang setengah robek bahkan banyak sampai paha atasnya dengan kedua tangan.

Wajah perempuan itu memerah saat Septian memandangnya.

“Dasar ceroboh!” ketus Septian membuat Jihan meringis.

“Gimana nih rok gue robek?” kata Jihan sambil menatap rok abu-abunya.

“Salah sendiri,” ucap Septian jutek.

“Lo ngapain manggil-manggil gue? Kurang kerjaan banget lo pagi-pagi gini.”

“Anu… mau ngajakin makan ke kantin nanti mau gak?”

Septian menghela napas gusar. Ia lantas melepas tas dan jaketnya. “Gak usah. Ntar lo kena ledek temen-temen gue.” Septian memasangkan jaketnya pada pinggang Jihan dengan posisi terbalik. Bagian punggungnya berada di depan rok Jihan.

“Nggak usah ngerasa bersalah karena kemarin. Gue udah bilang itu buat diri gue sendiri.”

“Septian?” panggil Jihan membuat Septian kembali menatapnya.

“Lo mau gak jadi pacar gue?”

“Nggak,” balas Septian dengan tampang kecut.

“Ih kenapa?” Jihan mendongak menatap Septian yang berdiri.

“Pacaran aja tuh sama tembok. Cocok,” jawab Septian lalu cowok itu berbalik badan dan pergi meninggalkannya. Jihan menatapnya cengo lalu beberapa detiknya sadar bahwa Septian sudah berhasil membelitkan jaket milik cowok itu di pinggangnya saat Jihan berdiri.

So sweet banget sih? Jadi makin cinta,”

Bodoh. Sumpah. Bodoh banget.

“Dasar sinting! Disuruh pacaran sama tembok malah bilang so sweet!” Mauren yang baru saja datang melewati Jihan membuat Jihan melotot karena ucapannya.

“Sirik banget sih lo? Wleeee!” Jihan melet.

“Emangnya Septian pernah ngasih jaket Ravispa ke lo Ren? Enggak kan?” Jihan berkata sombong lalu perempuan itu menuju ke kelasnya dengan wajah berseri-seri.

****

“Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Ingin rasanya pergi ke penghulu
Tapi sayang, kita cuman temenan.”

Thalita mengembuskan napas malas.

Ia duduk menjauh dari Nyong yang sengaja duduk di sebelahnya saat Thalita menyontek pekerjaan milik Septian.

“Aduh Nyong Nyong. Semua cewek lo godain! Cewek mana sih di SMA Ganesha yang belum dapet pantun lo?!” tanya Thalita.

“Bales dong, Thal! Kali-kali lo bales pantunnya Nyong,” ucap Bams di sebelah Oji.

“BALES, THAL! BALESSSS! SIKATTTT!” Guntur merangkul Thalita yang duduk di sebelahnya membuat Thalita yang sedang menulis terganggung.

“Beli nampan beli rantang
Lo tampan sekebun binatang!”

Tawa menggelegar Jordan mendominasi kelas. “Parah lo, Thal! Tau aja kalau saudaranya Nyong tinggal di sana!”

Nyong ikut tertawa mendengarnya. “Sialan lo, Dan!”

“Udah Nyong lo jangan gangguin si Thalita mulu. Tugas lo itu belum kelar buat dulu sana ntar dimarah Pak Maman.” Oji menoleh.

“Modus banget lo, Ji! Kalau lo cemburu gue godain si Thalita ya tinggal bilang! Masih aja malu-malu gitu sama temen sendiri,” ujar Nyong.

“WEH NYONG! SI OJI KAN UDAH NGEGEBET SI FEBBI!” kata Bams. “MAKANYA! KALAU KUDET TUH JANGAN DIPELIHARA!”

“Santai, Bams,” komentar Septian pada Bams yang langsung menyalin kembali pekerjaan milik Galaksi di mejanya.

“Ah, si Thalita sih hatinya masih buat Septian ya kan?” goda Galaksi lantas membuat Thalita memandangnya dengan wajah memerah.

“Gue bener kan, Thal? Lo masih suka sama si Asep?”

“Siapa juga yang gak suka sama Asep! Ganteng, pemain basket, pinter, tajir! Gue jamin yang jadi ceweknya Asep nanti bakal tenang lahir batin!” ucap Bams, tak terkontrol membuat Fifi yang duduk di meja depan menoleh dan mendelik pada laki-laki itu karena menganggu konsentrasinya.

“Lo tuh ya Bams! Ribut mulu dari tadi,” kata Fifi di tempat duduknya.

“Iya maaf sayang gak ribut lagi deh. Janji!” ucap Bams membuat Fifi mendengus dan kembali mengerjakan tugasnya.

“Sayang-sayang. Diterima aja belum lu sama si Fifi, Bams,” ucap Jordan.

“Nih ye kayanya cewek-cewek di kelas kita tuh pada suka sama Asep de! Curiga gue Asep pake pelet,” ucap Nyong mengusap dagu lalu bagian tengah antara hidung dan mulutnya.

“Pake pelet dari mana lo Sep?”

“Gaya banget lo, Nyong. Kumis juga gak ada pake dipegang-pegang segala,” kata Galaksi padanya membuat Nyong terkekeh.

“Udah sana lo kembali ke tempat duduk lo, Nyong.”

“Gue mau keluar. Kalau udah selesai nyalin tugas gue lo kumpulin tugasnya ke meja depan Thal.” Septian bangkit dari tempat duduknya.

Teman-teman Septian tahu dan sadar betul bagaimana cara Thalita memandang Septian. Berbeda dari cowok-cowok yang ada di kelasnya. Thalita tak pernah dekat sebelumnya dengan laki-laki. Hanya dengan Septian Thalita pernah nekat menyatakan perasaannya pada cowok itu namun ditolak.

Bahkan Jihan yang sudah berkali-kali pun tak pernah diterima. Apalagi Thalita yang hanya mencoba sekali?

Cowok dengan bandana merah di lengan seragamnya itu akhirnya keluar kelas. Meninggalkan keramaian kelas dan memilih menyepi karena itulah hidup Septian. Tenang, sepi dan juga menyendiri.

****

“SEPTIANNN!! YUHUUUUU!!”

Jihan melambaikan tangannya penuh semangat pada Septian.

Benar-benar gak ada malunya.

“Ih ganteng banget!”

“Kayanya tuh cewek demen banget dah sama lo, Sep,” cetus Jordan saat melihat Jihan melambaikan tangan pada Septian yang duduk di sampingnya. Sementara Septian sengaja lain-lain saat Jihan berteriak memanggil namanya dengan sangat antusias.

“Tuh! Tuh! Liat! Dia terus manggil-manggil nama lo, Sep.”

“Kapan ada yang manggil-manggil nama gue kaya gitu ya?”

“Kapan-kapan,” jawab Septian malas. “Udahlah lo ngapain duduk di sini Dan? Sana recokin pacar lo si Lala aja.”

“Lo kalau sama gue selalu sensitif banget, Sep. Coba sama Oji. Mana pernah kaya gitu ke gue! Ngambek juga nih gue Sep!” kata Jordan dilebaylebaykan membuat Septian berdecak mendengarnya. Jordan memang selalu begitu.

“Eh kok Jihan pake jaket Ravispa?”

“Jaket gue,” kata Septian.

“OOOOOOOOOO! JAKET LOOOO!” Jordan berseloroh sambil menyenggol bahu Septian. “UDAH JADIAN NIH PASTI!”

“Apaan dah lo Dan. Siapa juga yang mau jadian sama cewek kaya Jihan?” kata Septian dengan tampang kesal.

“Buset mulut lo.”

“Lo gak boleh ngomong gitu, Sep. Jodoh itu udah ada yang ngatur. Kalau misalnya jodoh lo si Jihan lo bakalan nolak? Gak bisa, Sep. Kadang orang yang gak pernah lo duga justru jadi orang yang paling penting di hidup lo.” Jordan memberi wejangan.

“Woe! Ngapain lo berdua di sini? Pacaran?” Galaksi menyela.

“Marah-marah mulu lo, Lak! Udah duduk sini temenin gue biar gue gak sendiri-sendiri banget. Tuh liat si Asep lagi sibuk dengerin Jihan manggil-manggil dia. Emang sok banget temen lo yang satu ini gak mau bales cintanya Jihan.”

“Oh pantes aja lo nolongin Jihan segitunya kemarin. Lo pacaran sama tuh cewek?” Marcus tak sengaja lewat.

“Kalau iya emangnya kenapa?” Septian berdiri membuat Galaksi dan Jordan yang tadi sedang duduk di sebelahnya yang ada di depan kelas berdiri membuat Bams, Oji, Guntur dan Nyong yang berada di dalam kelas langsung keluar karena melihat Marcus dan Septian yang sedang berhadap-hadapan. Takut ada perkelahian.

“Segitu pentingnya hidup Jihan sampe lo gangguin dia terus?” tanya Septian padanya.

“Jelas penting! Gara-gara tuh cewek keluarga gue hancur!” bertepatan dengan itu Septian menarik seragam Marcus.

“Ngomong sekali lagi!”

“Apa?”

“Yang tadi!”

“Gara-gara tuh cewek orangtua gue sering berantem!” Septian lalu memberi bogem mentah padanya membuat teman-teman Septian terkejut dibuatnya.

“SEP!”

“Mulut lo nggak pernah diajarin sopan santun apa?! Buat apa lo sekolah tinggi-tinggi tapi otak kaya anak kecil?!” Septian yang coba diredam Galaksi di sampingnya tidak mau berhenti.

“Pendidikan yang lo punya gak ada artinya kalau sikap lo kurang ajar kaya tadi!”

“Gak usah ikut campur dulu lo semua!” Septian menghampiri Marcus yang tadi mundur akibat pukulan mendadaknya di wajah cowok itu.

“Gue tantang lo duel hari ini di Warjok. Pulang sekolah. Berani gak lo?”

“Gue gak mau main keroyokan. One by one. Berani gak lo? Atau lo itu cuman cowok cupu yang berlindung sama sekolah sebelah?” ucap Septian lalu mendapat pukulan kuat di wajahnya. Marcus rupanya membalas perbuatan Septian membuat Septian hendak membalas kembali namun teman-temannya dengan cepat menahan.

“Gak di sini, Sep. Gak di sini,” bisik Bams pada Septian membuat emosi Septian yang sempat meledak kembali harus ia redam.

“Gue tunggu lo di Warjok pulang sekolah. Sekalian bawa temen-temen lo yang ada di SMA Kencana buat dateng. Tapi lo harus berhadapan sama gue sendiri. Kalau lo ngaku laki. One by one sama gue,” kata Septian menjauhkan tubuh Marcus darinya dengan satu tangan.

“Oke gue terima. One by one!” balas Marcus.

*****

Categories
Septihan

3. RAVISPA

3. RAVISPA

“Dia baik bukan berarti suka.”
— Jihan Halana

Area belakang sekolah sudah sangat ramai. Murid-murid dari kelas bawah sampai kelas atas SMA Ganesha memenuhi wilayah yang berada di belakang gedung sekolah. Septian dan teman-temannya hadir di lokasi setelah mendengar kabar dari anak-anak Ravispa bahwa ada seorang murid yang sering mengadu domba kedua belah kubu sudah ditangkap. Saat menyibak kerumunan. Septian tahu wajah itu.

Marcus Akbar Firmansyah.

“Marcus?” celetuk Bams saat tiba di belakang sekolah.

“Jadi lo orangnya?”

“TERKEJUT AKU BWANG!” Nyong yang berdiri di sebelah Bams ikut menyeletuk.

Marcus berdiri di tengah-tengah kerumunan Ravispa. Membuat sosoknya tampak begitu kecil menghadapi murid-murid lelaki dengan seragam SMA sebagai pelindung sekolah itu.

“Nih Bos. Yang sering ngadu ke Avegar!” Bagas menyeru.

“Gue denger tadi pas dia telponan sama Jo!”

“Jo anak buahnya Robert?” tanya Guntur.

“Wahhh, wahhhh, waahhh! Campah ci! (Campah lo!)” ucap Guntur dengan logat Bali pada Marcus yang sedang terkepung massal.

“Kaget? Gue udah anggotanya Avegar sekarang,” ujar Marcus.

“Lo sekolah di SMA Ganesha bukan di SMA Kencana, bodoh!” kata-kata Septian jelas-jelas menusuk.

“Kenapa lo mihak sama mereka?”

“Kenapa?” Marcus bertanya kembali pada Septian.

“Lo tanya sama ketua geng lo itu!”

Septian melirik Galaksi yang berdiri di sebelahnya. Galaksi hanya diam di saat seluruh temannya jadi ikut memandangnya. Bertanya-tanya apa yang dilakukan ketua geng itu sampai-sampai Marcus seperti ini.

Memang Galaksi lah penyebabnya.

Setahun lalu saat mereka duduk di kelas sebelas. Galaksi melarang Marcus ikut Ravispa. Marcus bahkan ditolak mentah-mentah oleh Galaksi dan sekarang terbukti. Galaksi tidak pernah salah menilai watak seseorang. Seharusnya dulu cowok ini tidak hanya ia gertak saja.

“Ternyata gue gak salah nolak lo dari Ravispa setahun yang lalu. Gue gak pernah salah menilai orang,” ucap Galaksi.

Semua teman-teman Galaksi terkejut. Tidak tahu sama sekali bahwa Marcus pernah ingin masuk jadi anak Ravispa. Saat awal pencarian murid-murid untuk gabung ke Ravispa. Nama Marcus tak ada di list calon anggota Ravispa.

“Lo tau pengkhianat? Itu cap buruk gue buat lo Marcus.” Galaksi membuat Marcus mengepalkan tangannya.

“Lo laporin aja sana sama ketua lo si Robert. Gue sama temen-temen gue gak takut!” ucap Guntur mendapat dukungan penuh dari teman-temannya. “Kita ladenin lo semua nanti kalau masih nyari gara-gara!”

“Lo emang OSIS, Marcus. Tapi masa-masa jabatan lo sebagai OSIS udah mau berakhir diganti sama angkatan adik kelas tahun ini. Jadi kita liat aja nanti. Sampe mana lo bakal bertahan sama merek atau sampe mana lo akan tahan sama kita semua di sekolah ini.” Septian menutup pembicaraan dengan tegas.

“WOIIIII AYO KITA BALIK KE KELAASSS!” Jordan berteriak.

“Nggak usah ngurusin kaya ginilah buang-buang waktu.”

Mereka lalu meninggalkan Marcus begitu saja. Dalam jutaan makna yang berpendar dalam matanya.

****

“SEPTIAN!” panggil Nyong.

“Oi Sep!” panggilnya lagi namun Septian tak menyahut.

Lalu suara Nyong berubah kemayu, “Bang Asep sayanggg…”

“Idih sayang-sayang!” Oji yang sedang makan mie di depan Septian pun bersuara.

“Begini nih kurang dibelai lo Nyong!”

“Apa Nyong?” Septian menyahut jutek karena lamunannya diganggu Nyong.

“Kau ni, jutek sangatlahh kau Bwang. Sini makan dulu lah.” Nyong baru saja membawa mie dengan mangkuk putih di tangannya. Duduk di samping Septian. Aroma mie kuah penuh cabai hijau dan sayur sawi menusuk indera penciuman Septian.

“Eh Dan. Jangan joged-joged aja lo di sana sama Bams! Sini mie pesenan lo berdua udah mateng. Kurang baik apa gue jadi temen?” Nyong melihat dua mangkuk mie milik Jordan dan Bams. Sementara keduanya sibuk mendengarkan lagu dengan duduk bersama Galaksi di posko depan.

“Si Jordan kalau lagi ayan begitu tuh,” ujar Guntur. “Kumat dangdutnya.”

“Nyong inget nanti bayar mienya. Jangan ngutang lagi,” kata Bu Gendut padanya.

“Bon kamu itu sudah banyak tau? Nanti harus lunas semua!”

Oji yang hendak makan mie tidak jadi. Cowok itu malah tertawa, “Udah Bu Gendut biar saya aja yang bayarin Nyong nanti,” ucapnya lalu meniup mienya yang panas.

“NAH BEGITU KEK SAMA TEMEN! PE-KA!” ucap Nyong. “Makasih, Ji nanti gue ganti.”

“Ah, lo kaya sama siapa aja Nyong. Sama gue doang elah. Gak usah diganti.” Oji berkata saat Guntur memilih duduk di sampingnya.

Warjok atau Warung Bu Gendut dengan satu pos tempat berkumpulnya anak-anak Ravispa ini menjadi tempat favorite mereka setelah pulang sekolah. Biasanya tiap sore tempat ini ramai. Rata-rata anak sekolahan yang menempati warung ini. Bukan hanya dari SMA Ganesha saja. Banyak dari murid luar juga bisa datang kemari.

Meskipun kecil tapi warung ini kaya dengan rasa kebersamaan. Bahkan bisa sampai malam mereka semua bermain di tempat ini untuk melepas lelah. Entah itu bermain kartu, jadi pengamen dadakan cover-cover lagu, makan, merokok, menghidupkan lagu sampai dengan volume tinggi hingga tidur-tiduran. Hal-hal menyenangkan yang tak boleh dilewatkan oleh mereka semua selama masa sekolah.

“Dan, Bams, Lak! Sini lo bertiga. Woi Lak! Gak usah ikut-ikutan joged gitu lo kaya Jordan, Lak!” ucap Nyong. “Alay!”

“Siapa juga yang ikutan?!” Galaksi balas berteriak, kesal. “Gue cuman duduk! Nih temen lo si Jordan sama Bams lagi mantep nonton video cewek cakep!”

“WOOWWW! INI NIH! INI BARU KESUKAAN GUE! Hot banget anjer! Digoyang mbakkkk digoyanggg,” ujar Jordan hiperbola membuat Bams yang duduk di sebelahnya melotot dengan wajah cengo melihat video yang ditampilkan di layar ponsel Jordan.

Astaghfirullah, Jordan.” Bams geleng-geleng kepala setelah melihat rekaman yang ditampilkan di layar ponsel Jordan.

Lalu cowok itu juga ikut bernyanyi, “Emang lagi manja lagi pengen dimanja. Pengen berduaan dengan dirimu sajaaa….”

“Emang lagi syantik tapi bukan sok syantik!” dendang Jordan.

“NJIR! Nih lagu judulnya apa dAh? Mau gue download dulu dah enak benerrr. Mana tau Lala pacar gue juga demen lagu begini. Kan enak bisa gue dengerin di mobil bareng dia.”

“YEEE MODUS LU BAMBANG!” Bams berkata kesal membuat Jordan tertawa karena cowok itu menyebut nama lengkapnya sendiri untuk mengejek Jordan.

Galaksi yang tidak tahan dengan kedua temannya pun berdiri dan menghampiri warung Bu Gendut. Ikut bergabung dengan teman-temannya yang lain membuat Jordan dan Bams juga ikutan berjalan dan duduk di warung kuris panjang kayu sedikit lapuk di Bu Gendut.

Septian yang sejak tadi terdiam dan tenggelam dalam dunianya sendiri memperhatikan daun-daun hijau serta cokelat berjatuhan ke bawah. Pohon rindang dengan buah berwarna merah dan hijau ini berada di dekat Warjok.

“Gue masih bingung kenapa Jihan berantem sama Marcus. Tapi pasti tentang masalah keluarga. Gue gak suka caranya Marcus ke Jihan. Cowok kok kasar ke cewek,” ucap Oji setelah selesai makan dan menaruh mangkuknya di atas meja dagang Bu Gendut.

“Apa pun masalahnya kita gak perlu ikut campur terlalu jauh. Itu kan masalah pribadi mereka, Ji.” Jordan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana abu-abu.

“Terus kenapa lo nolongin Jihan segitunya Sep?” pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Galaksi untuk Septian. Membuat semua pandangan teman-temannya tertuju pada Septian.

“Apa karena tuh cewek suka sama lo tapi lo tolak terys?” Septian tetap diam. Tidak menjawab apa-apa.

“Bukan. Itu untuk diri gue sendiri.” Septian lalu menatap jam hitam yang melingkar di tangan kirinya lalu mengambil jaket Ravispa miliknya yang berada di kursi.

“Udah jam. Gue mau ke sekolah.”

“Ngapain lo ke sekolah jam segini, Sep?” tanya Nyong.

“Rajin bener. Udah kaya penjaga sekolah aja lu!”

“Mau basket,” jawab Septian singkat lalu mengambil kunci motor Galaksi di atas meja yang tadi sudah ia pinjam lalu berniat meninggalkan Warjok yang masih diisi oleh teman-temannya yang akan menghabiskan waktu sampai sore di tempat ini.

Septian butuh untuk melepas beban pikirannya atau untuk melampiaskan apa yang sedang ia rasakan saat ini dengan basket.

****

LAPANGAN
SMA GANESHA

Tulisan besar itu menggantung megah di depan gedung lapangan sekolah SMA Ganesha. Basket Ganesha adalah salah satu kebanggaan sekolah dengan penyumbang piala terbanyak setiap tahunnya. Juga termasuk icon terbesar sekolah.

Septian sudah mengekuni hobi ini sejak dulu. Dari SMP berlanjut sampai SMA. Seluruh keringat, jatuh-bangun dan juga latihan yang keras telah Septian lewati selama menekuni ekskul ini.

“Semangat Septian!!” cewek-cewek cheers yang sudah selesai berlatih pun menyemangati cowok itu.

Membuat Jihan yang sibuk menurunkan bendera bersama Kejora mendengus melihat cewek Belanda ketua team Cheerleaders bernama Mauren bersama wakilnya Mona itu histeris menyebut nama Septian.

“SEPTIAN SERANG KE RUMAH LAWAN!” teriakan pelatihnya membuat Septian yang tengah membawa bola men-dribble bola besar berwarna oranye itu menuju rumah lawan.

SHOOT, SEPTIAN!” teriak Pak Nurdin padanya.

Nekat, Septian melakukan lay up membuat musuh di depannya bengong memperhatikan teknik yang dilakukan Septian lalu cowok itu berhasil mencetak angka untuk grupnya. Lagi dan lagi. Septian memang ahli mengelabui musuh meski dengan wajah dinginnya. Cowok dengan baju putih bercampur kuning dan merah bernomor punggung 1 itu menenangkan napasnya yang tak beraturan.

“KEREN LO BRO! Lo mainnya keras banget hari ini gue suka, Sep! Makin bagus aja main basketnya!” puji Lemos, tim segrupnya memuji Septian.

Suara panjang peluit dari Pak Nurdin—pelatih sekaligus guru olahraga di Ganesha itu pun menandakan bahwa pertandingan basket telah selesai. Para pemain pun menghela napas lega.

Jauh di ujung lapangan. Marcus mengambil bola basket dengan napas ngos-ngosan. Kedua mata tajamnya memperhatikan Septian. Grupnya kalah. Padahal cowok itu ketua tim basket inti Ganesha.

“Marcus… Marcus. Kenapa kamu mainnya jelek banget hari ini? Liat Septian. Dia mainnya makin bagus. Tapi kamu justru semakin jauh!” Pak Nurdin di tengah lapangan terdengar memarahi Marcus.

“Kalau kamu terus begini bisa-bisa Bapak ganti ketua tim basket tahun ini buat Septian,” ujar Pak Nurdin membuat Macrus terkejut.

Seharusnya Septian lah yang mendapat posisi itu. Ketua tim basket inti Ganesha namun Septian menolak untuk menjadi ketua. Septian hanya pemain inti. Tidak ada yang tahu alasan Septian menolak posisi penting tersebut.

“Jangan, Pak. Saya janji buat hari ini aja. Besok-besok saya gak bakalan begini lagi,” ujar Marcus namun Pak Nurdin sama sekali tak peduli dan malah pergi karena telanjur marah dengan cara main basket Marcus yang kelewat fatal.

“Bapak pulang dulu. Hari ini latihan sudah selesai. Oh ya, Septian. Hari ini saya akui main basket kamu bagus. Tingkatkan lagi,” pesan Pak Nurdin.

“Iya, Pak. Terima kasih.” Setelah itu Pak Nurdin pergi meninggalkan pinggir lapangan.

Marcus yang mendengarnya hanya diam. Teman-temannya pun tahu bahwa Septian yang seharusnya mengambil posisi Marcus.

Selama ini tim basket sekolah banyak dibantu oleh Septian. Kalau saja Septian tidak kokoh. Tim bakset sekolah pasti akan tumbang. Tidak sekuat sekarang. Bahkan Septian juga bisa menjadi pelatih mendadak bagi teman-teman dan adik kelasnya kalau Pak Nurdin tidak bisa hadir.

“Septiannnnnnn!” Septian yang sedang minum sebotol air di dekat kursi lapangan itu menoleh ke samping. Ia melihat Jihan menghampirinya.

“Yah! Udah minum air ya? Padahal gue bawain lo air minum juga.” Jihan tiba di samping Septian.

Septian heran. Mengapa cewek ini selalu ada ketika Septian latihan basket? Septian selalu mendengar suaranya yang melengking di mana-mana dan itu membuatnya tak nyaman. Memang cewek ini latihan Paskibra tapi Jihan selalu menyempatkan diri untuk menemuinya padahal Septian tidak ingin hal seperti ini terjadi.

“Dih sok cantic lo! Jauh-jauh sana!” Mauren mengusirnya.

“Siapa elo emang deket-deket Septian?!”

“Apaan sih lo Mauren? Sirik aja! Sirik tanda tak mampu, tau?!” ucap Jihan. “Lo tuh yang belagu! Ngatain orang aja bisanya!”

“Berani banget lo ya sama gue?!” Mauren mendorong Jihan membuat Septian dengan sigap menangkap Jihan membuat kening Septian berkerut memandang Mauren.

“Dasar genit!” ucap Mauren pada Jihan.

“Udah Ren. Pergi sana. Jangan ganggu gue,” kata Septian lalu cowok itu duduk di kursi.

“Kok lo belain dia sih? Dia kan gangguin lo?”

“Udahlah Ren.”

“Tapi Septian gue bawain lo minum nih!” Mauren menunjuk botol minum yang ia bawa tapi Septian tak mau melihatnya.

Cowok itu duduk bergeming di tempatnya lalu detik berikutnya menarik tangan Jihan agar duduk di sebelahnya dan mengambil botol air minum mineral yang dibawa Jihan membuat Jihan kaget karena perlakuannya.

Septian dengan peluh menetes di seluruh tubuhnya membuka tutup botol itu lalu meminumnya dengan empat kali teguk serta kepala terangkat hingga isi botol air itu habis tandas tak tersisa membuat Jihan melongo.

Wajah Jihan merah merona karenanya.

“Gue udah minum punya Jihan. Sekarang lo bisa pergi kan Ren?”

Mauren cemberut lalu berdecak dan pergi meninggalkan Septian karena Septian secara tidak langsung menolaknya.

“Gak usah senyum-senyum gitu.” Suara berat Septian membuat Jihan menoleh pada. Tidak bisa menyembunyikan senyumnya membuat cewek itu memegang kedua pipinya untuk menahan gugup.

“Memangnya kenapa kalau senyum? Gak boleh ya?” tanya Jihan.

“Makasih yaaaa Septian! Jadi makin suka deh!”

Septian bergumam singkat membalasnya lalu mengambil kedua jaketnya dan tas serta botol milik Jihan tadi.

“Jangan suka sama gue.”

“Besok-besok jangan bawain gue air lagi. Gue udah bawa air sendiri. Mending urus hidup lo jangan urus hidup orang lain.” Septian berkata berat dan dingin lalu ia menuju ke loker untuk menaruh jaket hijau lumut tua basket sekolah dan menutup pintu loker lalu meninggalkan Jihan.

“WOI SEP! LO MAU KE MANA?!” tanya Lemos.

“Warjok!”

Septian Aidan Nugroho. Cowok yang sedang menggunakan jaket hitam bertuliskan Ravispa dengan tanda sepasang sayap burung elang di dada kiri itu melangkah di lorong menjauhi lapangan. Membuat Jihan gigit jari melihatnya.

****

Jihan menghela napas kedinginan di depan sekolah. Cewek berkalung besi bertulis Jihan dengan rambut digerai berisi jepit berbentuk pita itu menoleh ke kanan dan ke kiri namun tak ada satu pun kendaraan melintas. Malam semakin menyelimuti langit namun Jihan sama sekali tak melihat ada tanda-tanda kehadiran seseorang yang ditunggunya sejak tadi.

“Wah, lo masih di sini juga ya, Jihan?” cowok berjaket biru dongker itu baru saja keluar bersama motornya lewat gerbang sekolah.

“Ngapain masih di sini? Jual diri ya kaya Mama lo?”

Jihan melotot mendengarnya. “Maksud lo?”

“Gue yakin lo denger.”

“Berisik banget sih lo Marcus? Cowok tapi mulut kaya banci!”

Marcus tersentak mendengarnya.

“Apa lo bilang?!” Marcus yang tersinggung turun dari motornya. “Tapi gak apalah. Lo mau jadi kaya Mama lo juga? Sama gue aja. Bayarannya mahal,” bisik Marcus membuat Jihan mundur ke belakang karena merasa terancam dengan Marcus.

“APA SIH? PERGI DEH LO! SIAPA JUGA YANG MAU SAMA LO?!”

“Oh kurang mahal? Mau berapa? Tinggal sebut aja, Jihan. Gak usah malu-malu,” seringai Marcus tampak mengerikan di mata Jihan karena hari sudah hampir malam.

Seorang lelaki dengan kaus basket Ganesha Basketball mendorong tubuh Marcus membuat Marcus menjauh lalu tanpa aba-aba langsung memukul rahang Marcus dengan sekali pukulan yang membuat Marcus langsung ambruk ke bawah.

“Lo macem-macem ke Jihan lagi awas lo!” ancam Septian pada Marcus.

Jihan menahan napas lalu tangannya ditarik Septian untuk masuk ke dalam mobil putih yang lampunya menyala. Mengajaknya pergi.

“Sialan! Awas aja lo berdua!”

*****

Categories
Septihan

1. RUMOR

1. RUMOR

Akan selalu ada yang datang ke hidup kita.
Siap tidak siap. Mau tidak mau. Kita harus segera menerimanya
.”

Pagi-pagi sekali mereka sudah tiba di sekolah. Sebuah kejadian langka mengingat mereka sering datang terlambat. Murid-murid lelaki berbadan tegap berjaket hitam parasut memenuhi lorong utama. Suara gelak tawa pun mulai terdengar di antara barisan panjang mereka.

“Denger-denger kak Septian ngajuin syarat ke Kak Jihan. Kalau mau jadi pacarnya harus ranking satu dulu,” begitulah rumor beredar di sekolah mereka.

Dari mulut ke mulut. Hingga dilebih-lebihkan. Begitulah rumor bekerja.

“Berarti lo harus rangking satu juga tuh biar bisa jadi pacarnya!”

“Gila apa? Matematika aja gue masih ngitung pake tangan!”

“Rumornya makin banyak yang tau Sep,” bisik Jordan pada Septian.

“Biarin aja,” balas Septian cuek.

“Makanya Dik, belajar yang bener. Biar bisa jadi pacarnya Septian,” ujar Galaksi pada adik kelas mereka membuat kedua siswi itu terkejut dan tersipu.

“Emang bakal diterima Bang?”

“Enggak sih,” jawab Galaksi membuat cowok-cowok itu tertawa.

Sementara Septian tetap diam. Tidak mau mengatakan apa-apa.

Septian Aidan Nugroho. Cowok pendiam dan misterius yang merupakan anggota inti Ravispa. Pintar dan atlet basket. Ia juga anak karate yang menjadikannya idola para siswi di sekolahan. Sementara itu. Ravispa adalah nama perkumpulan di SMA Ganesha. Septian juga sosok yang populer di sekolah. Murid kesayangan guru-guru karena sering menuai prestasi ketimbang sensasi.

Akhirnya kedua siswi itu pamit dan pergi karena malu.

Ikan hiu makan ubi
I Love You bertubi-tubiiiiiiiii….”

“Woi! Sejak kapan hiu makan ubi-ubian Nyong?!” Bambang atau yang sering dipanggil Bams emosi di tempatnya.

“Lo kata Hiu vegetarian hahh?!”

Nyong tertawa geli. “Santai dong lo Bams. Gak usah ngegas. Abisnya pagi-pagi gini udah ributin si Asep aja. Ributin gue kapan?” tanya Nyong pada teman-temannya.

“Emang netizen lebih tau mana yang ganteng mana yang burik!”

Guntur, salah satu temannya tertawa ngakak! “Sirik aja lo Nyong!” katanya sambil tertawa pada cowok kribo itu.

“Bersyukur. Itu udah bagus lo lahir sempurna. Lahir di Ambon lagi! Ambon tuh kota eksotis! Lo tau kaga?”

“Cintailah Indonesia. Cintai tempat kelahiranmu,” ucap Galaksi.

“Iya-iya tiang (Saya) tau Bli (Bang) Guntur.” Nyong memang tidak fasih berbahasa Bali seperti Guntur yang asli penduduk sana namun mendengar Guntur yang sering berucap seperti itu Nyong jadi hafal meskipun bahasanya masih gado-gado. Sebuah bentuk ikatan silahturami toleransi yang masih dijaga anak-anak Ravispa hingga detik ini.

Lain halnya dengan Septian. Cowok itu lebih banyak diam sejak memasuki area lingkup Sekolah. Septian memang lebih dikenal dengan nama Asep di kalangan teman-temannya. Namun hanya yang paling dekatlah yang sering dan berani memanggilnya Asep. Selebihnya tetap memanggilnya Septian.

Nama itu tercetus dari Nyong yang salah sebut namanya dulu saat mereka kelas sepuluh. Asep pun kini menjadi panggilan pop teman-temannya untuk Septian. Emang dasar Nyong suka gitu. Nama orang udah bagus-bagus dikasih emaknya malah diganti jadi nama kampung!

Asep pula namanya!

“Mending lo sini Nyong. Ngepantun samping gue,” Jordan menarik Nyong dari belakang tubuh Septian menuju ke arahnya.

“Bantuin gue godain cewek,” Jordan lalu refleks bersiul melihat Mona yang baru saja datang.

“Wuuuiiidihhh! Mantap benul! Mulus banget Gan!”

“Ceweeekk piwiiiittt,” Nyong ikut bersiul sambil geleng-geleng kepala. Mona, salah satu diva Ravispa itu memang sangat cantik. Seperti oase di tengah-tengah gurun pasir.

“Mon ngedate yuk?” ujar Nyong.

“Diem lo pentol korek!” Galaksi, ketua Ravispa ikut berkomentar sambil mengulurkan tangan dan menarik kepala Nyong dengan sebelah tangannya agar Nyong mendekat padanya.

“Kaya kaga pernah liat cewek aja lo Nyong!”

“Ntar Guntur ngambek mampus gak ada yang ngaterin lo pulang,” ucap Oji.

“Ampun Bos! Ampun Ji! Kan kalau di sini ada Mona. Kalau di tempat lain ya beda lagi lah,” Nyong menyeringai sambil cengengesan.

“Cewek aja mata lo berdua. Lo juga Dan!” Galaksi bicara pada Jordan yang menyandang status playboy kelas berat di sekolahnya. “Sama aja kaya Nyong. Dasar para lelaki buaya!”

“Buaya-buaya gini temen lo Bos,” Jordan membela diri.

“Mending lo beli parfum dulu sana biar bau badan lo hilang Dan.” Bams nimbrung membuat Jordan terkekeh.

“Perlu gue beliin nih? Minta berapa lo? Satu? Dua? Tiga?!”

“Sombooongggg….” seloroh seluruh teman-temannya.

“Makanya kerja kaya gue.” Bams menyombongkan dirinya. “Kan enak. Sekolah dapet. Kerja dapet. Duit juga dapet.”

“Gaya banget lo!” ucap Guntur.

Bams menepuk pundak Guntur. Merangkul temannya. “Dunia ini milik orang-orang tekun. Yang penting usaha bukan hasilnya.”

Ketujuh lelaki itu terhenti langkahnya yang diikuti oleh gerombolannya yang ada di belakang begitu melihat sebuah kerumunan berbentuk lingkaran di lorong sekolah. Ricuh. Sangat ricuh yang sedang terjadi di antara mereka.

Tampak Marcus dan Jihan sedang berdebat. Saling sindir, beradu argumen, dan dorong-mendorong. Di antara mereka juga tidak ada yang mau mengalah. Kejadian seru ini tidak akan pernah dilewati oleh mereka.

“Banci banget,” ucap Septian.

“Banget,” ujar Galaksi. “Masa beraninya sama cewek?”

“Samperin yuk! Seru tuh!” ujar Jordan.

“Marcus sama Jihan kenapa tuh?!” celetuk Guntur seru sambil berjinjit-jinjit memperhatikan Marcus dan Jihan yang semakin ribut di dalam kerumunan.

Buseettt! Marcus ngejambak Jihan?!” mata Guntur melotot memperhatikan Marcus dan Jihan yang sudah saling menyerang. Lelaki itu tidak peduli bahwa Jihan adalah seorang perempuan.

“Mulut lo tuh kurang ajar banget sih?” teriak Jihan di depan muka Marcus.

“Dasar cowok gak punya sopan santun!”

Marcus terkekeh sinis. “Kenapa lo marah? Ngerasa kalau Ibu lo itu penggoda?” tanya Marcus.

“OH YA?! PENGGODA?” tanya Jihan dengan tatapan benci. Septian yang melihat itu menajuh mendekati Jihan, meninggalkan teman-temannya yang sibuk menonton perdebatan seru itu hingga teman-temannya melihat Septian sudah berada di dekat Jihan.

“PAPA LO AJA YANG KEPINCUT SAMA MAMA GUE!”

“APA?! LO—BANGSAT!” Marcus mendekati Jihan hendak memukulnya namun Jihan ditarik mundur oleh seseorang. Kejadiannya secepat angin. Lalu kini sebuah bogem mentah mendarat di wajah Marcus sebelum ia berhasil menyakiti Jihan. Jihan terpaku dengan tubuh gemetar karena melihat Septian memukul Marcus.

“SEPTIAN!!!” teriak Jihan saat Marcus jatuh terperosok ke bawah lantai lorong.

Sekarang detak jantung Jihan seperti genderang perang yang dipukul semakin kencang. Membuat dadanya sakit karena apa yang dilihatnya.

“Banci lo beraninya sama cewek,” Septian melihat Marcus yang tak berdaya melawan karena Septian lebih kuat darinya. Seluruh orang diam, tidak berani memisahkan mereka. Keadaan langsung mencekam secepat kilat.

Galaksi dan Jordan saling pandang karena baru kali ini melihat Septian lepas kendali di sekolah. Selama bersekolah di SMA Ganesha. Bisa dibilang Septian tidak pernah cari ribut atau mau ikut campur urusan orang apalagi sampai saling pukul.

Dan lebih langkanya lagi. Semua ini karena gara-gara cewek!

“WOI ASEP WOOOOIIIII!!!!!” Bams berseru karena baru sadar. Bams lalu berlari diikuti oleh teman-temannya. Galaksi, Jordan, Guntur, Oji dan Nyong mengikuti dari belakang. Mereka langsung menyesak masuk ke dalam kerumunan.

“Pergi lo dari sini sebelum gue berubah pikiran!” Septian menarik kerah kemeja sekolah Marcus agar dekat dengan wajahnya.

Septian menatap matanya dengan tajam agar tidak berani macam-macam. Marcus yang kesakitan pun tidak berani melawan karena Septian adalah anak Ravispa. Jelas punya backing yang banyak.

“Pergi!” Septian mengeratkan pegangannya lalu menghempas kemeja cowok itu dan berdiri. Marcus berdiri. Tidak lagi dengan posisi tersungkur lalu pergi dengan muka merah karena malu. Ia pergi dari lorong sekolah seperti yang diinginkan Septian.

Jihan terapku. Kedua kakinya semakin lemas dan gemetar takut. Perempuan dengan jepit pita merah itu masih tetap kaku menyaksikan sendiri apa yang dilakukan Septian di depan matanya. Septian lalu mundur dan malah menjauhi Jihan. Bahkan Septian tidak menoleh apalagi mengobrol padanya.

Astaga bagaimana bisa Jihan tidak menyukai cowok ini?

Jihan yang kebingungan mengejarnya. “SEPTIAN!!”

Septian tidak berhenti namun ketika Jihan menarik jaketnya. Cowok itu berhenti dan menoleh.

Jihan tersenyum padanya. “Makasi.”

“Untuk apa?”

“Yang tadi,” ujar Jihan. Kedua matanya berbinar senang.

“Gak perlu. Gue ngelakuin itu untuk diri gue sendiri,” jawab Septian jutek dengan wajah datar sedingin es membuat kening Jihan mengerut dalam. Septian melepas tangan Jihan dari jaketnya lalu berjalan menjauh dari lorong dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.

“WOI SEEPPPPP!! LO MAU KE MANA?!” teriak teman-temannya namun Septian tidak menghiraukannya.

****

Kantin sekolah benar-benar membeludak. Setelah bel istirahat berbunyi semua murid datang berbondong-bondong. Dipojokan kantin meja khusus itu milik inti Ravispa yang bisa diketahui seperti mereka:

7 INTI RAVISPA:

1. Bermula dari Galaksi. Ketua geng Ravispa. Sosok paling pemberani di SMA Ganesha.

2. Lalu ada Jordan yang merupakan playboy sekaligus wakil dan juga tangan kanan Galaksi di Ravispa karena badannya besar.

3. Septian si pendiam, pintar dan misterius. Bagi Septian Ravispa adalah keluarga di sekolah.

4. Bambang atau nama populernya Bams yang merupakan sosok cowok berbadan besar yang sederhana dan juga setia.

5. Guntur cowok Bali yang genit dan jago futsal. Guntur juga pintar memikat hati perempuan dengan kata-katanya.

6. Oji cowok tinggi putih jago sepak takraw yang selalu bisa diandalkan di segala keadaan teman-temannya. Yang istimewa dari Oji adalah cowok itu punya cita-cita jadi presiden.

7. Dan terakhir ada Nyong. Cowok Ambon yang punya segudang pantun dan dangdut mengisi hari-hari mereka.

Buah semangka
Buah duren
Nyong tau
Nyong kerennnnnn….”

“Ngepantun buat ngepuji diri sendiri. Narsis lo.” Jordan melirik.

“Suka-suka guelah! Pantun-pantun gue.”

“Lo mau dipantunin gue Dan?”

“Kaga! Emangnya gue homo apa?!”

“Nah Dan. Gue masih mending kalau lo jadi maho ketimbang playboy. Gak kasian apa sama gue dapet chat nyasar mulu kalau lo nyakitin banyak cewek?!” Bams mendengus.

“Mending lo jadi maho aja sana! Ikhlas gueeee! Ikhlas! RIDHO DENGAN SEPENUH HATI GUE!”

“Sekata-kata lo kalau ngomong!” Jordan menyenggol Bams membuat cowok itu hampir jatuh karena tenaga Jordan.

“Santai dong lo, Dan! Dah kaya cewek-cewek PMS aja.”

“Udah tau badan besar kaya gajah mainnya dorong-dorong. Untung gue gak jatuh.”

“SEPTIAAANNNNN!! TUNGGUIN DONGGGGSS!!” Jihan tertatih-tatih berlari mengikuti Septian dari belakang.

Yang Septian tahu cewek ini selalu gencar untuk mendapatkannya. Sejak dulu yang dilakukan Jihan adalah merecokinya namun Septian selalu menunjukkan sikap cuek agar Jihan pergi dengan sendirinya.

Namun bukannya pergi Jihan malah terus mengejar Septian. Bahkan sudah ditolak berkali-kali Jihan tetap saja mengikutinya. Kapan Jihan akan sadar bahwa Septian tidak suka padanya?

“Septian jangan duduk sama yang lain!”

Galaksi tertawa mendengarnya. “Pacar bukan tapi posesifnya minta ampun tuh cewek.”

“Udahlah Sep. Kasian si Jihan dari tadi ngejar-ngejar lo terus. Capek dia. Kasih minum kek,” ujar Guntur.

“Suruh duduk dululah di samping lo Sep. Tawarin makan. Ya gak Han?” goda Galaksi pada Jihan yang baru tiba di barisan para lelaki itu.

“Harusnya sih gitu.”

“Ngapain? Lo aja sana. Gue Ogah,” jawab Septian pendek. Wajahnya kesal setengah mati.

Bams tertawa, “Suruh dia duduklah Sep. Tadi pagi kan lo udah nolongin dia. Kasih Jihan bales kebaikan lo. Dia kan niat baik mau bilang makasi.”

Septian lalu berdiri, tidak suka kalau sudah teman-temannya mulai mendesak namun saat berbalik di depannya ada Jihan. Cewek itu memandangnya bingung.

“Minggir. Lupain aja yang tadi pagi.” Jihan terkejut karena ucapan Septian. Cowok itu malah menghindarinya.

“IH TAPI KAN—KOK GITU SSIIIIIH?!” Jihan menarik tangan Septian.

“Ya udah tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

“Gue jadi pacar lo ya?”

“Pacaran aja sana sendiri.”

Septian memandangnya dengan wajah tidak suka lalu melepas tangan Jihan. Cewek ini harus diberi pelajaran biar berhenti berbuat seenaknya.

“Ayolah Septian.”

“Dalam mimpi lo.”

“Gue cuman mau ngajakin lo makan kok sekarang. Sumpah!”

“Kasian ya Jihan mana masih muda,” ujar Jordan.

Septian tidak lagi menghiraukannya. Ia meninggalkan Jihan. Jihan lalu berlari mengejarnya sampai ke pintu kantin.

“SEPTIAN! KAPAN SIH GUE DITERIMA?!”

“Kapan-kapan,” balas Septian judes.

“YA KAPAN-KAPANNYA KAPAN?!”

*****